http://sejarah10-usk.blogspot.com/

Senin, 17 Desember 2012

Latar belakang kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia: Latar belakang kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia: Jatuhnya kota Konstantinopel (Ibu Kota kerajaan Romawi Timur) ke tangan Turki Usmani tahun 1453,kemudian bangsa Turki menutup Konstantinopel untuk orang Eropa akibatnya di Eropa terjadi kelangkaan rempah-rempah, maka mulailah mereka mencari Negeri asal rempah-rempah. Tujuan kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia : 3 G : 1. GOLD, mencari kekayaan (rempah-rempah) 2. GLORY, mencari Kejayaan (menjajah) 3. GOSPEL, menyebarkan agama Nasrani. PELOPOR PENJELAJAHAN SAMUDRA : A. Portugis 1. Bartolomeos Diaz 1486 Bertolak dari Lisabon (Portugis),bergerak kearah selatan menyusuri pantai barat Afrika,sampai di ujung selatan benua Afrika, yang kemudian diberi nama Tanjung Harapan, kemudian Bartolomeos Diaz kembali lagi ke Portugis karena ada gelombang/badai yang besar. 2. Vasco da Gama 1498 Bertolak deri Lisabon,kearah selatan menyusuri pantai barat Afrika,sampai di ujung selatan benua Afrika, kemudian melanjutkan perjalanan sampai di Calicut India. 3. Alfonso D’Albuquerque Berhasil menaklukan Malaka tahun 1511. Kemudian Maluku jatuh ke tangan Portugis 1512. B. Spanyol 1. Christophorus Colombus (1492) Bertolak dari Spanyol kearah barat,mengarungi samudra Atlantik, sampai di kepulauan Bahama (Karibia), dia mengira telah sampai di Hindia, maka peduduk pulau tersebut diberi nama Indian. 2. Expedisi Magellan-Canno (1521) Bertolak dari Spanyol kearah barat mengarungi samudra Atlantik, menyusuri pantai timur Amerika, sampai diujung selatan benua Amerika, kemudian mengarungi samudra Pasifik yang sangat luas dan tenang, sampai di Massava (Pilifina), disana Ferdinand Magellan tewas oleh orang Mactan, kemudian sisa pasukan di bawah pimpinan Yuan Sebastian Del Canno melanjutken perjalanan ke Kalimantan, Maluku, dan pulang ke Spanyol lewat Tanjung Harapan. Dasar / landasan yang dipakai dalam penjelajahan samudra adalah Perjanjian Tordesillas (Paus Alexander VI),Yang berisi pembagian wilayah/arah penjelajahan samudra, Portugis kearah Timur, Spanyol kearah Barat. Akibat bertemunya Portugis dan Spanyol di Maluku, maka muncul perjanjian SARAGOSA 1526 yang isinya: Pembagian wilayah operasional perdagangan, Portugis di Maluku, sedangkan Spanyol di Filipina. C. Belanda Jalur pelayaran Belanda tidak sama dengan Portugis karena ada petunjuk jalan dari Jan Huygen Van Liscoten, mantan pelaut Belanda yang bekerja pada Portugis. 1. Cornelis de Houtman (1596),menempuh perjalanan Ke Tanjung Harapan, kemudian dilanjutkan sampai di Banten. Kedatangannya ditolak oleh rakyat Banten karena Cornelis de Houtman bersikap kasar dan sombong. 2. Jacob Van Neck (1598),kedatangannya disambut baik oleh rakyat Banten. BERDIRINYA VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) VOC berdiri pada tanggal 20 Maret 1602 dengan Gubernur Jendral pertamanya Pieter Both. Tujuan didirikannya VOC : 1. Menghindari persaingan dagang antar sesama pedagang Belanda. 2. Memonopoli rempah-rempah di Hindia Timur. 3. Menghadapi persaingan dengan para pedagang asing. 4. Menghadapi kerajaan-kerajaan di Indonesia. VOC mempunyai hak OCTROY yaitu Hak paten yang diberikan pemerintah Kerajaan Belanda kepada VOC yang berisi : 1. Hak untuk memerintah di Negara jajahan 2. Hak untuk memonopoli perdagangan 3. Hak untuk mencetak mata uang sendiri 4. Hak untuk memiliki angkatan perang sendiri 5. Hak untuk memiliki senjata 6. Hak untuk mengadakan perjanjian 7. Hak untuk mengumumkan perang. Keadaan Indonesia pada masa pemerintahan Gubernur Jendral JAN PIETERSZOON COEN 1619, VOC memindahkan kantor dagangnya ke Jayakarta, dengan alasan : 1. Jayakarta merupakan tempat yang sangat strategis 2. VOC akan dengan mudah mengawasi gerak gerik Portugis di Malaka. VOC menghancurleburkan kota Jayakarta, dan diatas reruntuhan kota Jayakarta berdirilah kota BATAVIA. Aturan Monopoli VOC : 1. Rakyat Maluku hanya boleh menanam rempah rempah atas izin VOC 2. Luas wilayah perkebunan dibatasi oleh VOC 3. Harga jual ditentukan VOC 4. Tempat menanam rempah rempah ditentukan VOC Strategi VOC dalam mengendalikan Monopoli: 1. Hak Ekstirpasi, yaitu hukuman begi para pelanggar monopoli perdagangan. 2. Pelayaran Hongi yaitu, Pelayaran bersenjata lengkap yang dilakukan VOC untuk mengawasi jalannya monopoli perdagangan. PERLAWANAN RAKYAT: 1. MALUKU Portugis berhasil diusir oleh rakyat Maluku yang di Pimpin oleh Sultan BAABULLAH DAUD SYAH, sebelumnya Portugis berhasil membunuh Sultan Khairun 2. ACEH Perlawanan rakyat Aceh melawan Portugis yang paling terkenal dipimpin oleh SULTAN ISKANDAR MUDA tetapi tetapi tidak berhasil. 3. MALUKU Perlawanan rakyat Maluku melawan VOC tapi tidak berhasil megusir VOC. 4. MATARAM Perlawanan Mataram melawan VOC di Batavia tejadi dua kali pada masa pemerintahan SULTAN AGUNG tetapi gagal,karena pasukan Mataram kelelahan, dan VOC membakar lumbung-lumbung padi milik pasukan Mataram. 5. BANTEN Perlawanan rakyat Banten melawan VOC dipimpin oleh SULTAN AGENG TIRTAYASA,tetapi dengan Politik Devide Et Impera antara Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa, akhirnya Banten takluk pada VOC. 6. MAKASAR Perlawanan rakyat Makasar melawan VOC dipimpin oleh SULTAN HASANUDIN, tetapi karena diadudombakan dengan ARU PALAKA, akhirnya Makasar takluk. Lahirlah perjanjian BONGAYA 1667. FAKTOR PENYEBEB KEBANGKRUTAN VOC: 1. Korupsi yang merajalela dikalangan pegawai VOC. 2. Banyak pegawai VOC yang tidak cakap bekerja. 3. VOC benyak menanggung hutang akibat peperangan. 4. Banyak prajurit VOC yang meninggal. 5. Luas wilayah tidak sebanding dengan jumlah pegawai VOC yang sedikit. 6. Tidak jalannya Verplichte Leverantien (penyerahan wajib) dan Preanger Stelsel (aturan Priangan). PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA A. Gubernur Jendral Daendels (1808-1811) Tugas utamanya: 1. Mempertahankan pulau Jawa dari ancaman Inggris 2. Memberantas korupsi dan penyelewengan 3. Menjadikan Batavia sebagai pusat pemerintahan 4. Merombak system pemerintahan Feodal, diganti dengan system pemerintahan Barat modern. 5. Menjadikan para penguasa daerah sebagai pegawai Pemerintah kolonial. Langkah-langkah yang ditempuh Daendels untuk mempertahankan Pulau Jawa : 1. Menambah jumlah Prajurit. 2. Membangun kapal-kapal perang baru 3. Membangun jalan raya Pos dari Anyer sampai Panarukan. B.Gubernur Jendral Janssens (1811) Janssens ternyata hanya seorang Gubernar yang lemah Terbukti hanya mempu bertahan 3 bulan,dan Indonesia jatuh ketangan Inggris. C.Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles Raffles berkuasa tahun 1811-1816, jasa-jasanya diantaranya: 1. Penemu bunga raksasa Rafflesia-Arnoldi 2. Perintis berdirinya Kebun Raya Bogor 3. Penggagas Lend Rent (sistim pajak tanah),tapi Gagal dilaksanakan karena : - Masyarakat Indonesia belum mengenal sistim ekonomi uang. - Tidak adanya dukungan dari Bupati Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) adalah Kewajiban menanam jenis-jenis tanaman tertentu yang laku dipasaran Internasional,kemudian hasilnya diserahkan kepada pamarintah Belanda. Tanam Paksa dianjurkan oleh Gubernur Jendral VAN DEN BOSCH, dengan tujuan untuk menutupi hutang-hutang Belanda yang sangat devisit. Dalam pelaksanaannya Tanam Paksa ternyata jauh menyimpang dari ketentuan, dan sangat merugikan rakyat Indonesia. Akibat Tanam Paksa : A. Bagi Belanda, - Positif : Memperoleh keuntungan besar. - Negatif : Mendapat kecaman dari anggota Dewan. B. Bagi Indonesia - Positif : Rakyat Indonesia menjadi tahu tentang cara bertani yang baik dan benar,juga mengetahui jenis-jenis tanaman yang leku dipasaran Internasional. - Negatif : banyak rakyat Indonesia yang menderita, kelaparan, meninggal dunia. Tokoh-tokoh penentang Tanam Paksa : 1. Baron Van Hoevell 2. Douwes Dekker (buku Max Havelar) 3. Fransen Van Der Putte (Zucker Contracten) Undang-Undang Agraria 1870, diberlakukan dengan tujuan : 1. Memberikan peluang/ kesempatan kepada para pengusaha swasta asing untuk berusaha dan menanamkan modalnya di Indonesia. 2. Melindungi hak para petani dari ancaman penguasaan bangsa Asing. PENYEBARAN AGAMA KRISTEN MELALUI: 1. MISI, penyebar agama Katolik (Franciscus Xaverius) 2. ZENDING, penyebar Protestan (Ludwig J Namenson) PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA MELAWAN KOLONIAL BELANDA 1. PERLAWANAN SAPARUA (1817) Latar belakangnya karena Pemerintah Kolonial Belanda memberlakukan kembali penyerahan wajib dan wajib kerja. Tokoh perlawanan : Thomas Matulesia (Patimura), Anthony Reebok, Philip Latumahina,Danoiel S. 2. PERANG PADRI (1821 – 1837) Latar belakangnya karena muncul gerakan Wahabiah di Sumatera Barat, yang bertujuan memurnikan kehidupan Islam (kaum Padri),tapi mereka mendapat tentangan dari kelompok Penghulu (kaum Adat), Belada memihak kaum Adat. Tokoh perlawanan : Muhammad Syahab (Imam Bonjol), Tuanku Nan Cerdik, Tuanku Tambusai, Tuanku Nan Alahan. 3. PERANG DIPONEGORO (1825 – 1830) Penyebab khusus : Belanda menancapkan patok-patok pada Makan leluhur Pangeran Diponegoro, tanpa seizing beliau, yang akan dibuat jalan melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro. Penyebab umum : Belanda terlalu jauh ikut campur dalam Kerajaan, kebiasaan minum miniman keras sudah masuk ke kalangan istana. Tokoh Perlawanan : Pangeran Diponegoro, Kyai Maja, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, Pangeran Mangkubumi. 4. PERANG ACEH (1873 – 1904) Latar belakang : Dibukanya Terusan Suez menjadikan Aceh semakin strategis dalam perdagangan Internasional, Adanya Traktat Sumatra, dimana Belanda boleh memperluas wilayah jajahannya ke Aceh, maka Aceh mempersiapkan diri untuk berperang. Tokoh Perlawanan : Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Teuku Ibrahim, Teuku Umar. 5. PERANG BANJAR (1858 – 1866) Latar Belakang : Belanda ikut campur dalam penggantian Tahta kerajaan. Tokoh Perlawanan : Pangeran Prabu Anom, Pangeran Hidayat, Pangeran Antasari. 6. PERANG JAGARAGA (1849 – 1906) Latar belakang : Adanya sengketa antaraBelanda dengan raja Bali, mengenai hak Tawan Karang kapal Belanda yang terdampar di Bali. Tokoh perlawanan : Raja Buleleng, Gusti Gde Jelantik (Patih Buleleng), Raja Karangasem. GERAKAN PROTES PETANI 1. Ciomas, Jawa Barat (1886) : Muhammad Idris. 2. Condet,Jakarta Timur (1916): Entong Gendut. 3. Tangerang (1942) : Kaiin. 4. Sidoarjo, Jawa Timur (1903) : Kyai Kasam Mukmin 5. Kediri (1907) : Dermojoyo. 6. Gerakan Ratu Adil. POLITIK PINTU TERBUKA Yaitu Kebijakan pemerintah Kolonial Belanda yang memperbolehkan para pengusaha swasta asing selain Belanda untuk berusaha dan menanamkan modalnya di Indonesia. POLITIK ETIS Yaitu kebijakan pemerintah Kolonial Belanda untuk melakukan balas budi kepada Indonesia yang dianggap telah berjasa terhadap Belanda. Pelopor Politik Etis adalah Van Deventer. ISI POLITIK ETIS : 1. Edukasi : menyelenggarakan Pendidikan 2. Irigasi : sarana Pengairan 3. Transmigrasi : perpindahan Penduduk. Dalam pelaksanaannya, Politik Etis banyak menyimpang dari ketentuan, sebagai contoh, dalam Pendidikan bertujuan hanya untuk mencari tenaga kerja yang Terdidik dan murah KESADARAN NASIONAL INDONESIA Yaitu mulai tumbuhnya rasa senasib sepenanggungan dikalangan rakyat Indonesia untuk bisa bersatu, mencintai Tanah Air, dan bisa lepas dari penjajahan. FAKTOR PENDORONG LAHIRNYA KESADARAN NASIONAL INDONESIA ADALAH : 1. INTERNAL : - Lahirnya golongan Terpelajar - Penderitaan rakyat yang terus menerus akibat penjajahan. 2. EKSTERNAL : - Kemenangan Jepang atas Rusia 1905 - Terpengaruh oleh gerakan Nasional di negara lain (India, Filipina, Mesir) ORGANISASI-ORGANISASI YANG BERDIRI : 1. BUDI UTOMO Berdiri tanggal 20 Mei 1908, dirintis oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Didirikan oleh dr. Soetomo,Goenawan, Cipto Mangunkusumo, R.T.Ario Tirtokusumo. Budi Utomo bersifat Sosial dan Budaya. 2. SAREKAT DAGANG ISLAM (SDI) Berdiri tahun 1909, didirikan oleh K.H.Samanhudi Tujuannya : membangun kekuatan baru dalam perdagangan untuk melawan dominasi para pedagang dari Cina. Sarekat Islam bercorak Ekonomi dan Agama. Tahun 1911 SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) 3. INDISCHE PARTIJ (IP) Didirikan pada tahun 1912 di Bandung oleh Tiga Serangkai yaitu : Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo,dan Suwardi Suryaningrat. Bertujuan untuk menyatukan semua golongan masyarakat di Indonesia dalam semangat nasionalisme menuju Indonesia Merdeka. Indische Partij bercorak POLITIK. 4. MUHAMMADIYAH Didirikan di Yogyakarta tanggal 18 November 1912 Oleh K.H. Ahmad Dahlan. Bertujuan mengembangkan ajaran agama Islam, memberantas ketidakbenaran. Muhammadiyah bercorak Agama. 5. PERHIMPUNAN INDONESIA (PI) Berdiri tahun 1925, Tokoh PI antar lain : Mohammad Hatta, Ali Sastroamijoyo,Abdulmajid Joyodiningrat, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, Sartono,Gunawan Mangunkusumo, Nazir Datuk Pamuncak. 6. PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI) Berdiri tanggal 23 Mei 1920, tokohnya antara lain : Semaun dan Darsono. PKI berpegang teguh pada kebijakan KOMINTERN. PKI berjuang dengan cara Membuat kerusuhan, pemberontakan, dan pemogokan. 7. PARTAI NASIONAL INDONESIA (PNI) Berdiri tanggal 4 Juli 1927 di Bandung dibawah pimpinan Ir. Soekarno. PNI bercorak Politik. Tujuan PNI : Mencapai Indonesia Merdeka dengan usaha sendiri. Ideologi PNI : MARHAENISME. 8. PERSATUAN BANGSA INDONESIA (PBI) Berdiri tahun 1930 di Surabaya, tokohnya dr.Soetomo. PBI menitikberatkan pada usaha memperbaiki kesejahteraan rakyat, membentuk serikat pekerja, Koperasi, pengajaran dan pendidikan. Pada tahun 1935, PBI dan Budi Utomo bergabung membentuk PARINDRA (Partai Indonesia Raya). 9. GABUNGAN POLITIK INDONESIA (GAPI) Berdiri tanggal 21 Mei 1939 di Jakarta. Tokoh GAPI antara lain Muhammad Husni Thamrin, Amir Syarifuddin, Abikusno Cokrosuyoso. GAPI menyerukan Indonesia berparlemen. SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928 Berawal dari Kongres Pemuda Indonesia I di Jakarta tanggal 30 April 1926, dalam kongres itu Mohammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa persatuan Indonesia. Kongres Pemuda II berlangsung tanggal 27, 28 Oktober 1928, menghasilkan SUMPAH PEMUDA, ditetapkannya lagu Indonesia Raya, dan bendera Merah Putih sebagai bendera Nasional. BENTUK PERJUANGAN PERGERAKAN NASIONAL : 1. Perjuangan Kooperasi/kerjasama, dilakukan dengan cara kerjasama dengan Penjajah,tetapi tidak melupakan tujuan utmanya, Indonesia Merdeka. 2. Perjuangan Non Kooperasi/tidak bekerjasama, cara yang digunakan lebih radikal. 3. Gerakan di bawah Tanah yaitu gerakan yang dilaksanakan secara rahasia, yang dipimpin oleh Sutan Syahrir. PERANAN PERS DAN WANITA DALAM PERGERAKAN NASIONAL A. Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Pers/media masa pada saat perjuangan sangat berperan dan dibutuhkan masyarakat. Pers lahir dan berkembang sejalan dengan berdirinya organisasi pergerakan Nasional Indonesia. Contoh Pers : Darmo Kondo, Oetosan Hindia, De Express, Hindia Poetra/Indonesia Merdeka. B. Peranan Wanita dalam Pergerakan Nasional Dalam pergerakan Nasional, peranan Wanita sangat terasa, mereka bergerak, baik secara perorangan, maupun organisasi. Pelopor pergerakan Wanita : R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis, REVOLUSI AMERIKA Latarbelakang kedatangan bangsa Eropa ke Amerika : 1. Faktor Politik Di Eropa pada abad ke 17 tidak ada kebebasan berpolitik, Raja berkuasa absolute, sewenang-wenang. Mereka yang ingin mendapatkan kebebasan politik memilih pindah ke Amerika. 2. Faktor Agama Di Eropa pada abad ke 17 tidak ada kebebasan beragama, golongan Puritan selalu tertindas oleh golongan Anglikan, mereka yang ingin mendapatkan kebebasan beragama memilih pindah ke Amerika. 3. Faktor Ekonomi Di Eropa pada abad 17 masyarakat hidup terkekang, tidak ada kebebasan dalam ekonomi, raja bertindak semena-mena, mereka yang ingin mendapatkan kebebesan dalam Ekonomi memilih pindah ke Amerika. 4. Faktor Sosial Akibat Revolusi Industri di Inggris banyak terjadi pengangguran, kejahatan, yang berakibat penuhnya penjara-penjara di Inggris oleh tahanan. Sebagian dari narapidana diasingkan ke Amerika. Terbentuknya Koloni-koloni Inggris di Amerika Utara Koloni adalah daerah tempat pemukiman para Imigran. Nama-nama koloni : Virginia, New Hampshire, Georgia, Massachusets, Rhode Island, Connecticut, New York, New Jersey, Pennsylvania, Delaware, Maryland, North Carolina, South Carolina . LATAR BELAKANG PEMBERONTAKAN KOLONI : 1. Perang Tujuh Tahun 2. Kebijakan baru Pemerintah Inggris pada Koloni 3. No Taxation Without Representetion 4. Kongres Kontinental 5. Boston Tea Party TOKOH-TOKOH PERJUANGAN AMERIKA: 1. George Washington 2. Thomas Jefferson 3. John Adams 4. James Wilson 5. Alexander Hamilton. 6. Samuel Adam 7. Benjamin Franklin Deklarasi kemerdekaan Amerika serikat terjadi pada tanggal 4 Juli 1776. Pengaruh Revolusi Amerika adalah mulai ditegakannya faham Demokrasi, banyak Negara-negara terjajah yang memberontak dan merdeka. REVOLUSI INDUSTRI DI INGGRIS Revolusi Industri adalah Perubahan secara cepat tentang cara-cara pembuatan barang, yang tadinya menggunakan tenaga manusia (manufacture), diganti menggunakan tenaga mesin. Latar belakang terjadinya revolusi Industri : 1. Inggris kaya akan sumberdaya alam dan SDM 2. Inggris memiliki Koloni yang luas 3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 4. Perkembangan system ekonomi liberal 5. Revolusi Agraria DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI : 1. Kapitalisme 2. Pengambilalihan Tanah untuk lahan Industri 3. Imperialisme Modern yaitu nafsu untuk menjajah daerah lain untuk kepentingan Industri. REVOLUSI PRANCIS Revolusi Prancis terjadi pada tanggal 14 Juli 1789. Faktor penyebab Revolusi Prancis : 1. Pembedaan Kelas/Kasta dalam masyarakat. 2. Kebangkrutan Pemerintahan Monarki Absolut. 3. Lahirnya para pemikir-pemikir baru tentang Negara : - Montesquieu (1689-1755) - Jean Jacques Rousseau (1712-1778) - Voltaire (1694-1778). 4. Terpengaruh oleh Revolusi Amerika. Dampak Revolusi Prancis : 1. Politik, faham Liberalisme semakin berkembang, Pemakaian Undang-undang, banyak bermunculan Negara berbentuk Republik. 2. Ekonomi, sistim ekonomi Merkantilisme dirubah menjadi Liberal, petani menjadi pemilik tanah, sistim paja feudal dihapuskan. 3. Sosial,feodalisme dalam kasta dihapuskan, hak asasi manusia lebih ditegakan, hak milik rakyat dilindungi, semua warga Negara punya hak sama dalam Pendidikan. Pada Revolusi Amerika, Prancis membantu perang kemerdekaan Amerika yang dipimpin Jendral Lafayette. PERANG DUNIA I Perang Dunia I terjadi tahun 1914-1918. Penyebab Khusus Perang Dunia I : Terbunuhnya Putra Mahkota Austria-Honggaria yang bernama Franz Ferdinand di Sarajevo, oleh seorang mahasiswa Serbia yang bernama Gabriel Princip. Penyebab Umum Perang Dunia I : 1. Berkembangnya Nasionalisme. 2. Persaingan Politik dan Ekonomi. 3. Pembentukan Aliansi Militer 4. Perlombaan dalam bidang senjata Akhir dari Perang Dunia I adalah Triple Alliance kalah, maka munculah Perjanjian Versailles 1919 yang isinya sangat memberatkan Jerman dan Sekutunya. Tokoh-tokoh yang merancang perjanjian Versailles : Woodrow Wilson (USA), Lioyd George (Inggris), Georges Clemenceau (Prancis), dan Vittorio Orlando (Italia). Jepang dalam Perang Dunia I memihak Sekutu, karena Jepang menginginkan wilayah jajahan Jerman di Tiongkok Selatan yang kaya akan biji besi. Akibat Perang Dunia I : 1. Terjadi Krisis Ekonomi Dunia (Malaise) 2. Lahir Negara-negara baru di Asia dan Eropa. 3. Perekonomian dikendalikan oleh Negara (etatisme) 4. Peranan buruh makin kuat. 5. Lahir Liga Bangsa-bangsa (LBB). PERANG DUNIA II (1939 – 1945) Faktor penyebab Khusus Perang Dunia II adalah : 1. Serbuan kilat Jerman kepada Polandia, sebuah Negara yang baru merdeka dan masih berada di bawah pengawasan LBB, pada tanggal 1 September 1939. 2. Serbuan pasukan Jepang terhadap Pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawaii) pada tanggal 7 Desember 1941. Faktor penyebab Umum Perang Dunia II : 1. Perlombaan menciptakan senjata baru. 2. Politik balas dendam Jerman kepada sekutu. 3. Kegagalan LBB dalam mencegah perang. 4. Munculnya faham UltraNasionalisme/Fasis. 5. Timbulnya Pemerintahan Diktator. Faham UltraNasionalis adalah : suatu faham yang terlalu mencintai dan terlalu membanggakan Negara sendiri. Faham Ultra Nasionalis berkembang di Negara-negara : 1. Jerman (Nazi) di bawah pimpinan Adolf Hitler 2. Jepang di bawah pimpinan Kaisar Hirohito 3. Italia di bawah pimpinan Benito Musollini. Perang Dunia II terbagi dalam 2 blok : 1. Blok Sekutu : Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, Australia, Belanda, dll 2. Blok Sentral : Jerman, Jepang, Italia, Turki, Mesir. Diawal pertempuran, blok Sentral banyak mengalami kemenangan, tetapi selanjutnya blok Sentral terus menerus mengalami kekalahan. Politik Agresi militer : Italia (Italia Iredenta), Jerman (Lebensraum), Jepang (Hakko-Ichi-U) AKIBAT PERANG DUNIA II : A. Bidang Politik 1. Muncul dua Negara Adikuasa (Super Power) yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. 3. Timbul Perang Dingin antara NATO dengan PAKTA WARSAWA 4. Munculnya Negara-negara merdeka di Asia. B. Bidang Ekonomi 1. Tampilnya Amerika Serikat sebagai kekuatan Ekonomi baru 3. Perekonomian dunia terbagi atas : Sistem Ekonomi Liberal, System Ekonomi Terpimpin/Komando, dan Sistem Ekonomi Campuran. C. Bidang Sosial 1. Munculnya Gerakan Sosial. 2. Munculnya Lembaga Internasional untuk menjaga dan Memelihara perdamaian dunia, yang dipelopori oleh Franklin Delano Roosevelt (AS), Herry S. Truman (Inggris), Winston Churchill (Inggris), Joseph Stalin (Uni Soviet). KEBANGKITAN BANGSA-BANGSA ASIA AFRIKA Latar belakang Kebangkitan Negara-negara ; A. Faktor Ekstern : 1. Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905 2. Terpengaruh Gerakan Nasinal Negara lain B. Faktor Intern : 1. Munculnya Golongan Terpelajar 2. Penderitaan Rakyat yang terus menerus akibat penjajahan. KEBANGKITAN NASIONAL INDIA Pemberontakan bersenjata (1857-1859) terkenal dengan The Great Indian Mutiny, dengan tujuan mengusir EIC dari India dan mengembalikan kekuasaan Moghul. Gerakan Sosial Keagamaan dan Pendidikan : - Brahma Samaj (Rammohan Roy dan Dwarakanath Tagore) Bertujuan menghapus Kasta dan trdisi kuno yang bertolak belakang dengan kemanusiaan. - Santiniketan (Rabindranath Tagore), tujuannya adalah menanamkan rasa cinta Tanah Air dan budaya India. Gerakan Politik, Kongres India (All Indian National Congress). didirikan oleh Allan O. Hume 1885, Tokoh-tokohnya : Mahatma Gandhi, Pandit Jawaharlal Nehru, dan Bal G. Tilak. Dari kalangan Islam : Muhammad Ali Jinnah, Iskandar Mirza, dan Liquat Ali Khan. Geraka yang dilakukan Mahatma Gandhi : 1. Ahimsa : Gerakan melawan tanpa kekerasan 2. Satya Graha : Menolak Kerjasama dengan Inggris. 3. Hartal : Mogok bersama jika terjadi kekerasan. 4. Swadeshi : Gerakan membuat dan menggunakan Bakah-bahan buatan dalam negeri, untuk menghancurkan industri Inggris. India merdeka penuh tanggal 26 Januari 1950, dengan Presiden pertamanya RAJENDRA PRASAD. GERAKAN TURKI MUDA Gerakan Turki muda muncul pada tahun 1890-an sebagai reaksi atas kemerosotan Turki dan pemerintahan Totalitarian Sultan Abdulhamid II, gerakan ini dipelopori oleh golongan terpelajar. GERAKAN NASIONAL TURKI Dipimpin oleh Mustapha Kemal Pasha, seorang pahlawan dalam Perang Dunia I, beliau menghapuskan pemerintaha Monarki, dan pada tanggal 29 Oktober 1923, Turki berubah menjadi Republik. Pembaharuan Mustapha kemal Pasha : 1. Konstitusi Negara disesuaikan dengan Barat. 2. Urusan Agam dan Nagara dipisahkan. 3. Huruf Arab diganti dengan huruf latin 4. Sistim Ekonomi dikendalikan Negara (komando). 5. Membangun Industri yang modern. Mustapha kemal Pasha terkenal dengan julukan ATTATURK (Bapak Bangsa Turki). KEBANGKITAN NASIONAL CINA Berwal dari masuknya Inggris ke Cina melalui Perang Candu tahun 1842. Nasinalisme Cina dipimpin oleh golongan Terpelajar, dipelopori oleh Dr. Sun Yat Sen. Pada tanggal 10 Oktober 1911 melakukan revolusi di Wuchang (The Double Ten Day), Cina menjadi Negara Republik. Dasar Negarnya SAN MIN CHU-I (Nasionalis, Demokratis,dan Sosialisme). Dr. Sun Yat Sen meninggal pada tahun 1925, pipinan partai Kuomintang dipegang oleh Chian Kai-Shek, tahun 1928, Kuomintang berhasil menyatukan Cina. Lawan dari Partai Kuomintang adalah Partai Kun Chan Tang (Komunis). KEBANGKITAN NASIONAL FILIPINA Nasionalisme Filipina dipelopori oleh golongan Terpelajar seperti : Jose Rizal, Graciano Lopez Jaena, Marcelo H. del Pilar dan Antonio Luna. Pada tahun1896, Filipina bangkit melawan Spanyol, dengan bantuan Amerika akhirnya dapat Mengalahkan Spanyol. Tetapi Amerika malah mejajah Filipina. Pada tanggal 4 Juni 1946, Filipina secara resmi menjadi Republik Merdeka,dengan Presiden pertamanya MANUEL ROXAS. KEBANGKITAN NASIONAL MESIR Nasionalisme Mesir dipelopori oleh para Cendikiawan, tahun 1907 mereka membentuk Kongres Nasional yang dipimpin Musthapa Kamil. Pada tahun 1922, Inggris memberikan kemerdekaaan kepad mesir, tetapi Inggris masih tetap memegang kendali pemerintahan. Pada bulan Juni 1953, Mesir dideklarasikan sebagai Negara Republik dengan Presidennya Muhammad Naguib. MASA PENDUDKAN JEPANG DI INDONESIA Tujuan jepang manguasai Indonesia : 1. Menjadikan Indonesia sebagai sumber pemasok bahan-bahan mentah bagi industri Jepang. 2. Menggalang rakyat Indonesia untuk menjadi bagian dari kekuatan membendung pasukian Sekutu. Jepang mulai mendarat di Indonesia pada tanggan 1 Maret 1942, dan pada tanggal 9 Maret 1942, Jepang mengalahkan Belanda (Jendral Ter Poorten),pimpinan Jepang adalah Jendral Imamura. Pada saat Jepang masuk ke Indonesia mereka disambut dengan bangga oleh rakyat Indonesia, karena Jepang mempropagandakan GERAKAN 3 A (Nipon Cahaya Asia, Pelindung Asia, Pemimpin Asia). Setelah 3 A gagal, muncul PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), kemudian diganti lagi menjadi JAWA HOKOKAI (Perhimpunan Kebaktian Masyarakat Jawa) yang bertuas untuk menggalang seluruh potensi yang ada di masyarakat agar bisa membantu Jepang sepenuhnya. Pada masa penjajahan jepang ternyata rakyat lebih sengsara, mereka bertindak sangat kejam, tidak punya rasa perikemanusiaan. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM : Seluruh Sumber Daya Alam Indonesia dikerahkan untuk kepentingan Jepang ,demi kemenangan dalam perang Perang Asia Timur Raya. EKSPLOITASI SUMBER DAYA MANUSIA Rakyat Indonesia benyak dijadikan ROMUSHA (pekerja paksa),tanpa memperhatikan hak dan kesehatannya, banyak juga rakyat Indonesia yang dipekerjakan di luar negeri. Maereka semuanya diperas tenaganya, lading, sawah milik mereka banyak yang terbengkalai tidak terurus. Untuk menghadapi Sekutu maka dibentuklah : 1. Seinendan (Barisa Pemuda) 9 Maret 1943 2. Fujinkai (himpunan Wanita) Agustus 1943 3. Keibodan (Barisan pembantu Polisi) 4. Organisasi Militer : HEIHO (Pembantu Prajurit), PETA (Pembela Tanah Air).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kajian tentang perang sejak tahun 1945 banyak mengungkap tipe dan bentuk konflik yang berbeda-beda. Penyebabnya tidak dapat diuraikan secara sederhana, dan hasilnya sering tidak dapat dimaknai dengan penjelasan sederhana tentang arti kemenangan dan kekalahan. Kondisi historis yang kompleks negara-negara di dunia telah menciptakan konfrontasi-konfrontasi kekerasan yang berkembang menjadi pemberontakan yang memaksakan perubahan terhadap “status quo”. Menyerah tanpa syarat sering menjadi jalan untuk “menghentikan permusuhan” tanpa ada satu pun pihak yang jelas mendapatkan kemenangan. Berbagai perang juga memunculkan pemimpin yang tidak konvensional (tidak biasa) bila dibandingkan dengan para pemimpin militer tradisional dalam konflik-konflik konvensional sebelumnya di era modern. Mao Tse Tung, Ho Chi Minh, dan Fidel Castro meraih kemenangan tanpa menggunakan manuver-manuver taktis yang dibakukan, senjata canggih maupun organisasi militer konvensional. Sedangkan Che Guevara memiliki pencapaian yang sangat jauh dibawah ketiga orang tersebut di atas. Akan tetapi dia memiliki posisi sebagai salah satu dari pemimpin revolusioner yang utama pada zaman sekarang. Kemansyhuran Che Guevara sebagai seorang pemimpin revolusioner berasal dari apa yang dia “perjuangkan”, kesediaannya untuk memberikan contoh dalam mengadakan pemberontakan sosial. Che Guevara menggunakan taktik perang gerilya, sebagai sebuah mekanisme reformasi dan alat utama pemberontak, perang gerilya telah ada seiring dengan perjalanan panjang sejarah. Perang gerilya sebagaimana bentuk peperangan lainnya diatur dengan seperangkat prinsip yang harus dipatuhi jika ingin berhasil dijalankan. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana gambaran umum biografi Che Guevara? 2. Apa latar belakang Che Guevara melawan penguasa otoriter di Kuba? 3. Bagaimana peranan Che Guevara dalam melawan penguasa otoriter di Kuba? 4. Bagaimana proses berakhirnya peranan Che Guevara dalam pemerintahan di Kuba? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui gambaran umum biografi Che Guevara. 2. Agar dapat mengetahui latar belakang Che Guevara melawan penguasa otoriter di Kuba. 3. Agar mengetahui peranan Che Guevara dalam melawan penguasa otoriter di Kuba. 4. Agar dapat mengetahui proses berakhirnya peranan Che Guevara dalam pemerintahan di Kuba. BAB II PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Biografi Che Guevara Ernesto Che Guevara dilahirkan pada tanggal 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina. Dan ia meninggal di Vallegrande 9 Oktober 1967 di eksekusi setelah tertangkap tentara Bolivia. Che Guevara adalah anak pertama dari lima bersaudara. Dia memiliki garis keturunan dari aristokrat Spanyol yang menjadi perwakilan raja di River Plate: orang Argentina itu sama dengan memiliki leluhur yang bertempat tinggal di Plymouth Rock. Ayahnya bernama Ernesto Rafael Guevara Lynch (memiliki garis keturunan maternal dari Irlandia), adalah seorang wirausahawan ulet yang sering berganti usaha sampai akhirnya menjalankan usaha tetap di bidang konstruksi bangunan. Sedangkan ibunya bernama Celia de la Serna Guevara, adalah seorang aktivis yang sangat giat dalam gerakan kiri di Amerika Latin dan orang yang sangat memenagaruhi orientasi politik Che Guevara. Kedua orangtua Che Guevara adalah pejuang kemerdekaan anti-fasis yang sangat loyal dan memiliki sikap egalitarian sangat kuat yang kemudian mereka tanamkan pada diri anak mereka. Rumah mereka memiliki perpustakaan yang terdiri dari 3000 lebih koleksi buku, dan Che Guevara yang menderita penyakit asma berat, ia sering menghabiskan masa-masa penyembuhannya dengan menbaca sejarah Amerika Latin dan berdiskusi tentang masalah-masalah sosial dan politik Argentina dengan ayahnya. Tahun 1930 keluarga Guevara pindah ke Cordoba, sebuah kota universitas kecil, setelah sempat tinggal beberapa tahun di Buenos Aires, dimana ayah Che Guevara tidak berhasil menjalankan sebuah bisnis konstruksi kapal di sana. Sebagai konsekuensi pergaulannya yang erat dengan kaum kiri, jalan hidup revolusioner Che Guevara memang telah ditakdirkan. Di sekolah menengah, Che Guevara bergabung dengan “Partido Union Democratica” dan “Comando Civico Revolucionario Monteagudo” yang merupakan kelompok-kelompok pemuda nasionalis yang keanggotaannya tersebut sering membuatnya terlibat perkelahian jalanan dengan para pemuda pandukung presiden Juan Peron. Dibawah pemerintahan Peron, perbedaan sosial dan ekonomi dalam masyarakat Argentina semakin parah. Dan diperparah lagi lagi dengan keadaan ekonomi yang tidak stabildan polarisasi politik yang kuat dalam kelompok-kelompok yang pro dan anti Peron. Che Guevara meninggalkan Cordoba saat berusia 19 tahun, untuk mengikuti studi pramedis di University of Buenos Aires. Tahun 1952 Che Guevara meninggalkan sekolah selama beberapa bulan untuk melakukan perjalanan keliling Amerika Latin. Dengan perjalanannya tersebut pengamatan Che Guevara semakin menguatkan keyakinannya bahwa golongan penguasa telah mengeksploitasi kaum miskin. Pada titik inilah Che Guevara memutuskan untuk membatalkan rencana berakrir di bidang kedokteran dan ia memilih mewujudkan perubahan revolusioner. Tahun 1954 Che Guevara berkunjung ke Guatemala bahkan dalam kata-katanya sendiri ia mengatakan bahwa “aku dilahirkan di Argentina, aku berperang di Kuba, dan aku mulai menjadi seorang revolusioner di Guatemala”. Dan setelah di Guatemala, Che Guevara menaiki kereta api dan menuju Kota Mexico, ia tiba di Mexico pada tanggal 21 September 1954. Pengalamannya di Guatemala meyakinkan Che Guevara bahwa janji dan slogan partai tidaklah cukup untuk menjalankan perubahan sosial. Menurutnya cara yang benar untuk melawan imperialisme dan tirani adalah melalui pemberontakan bersenjata. B. Latar Belakang Che Guevara Melawan Penguasa Otoriter di Kuba Kebutuhan paling utama dalam masyarakat adalah keadilan, yaitu jaminan bahwa hukum yang dirancang untuk menghilangkan konflik dan kompetisi dalam aktivitas manusia yang telah disepakati tidak akan dilanggar hanya karena seseorang telah mendapatkan keuntungan yang lebih atas orang lain. Jika prinsip dasar ini dilanggar, maka keinginan atas kebebasan, eksistensi diri dan kebahagiaan akan menyebabkan anggota-anggota dan mengarahkan tindakan agresif mereka terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab terhadap keadaan mereka. Masyarakat yang dipenuhi dengan eksploitasi manusia, korupsi, kesenjangan ekonomi, dan ketidakadilan sosial tidak akan bisa bertahan dan ditakdirkan untuk digulingkan oleh rakyat yang tertindas. Jika pemerintah gagal menjamin hak asasi warga negaranya atas hidup, kebebasan, dan mewujudkan kebahagiaan, atau gagal mewujudkan prinsip bahwa semua orang diciptakan sederajat dan diperlakukan secara adil, maka “Hak rakyat untuk mengganti atau mengakhiri sebuah pemerintahan” baik dengan cara damai maupun dengan kekerasan. Dinegara-negara berkembang, bentuk kekerasan paling umum yang digunakan untuk mengganti rezim dan institusi politik yang berusaha melanggengkan kekuasaannya adalah dengan perang gerilya revolusioner, maka kekerasan massa biasanya menjadi satu-satunya jalan untuk mengantikan pemerintahan status quo. Akar penyebab terjadinya perang gerilya adalah adanya ketidakadilan nyata yang dirasakan masyarakat dimana sejumlah besar penduduknya memutuskan untuk tidak mengakui kewenangan pemerintah yang sah dalam menjalankan negara. Begitu juga pemberontakan yang dilakukan oleh Che Guevara. Che Guevara sebagai seorang masyarakat biasa tidak kuasa melihat kekerasan dan penindasan yang dialami oleh penduduk Kuba atas tindakan pemerintah. Maka karena hal itulah Che Guevara ingin menggulingkan pemerintahan yang sedang berkuasa saat itu yaitu pemerintahan Batista. Dan usaha itu berhasil dilakukan oleh Che Guevara dengan perang gerilya dan hal itu juga diperoleh berkat peran dari Fidel Castro dalam bekerjasama untuk menggulingkan pemerintahan Batista. C. Peranan Che Guevara dalam Melawan Penguasa Otoriter di Kuba Setelah Che Guevara mendapat pekerjaan sebagai dokter, melalui salah satu pasiennya ia bertemu dengan Fidel Castro pada bulan Juli 1955 di sebuah apartemen kecil di Calle Emparan 49 (yang nantinya terkenal sebagai markas umum Revolusi Kuba), kemudian Che Guevara dengan penuh semangat bergabung dengan gerakan revolusioner Fidel Castro sebagai dokter. Che Guevara berlatih di kelompok Castro dengan Kolonel Alberto Bayo, pelatihan yang diajarkannya yaitu taktik perang gerilya, dan keahlian menembak. Pada tahun 26 Juli 1953 Fidel Castro memimpin penyerangan pada Barak Militer Moncada di Santiago du Cuba, dalam sebuah usaha untuk menumbangkan rezim presiden Fulgencio Batista, namun pasukannya dikalahkan dengan cepat oleh pasukan pemerintah yang paham tentang rencana yang dibuat Castro. Ia pun dihukum 15 tahun penjara, namun secara ajaib dibebaskan melalui sebuah ketetapan amnesti umum untuk para tahanan politik tahun 1955. Disana castro dipertemukan dengan Che Guevara. Setelah bebas Castro pindah ke Mexico dan dia berencana kembali ke Havana dengan para ekspatriat dan pemimpin oposisi Kuba. Pada tanggal 25 November 1956 sekitar 82 orang meninggalkan Tuxpan di pantai timur Mexico dengan menaiki kapal layar Granma menuju Orienta, sebuah provinsi di Kuba dimana Castro dilahirkan. Diantara para pengikutnya tersebut, terdapat sahabat kepercayaannya yaitu Che Guevara yang menjadi salah satu tim dokter. Perjalanan yang sulit dengan sebuah kapal yang didesain hanya bisa mengangkut 20 orang, harus menghadapi cuaca buruk di laut namun akhirnya mendarat di pantai tenggara Kuba dekat Pegunungan Sierra Maestra pada tanggal 2 Desember 1956. Keterlibatan awal Che Guevara dalam pertempuran juga untuk menguji kekerasan hatinya dengan kesengsaraan yang sangat berat. Karena kombinasi pengkhianatan dan kesalahan fatal, pasukan gerilya Castro menemui bencana pada saat mendarat di Kuba. Mereka dikepung oleh tentara Batista. Kelompok yang awalnya terdiri dari 82 orang secara keji dibantai hingga tinggal 15 orang. Che Guevara sendiri menderita luka-luka ringan selama pertempuran tapi berhasil bertahan dengan mereka yang tersisa. Dengan kelompok kecil ini Castro mendirikan pusat operasi di pegunungan Sierra Maestra. Dan pasukan Castro melancarkan serangan-serangan kecil dan terbatas melawan angkatan darat Batista. Mereka mendapatkan kemenangan besar pertamanya pada tanggal 17 Januari 1957 dan berhasil menguasai sebuah pos angkatan darat di mulut sungai Plate (Plate River). Saat itu mereka berjumlah sekitar 17 orang menyerang pos yang berisi 15 tentara pemerintah pada pukul 02.40 pagi. Dalam satu jam pertempuran tersebut berakhir, tanpa mengalami kerugian apapun kelompok Castro berhasil membunuh dua tentara pemerintah, melukai lima orang dan menawan tiga prajurit, dan juga menguasai sebuah gudang senjata, amunisi, dan bahan makanan. Seiring meluasnya berita kemenangan itu, pasukan Castro mulai berkembang besar dengan adanya anggota baru. Dengan menjalankan taktik perang gerilya “hit and run”, para pemberontak mengecoh dan mengalahkan tentara Batista di seluruh wilayah provinsi Orienta.dan dikota-kota seluruh negeri terdapat sebuah gerakan besar bawah tanah yang menjalankan aksi-aksi sabotase untuk menjungkalkan pemerintah. Para pemimpin partai oposisi utama Kuba bertemu di Caracas, Venezuela, dan menandatangani sebuah deklarasi yang mendukung adanya kelompok Castro. Castro juga mendapatkan dukungan yang sangat luas dari para petani dan kaum urban kelas menengah di Kuba. Dan dukungan yang sangat kuat juga di dapat secara diam-diam dari sejumlah besar pihak angkatan darat Kuba yang membenci pertaturan diktator dan pemerintahan korup Batista. Saat pertama melakukan penyerangan ke Kuba, Che Guevara memutuskan dalam hatinya peran apa yang hendak ia jalankan dalam revolusi Kuba, sebagai dokter atau prajurit tempur. Dan ketika melarikan diri dengan teman-temannya yang tersisa, Che Guevara terpaksa mengambil sebuah pilihan simbolis, antara dedikasi pada kedokteran dan tugas sebagai seorang prajurit revolusioner, dan ia memutuskan untuk memilih sebagai seorang prajurit revolusioner. Kemenangan yang diperoleh Fidel castro tentu tidak dapat dilepaskan dari peran Che Guevara yang sangat menonjol dalam pertempuran-pertempuran revolusi dan dalam kepemimpinan perang yang hebat. Fidel Castro mulai memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada Che Guevara, yaitu pada bulan Maret 1957 Che Guevara di tunjuk sebagai Mayor yang memberikan komando atas sebuah pasukan yang terdiri dari 150 orang. Dan Pada Juli 1957, Che Guevara diangkat menjadi “Commandante”, pangkat tertinggi dalam pasukan pemberontak, dan diserahi komando atas pasukan lapis dua pasukan gerilya. Hingga kemudian dia pun bersama dengan Fidel Castro dan Raul Castro menjadi salah satu pemimpin utama gerakan revolusi. Che Guevara menunjukkan kepandaiannya dalam menjalankan perang gerilya dengan menyerang berbagai jalur komunikasi kunci dan mengadakan tekanan terus-menerus pada musuh serta secara cerdik menentukan kapan menyerang dan kapan mundur. Pada bulan Agustus 1958 Fidel memerintahkan pasukan Che Guevara untuk meninggalkan tempat perlindungan di Sierra Maestra dan memegang pemerintahan di provinsi pusat di Las Villas. Sepanjang perjalanan lebih dari 350 mil melewati wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintah, pasukan Che Guevara memenangkan beberapa pertempuran dan yang paling penting saat terjadi di ibu kota provinsi Santa Clara dalam bulan Desember. Pasukan Che Guevara juga diperkuat dengan sebuah pasukan tambahan pimpinan Camilo Cienfugosyang mengambil alih kota dan memusnahkan pasukan Batista diwilayah tersebut. Mendengar kekalahan itu, presiden Batista melarikan diri dari negara tersebut pada tanggal 1 Januari 1959. Tanggal 3 Januari pasukan Che Guevara dan Camilo memasuki Havana dan mengambil alih kendali kekuasaan kota dengan sedikit perlawanan dari pasukan pemerintah. Tanggal 2 Januari 1959 Fidel Castro menunjuk Che Guevara menjadi komandan di La Cabana Fortress untuk mengawasi pelabuhan Havana. Ini merupakan sebuah jabatan militer murni yang dijalani oleh Che Guevara selama delapan bulan. Pasukan Che Guevara menghadapi pertempuran revolusi terakhir dan menentukan di Santa Clara di pusat Kuba. Kota tersebut jatuh ke tangan Che Guevara pada tahun baru 1959. Dan Pada tahun ini juga, setelah Che Guevara mendapatkan kejayaan di Havana, ia mengawasi pembersihan tak kenal ampun dalam tentara Kuba yang di anggap turut andil dalam penindasan terhadap rakyat seperti halnya dengan tentara Guatemala yang gagal dalam mempertahankan negaranya melawan agresi imperialis. “Gerakan 26 Juli” memberi Che Guevara pemahaman yang lebih maju tentang perang gerilya. Pada usia 32 tahun, Che Guevara menjadi salah satu penasihat utama Castro dalam segala hal yang berkenaan dengan arah gerakan revolusioner Kuba. Bulan Oktober 1959, setelah terjadi banyak pengunduran diri dari beberapa menteri penting di kabinet yang kecewa dengan orientasi aliran kiri dan ideologi komunis Castro, ia menunjuk Che Guevara sebagai direktur Departemen Industrial pada National Institute of Agrarian Reform (INRA). Satu bulan kemudian, Che Guevara juga diserahi tugas sebagai presiden National Bank of Cuba. Dengan tanggung jawab yang diberikan Castro tersebut, Che Guevara memiliki kekuasaan yang sangat besar dalam rezim Castro. Ia mempunyai tanggung jawab dalam membuat kebijakan besar dalam bidang agrikultur, industri, dan keuangan. Salah satu dari program pertamanya adalah mengatur nasionalisasi perkebunan, memperluas tanah pertanian dan tanah hak milik, yang diyakini Che Guevara sebagai langkah pertama dalam revolusi agraria. D. Berakhirnya Peranan Che Guevara dalam Pemerintahan di Kuba Pada tahun 1960, Che Guevara menandatangani perjanjian perdagangan penting dengan Uni Sovyet, Cina, dan sejumlah negara-negara Blok Timur. Ekonomi Kuba kemudian mengalami tekanan sangat berat karena boikot ekonomi yang dilancarkan Amerika sebagai balasan dari tindakan Castro dalam pengambilalihan terhadap aset-aset pertanian, manufaktur, dan kilang minyak milik perusahaan Anglo-Amerika. Walaupun Che Guevara bisa bekerjasama dengan dua pihak Sovyet dan Cina sekaligus, namun ia menganggap Sovyet bersifat imperialistis dan telah kehilangan semangat revolusionernya, sehingga Che Guevara menaruh rasa hormat yang besar terhadap Cina yang menyebarluaskan ajaran-ajaran ideologisnya dan secara aktif mendukung gerakan-gerakan revolusioner di seluruh wilayah Dunia Ketiga. Tetapi hubungan Che guevara dengan Cina menimbulkan masalah besar bagi Castro yang lebih menyandarkan diri pada Sovyet untuk meyuplai sebagian besar bantuan ekonomi Kuba tetap berjalan dan mendukung negaranya secara militan. Sovyet dan kelompok komunis pro-moscow yang mendominasi rezim Castro memandang Che Guevara sebagai penganut radikal ajaran Mao yang bertujuan untuk mengobarkan revolusi di seluruh dunia tanpa memberi keuntungan bagi kepemimpinan partai. Pertarungan ideologis yang terjadi antara Moscow dan Peking tentang bagaimana masalah sosialisme dunia menjadi maju yang mencurigai Sovyet, mempertahankan rasa tidak suka dengan Cina yang disebabkan karena Kuba sangat intens berhubungan dengan Moscow. Maka Che Guevara kecewa dengan langkah lamban birokrasi baru Kuba untuk membuat perubahan-perubahan revolusioner. Karena rasa kekecewaannya, Che Guevara berencana meninggalkan pemerintahan. Pada tahun 1965 setelah berhasil meyakinkan Fidel Castro, Che Guevara membawa serta 125 orang Kuba pergi ke Kongo dan melatih pejuang pemberontak garis kiri untuk menumbangkan rezim pro-Barat Presiden Moise Tshombe. Kemudian Che Guevara mudur dari jabatan-jabatan pemerintahan dan melepaskan kewarganegaraan Kuba pada musim semi 1965 untuk persiapan keterlibatan dirinya di Kongo. Keberadaan Che Guevara di Kongo berahkir pada bulan Maret 1966 ketika dia didesak kuat oleh Castro untuk kembali ke Kuba sebagai respon dari ketidaksenangan Uni Sovyet dengan aksi petualangan Che Guevara dan juga ancaman Cina untuk menarik dukungannya kepada kaum pemberontak Kongo jika meneruskan hubungan mereka dengan Kuba. Percekcokan ideologis tanpa henti antara Peking dan Moscow telah memecah belah kaum komunis di seluruh dunia. Ketika Castro memilih untuk melanggengkan hubungannya dengan pihak Sovyet dengan tujuan untuk melindungi sumber bantuan luar negeri utamanya, maka bantuan militer Kuba kepada kaum pemberontak Kongo pun harus dihentikan. Setelah melakukan berbagai aksi berani di Kongo, Che Guevara saat kembali ke Kuba lebih banyak mengasingkan diri. Dan menjelang Oktober 1966, Che Guevara telah berada di Bolivia untuk menyusun sebuah pasukan inti perang gerilya agar bisa menjalankan cita-citanya mewujudkan revolusi kaum sosialis lintas benua di Amerika Latin. Namun satu tahun kemudian di Bolivia pada 1967 mimpi itu pun berakhir, tubuh Che Guevara terkoyak-koyak senapan otomatis. Kekelahan Che Guevara merupakan akibat dari banyak faktor, yaitu: 1. terlalu sedikitnya orang (pasukannya tidak pernah lebih dari 42 orang dan kebanyakan hanya 22 orang). 2. terlalu sedikitnya waktu waktu untuk mempersiapkan pasukannya dalam menghadapi pertempuran (pasukan tersebut dibentuk bulan Desember dan menghadapi pertempuran pertamanya pada bulan Maret). 3. terlalu banyaknya mata-mata di tengah anggotanya yang berasal dari daerah lokal yang mampu ai tarik. 4. isolasi ketat terhadap markas pusatnya sehingga menghambat pasokan logistik. 5. kesehatan Che Guevara yang memburuk. 6. sikap Che Guevara yang memandang rendah kemampuan tentara Bolivia yang telah mendapat pelatihan anti-perang gerilya yang ekstensif dari pasukan khusus Amerika di Panama. 7. kegagalan besar Che Guevara untuk memahami sejarah Bolivia serta munculnya sikap “Laissez Faire” (masa bodoh) pada rakyat Bolivia, yang lebih mementingkan mengurusi masalah hidup sehari-hari daripada memperjuangkan ideologi-ideologi revolusioner dan membahayakan hidup mereka. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Ernesto Che Guevara adalah tokoh revolusioner kelahiran Argentina yang menjadi seorang tokoh utama dalam pemerintahan Fidel Castro. Dan ia juga memimpin pemberontakan di Bolivia. Che Guevera menempuh pendidikan tinggi di Universitas Buenos Aires tahun 1953 dan sebelum terjun sebagai gerilyawan, ia adalah seorang dokter di Argentina. Ia meninggalkan profesinya untuk memperjuangkan hak-hak kaum miskin terutama di Amerika Latin. Ia bergabung dengan Fidel Castro saat berada di pembuangan di Meksiko. Tahun 1956 bersama Castro dan beberapa tahanan lain melarikan diri dan menyeberangi Laut Karibia dengan perahu dan membawa misi penyerangan Kuba serta menjatuhkan kekuasaan diktaktor Batista. Guevara berhasil mendarat di daerah rawa yang sangat ganas sehingga kehilangan banyak rekan-rekannya. Ia dan Castro serta beberapa orang yang selamat kemudian berhasil mencapai perbukitan Sierra Maestra. Ia kemudian menggalang kekuatan dan melakukan penyerangan terhadap pemerintah Kuba. Dengan modal keberanian, keterampilan, kekejaman dan taktik perang gerilya, Guevara dan Castro serta para gerilyawan berhasil memasuki Havana dan mengobarkan revolusi sosial di Kuba dan berhasil menumbangkan diktaktor Batista. Ernesto Che Guevara meninggal dunia pada usia muda. Doktor dari Argentina ini, yang meninggalkan tanahair dan kerjayanya untuk menyertai Revolusi Kuba, dibunuh di sebuah kampung pergunungan di Bolivia sewaktu dia tercedera. Tarikh bulan itu adalah Oktober 1967, dan Ernesto Guevara belum berusia 40 tahun. Ada tiga hal penting yang bisa diungkap dari revolusi Kuba, yaitu: 1. Rakyat bisa menang dalam oerang melawan tentara. 2. Masyarakat tidak perlu menunggu munculnya suatu keadaan revolusioner, karena hal ini dapat diciptakan. 3. Di negara-negara terbelakang di wilayah pinggiran benua Amerika merupakan medan tempur terbaik untuk revolusi. Che Guevara selalu mengutip perkataan Jose Marti bahwa “setiap manusia seharusnya merasakan sakit diwajahnya ketika ada orang lain yang mukanya di tampar”. Perjuangan untuk martabat ini adalah salah satu prinsip etis yang menimbulkan inspirasi untuk semua tindakannya, mulai dari pertempuran Santa Clara sampai perlawanan terakhir di pegunungan Bolivia. Walaupun keterlibatan Che Guevara dalam perjuangan-perjuangan pembebasan kaum kiri sangat memperkuat keyakinan revolusionernya, namun dasar orientasi politiknya sesungguhnya telah ditanamkan oleh orangtuanya sejak kecil. Dan Fidel Castro menunjukkan padanya cara mewujudkan keyakinan revolusioner itu. B. Kritik dan Saran Dalam penulisan makalah ini mungkin masih banyak kekurangan. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah yang sederhana ini dari para pembaca. Semoga dengan adanya makalah ini bisa memberikan manfaat sekaligus menambah wawasan terkait dengan “Peranan Che Guevara dalam Perjuangan Melawan Penguasa Otoriter di Kuba (Amerika Tengah)”. Mengingat betapa pentingnya peranan Che Guevara dalam perjuangannya, karena dengan mengetahui sejarah perjuangan Che Guevara, kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat tentang bagaimana perjalanan yang dilalui Che Guevara, sehingga bisa menjadi pengalaman bagi kita semua. DAFTAR PUSTAKA Clark, Jackie, K. Selvage, Donald, R. 2004. Petualangan Che Guevara. Jogjakarta: Prismasophie. http://solidarity-4-ever.blogspot.com/2012/07/biografi-che-guevara.html http://indomarxist.tripod.com/00000017.htm

1.  Gerak Sejarah Maju
Ide gerak sejarah yang maju ke depan sering dikemukakan para filosof  yang cenderung mengukuhkan perbuatan manusia dan pencapaian-pencapaiannya dalam sejarah. Mengenai asal ide kemajuan ini bisa diacu pada pendapat-pendapat Bacon (Sahakian, 1968: 124-140) dan Descartes (Snyder, 1955: 25-28), dua panji kebangkitan ilmiah di Barat. Pada akhir abad ke-19 ide ini semakin tersebar luas, yaitu pada waktu terjadi polemik antara para pengikut sastrawan dan kritisi lama dengan sastrawan dan kritisi baru. Untuk mempertahankan sikap mereka, para pengikut sastrawan dan kritisi baru terpaksa menuduh para pengikut sastrawan dan kritisi lama bahwa mereka telah terperosok dalam khayalan pengukuran yang keliru. Yakni pada waktu mereka memandang orang-orang yang lebih dulu dari mereka sebagai orang-orang yang lebih kuat pikirannya. Padahal manusia apabila ia semakin dewasa kebijakannya pun semakin matang dan orisinal, demikian halnya kemanusiaan yang bersama perjalanan zaman semakin mengarah kepada kemajuan. Jadi, apabila manusia yang terdahulu mempunyai kelebihan dalam keterdahuluannya, maka manusia yang berikutnya mempunyai kelebihan dalam kesempurnaannya.
Teori kemajuan ini kemudian tersebar dan mempengaruhi bidang-bidang kegiatan manusia lainnya seperti politik, sosial, seni, filsafat, dan sejarah, sehingga pada abad ke-19 kata kemajuan  memiliki berbagai makna. Di antara makna kata itu ada yang berkaitan dengan “ide perkembangan yang memandang watak manusia sebagai hasil tertinggi proses perkembangan itu sendiri”, dan oleh karena itu kemajuan historis juga terkandung dalam watak itu. Makna kata ini ada pula yang berkaitan dengan “filsafat denominasional”, di mana konsepsi kemajuan mengambil corak teori yang integral dalam filsafat sejarah, seperti halnya yang kita dapatkan pada beberapa filosof abad ke-19 seperti Karl Marx, Frederick Engels, dan lain-lain, atau dalam “filsafat sosial” yang diwakili  oleh Auguste Comte dan John Stuart Mill. Kemudian pada abad ke-20, teori kemajuan meraih berbagai dukungan dari kalangan kaum Marxis, pragmatis, dan para penganut aliran eksperimental.
Sejak awal kemunculannya, teori kemajuan erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Seruan para penganut teori ini pada dasarnya ditegakkan di atas kemajuan yang diraih kamanusiaan dalam sebagian ilmu pengetahuan yang membuat tersingkapnya sebagian hal yang tidak diketahui sebelumnya, dan di antara hasilnya adalah masa pencerahan dengan optimisme dan rasa percaya terhadap masa  depan yang erat berkaitan dengannya, keinginan untuk mengendalikan alam, peremehan masa lalu dengan segala khurafatnya, dan keinginan untuk menguasai pembuatan sejarah.
Teori kemajuan ini oleh para pendukungnya dideskripsikan sebagai suatu proses akumulatif sepanjang masa. Oleh karena itu,  orang-orang zaman modern, dengan sarana dan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, lebih maju ketimbang orang-orang zaman dahulu di bidang ilmu pengetahuan dan industri. Oleh karena itu, kekaguman tidak logis terhadap orang-orang dahulu tidak mem­punyai landasan, dan kekaguman itu menurut mereka merupakan batu penghalang jalan kemajuan manusia. Dengan pandangan yang demikian ini, kemajuan adalah filsafat optimistis yang memandang kesempurnaan manusia sebagai hal yang tidak terbatas dan sejarah manusia bergerak maju di mana pengetahuan manusia menjadi semakin berkembang dan sedikit demi sedikit semakin mendekati tujuan akhir masyarakat manusia, yaitu terealisasinya kebebasan, kesempurnaan, dan penguasaan sepenuhnya atas alam.
Auguste Comte termasuk kaum progresif yang memakai teori organis dalam menginterpretasikan watak masyarakat. Menurutnya, masyarakat adalah kelompok organis kolektif, dan seperti halnya berbagai fenomena dalam alam, matematika dan biologi tunduk di bawah hukum-hukum tertentu, masyarakat juga, tegak di atas suatu hukum umum. Berdasarkan hukum itu sendiri, misalnya, kita bisa membagi berbagai fase yang dilalui peradaban menjadi tiga fase, yaitu fase teologis, fase metafisis, dan fase positif. Hukum ketiga fase itu diikhtisarkan Comte dari sejarah ilmu pengetahuan dan ter­pengaruh oleh tiga klasifikasi yang dikemukakan Vico, seperti akan diuraikan nanti dalam kajian ini. Ide kemajuan diperbincangkan Comte dalam kerangka dinamisme sosial yang dipandangnya sebagai teori umum kemajuan manusia yang secara ringkas, di antaranya, di­nyatakan bahwa pada akhirnya manusia akan mampu mengendalikan alam. Dalam filsafat Comte kemajuan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu kemajuan intelektual, kemajuan material, dan kemajuan moral. Filsafat Comte itu terpengaruh oleh ide perkembangan dalam ilmu pengetahuan alam, namun ia mempergunakan sejarah dalam kajian­nya tentang perkembangan intelek (pikiran) manusia dan fase-fase yang dilaluinya.
Tampak bahwa para pemikir pada masa pencerahan telah ber­upaya mencarikan landasan posisi manusia dalam alam fisik dan mereka menganggap hukum-hukum sejarah adalah sama dengan hukum-hukum alam. Dari segi lain mereka mempercayai kemajuan. Akan retapi landasan apakah yang bisa dipakai untuk memandang bahwa alam adalah maju secara terus ke arah suatu tujuan? Kesulitan ini dipecahkan Hegel dengan mengadakan pemilahan yang ketat antara sejarah yang dipandangnya maju dan alam yang kehilangan corak itu. Kemudian datang revolusi Darwinisme yang menyirnakan semua hal yang tidak mengenakkan, yaitu dengan pandangannya bahwa perkembangan dan kemajuan adalah sama: tampak jelas bahwa pada akhirnya alam adalah maju seperti sejarah. Namun pendapat ini membuka pintu gerbang salah paham yang lebih berbahaya, sebab ia memberi kesempatan terjadinya pencampuradukan antara warisan biologis, yang membentuk sumber perkembangan, dan perolehan sosial yang memben-tuk sumber kemajuan dalam sejarah”.
Demikianlah terbentuknya hubungan antara ide perkembangan dan ide kemajuan dalam kalangan banyak peneliti, meski perkembangan sendiri tidak lain adalah perombakan bio-fisiologis khusus bagi makhluk-makhluk hidup sesuai dengan hukum seleksi alam, sementara kemajuan adalah upaya yang sadar untuk memperoleh pola-pola baru dalam tingkah laku individu dan masyarakat. Dari sini majunya kemanusiaan tampak merupakan hal yang deterministis dan pasti. Malah, ia mudah direalisasikan apabila masyarakat-masyarakat yang ada mampu mendayagunakan sebaik-­baiknya penemuan-penemuan ilmiah tentang prinsip-prinsip ekonomi dan hukum-hukum perkembangan manusia, seperti halnya diungkapkan oleh kajian sejarah yang ilmiah dan mendalam. Karena masyarakat manusia dan nilai-nilai moral yang luhur maju sesuai dengan hukum-hukum ilmiahnya yang khusus, demikian halnya ilmu pengetahuan kita akan semakin maju dengan semakin bertambahnya pengetahuan kita tentang hukum-hukum alam. Sehingga kemanusiaan pun akan melangkah maju ke arah masa depan cemerlang yang didasarkan pada penghormatan atas hak-hak individu kemajuan ilmu pengetahuan, dan merea-lisasikan kebahagiaan pikiran, moral, dan sosial tertinggi yang ditujunya.
Meski adanya harapan dan niat baik para pendukung teori kemajuan dengan berbagai aliran filosofisnya, namun teori ini banyak mendapat kritik. Sebagian ada yang berkenaan dengan metode penelitian yang dipakai dan sebagian ada yang berkenaan dengan nilai-nilai yang mereka kemukakan. Misalnya saja, seperti dikemukakan beberapa peneliti, kritik mereka yang keras terhadap Zaman Pertengahan dengan norma-norma zaman modern. Demikian halnya kritik keras mereka terhadap para agamawan telah melewati batas dengan mengeritik agama itu sendiri, sebab dalam pandangan mereka agama bukan lagi merupakan faktor penting dalam pem­bentuk kebudayaan. Kritik mereka terhadap khurafat dan pikiran magis telah menyentuh pula ide agama. Yakni sewaktu mereka memaksakan ide pembebasan diri dari kekuasaan gereja, mereka pun mencukupkan ide kemajuan ini dengan manifestasi luarnya saja yang bertentangan dengan agama, tanpa berupaya menda-lami konteks peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi guna menyingkapkan perjalanan internalnya.
Dari segi lain, teori kemajuan mendapat kritik dari para penganut relativisme historis yang meman-dang teori kemajuan hanya sebagai salah satu pola organisasi sosial yang berupaya menganalisis realitas dan mengorganisasikannya berdasarkan percobaan-percoba-an masa lalu guna terjadinya perubahan yang lebih besar dan demi kebaikan sebanyak mungkin anggota-anggota masyarakat. Jadi, kemajuan dalam pengertian yang demi-kian ini merupakan suatu nilai moral yang lebih banyak mengandung suatu sifat pengarahan dan perasaan tanggung jawab bersama daripada merupakan suatu filsafat realistis tentang realitas sejarah dalam pengertiannya yang dikenal.
Sumber: al-Sharqawi, ‘Effat. 1406 H/1986 M. Filsafat Kebudayaan Islam (terjemahan Ahmad Rofi’ Usmani dari Falsafah al-Hadharah al-Islamiyyah). Bandung: Pustaka.

Rabu, 22 Agustus 2012

dr sun yat sen

Dr Sun Yat Sen Lahir 12 November 1866 di Guang dong Cina, anak seorang petani miskin yang merantau ke Honolulu Hawai Amerika Serikat mengikuti kakak lelakinya untuk menempuh pendidikan. Sut Yat Sen kembali ke Cina tahun 1883, kemudian pindah ke Hongkong untuk menempuh pendidikan kedokteran hingga lulus tahun 1892. Dr Sut Yat Sangat terkenal karena ia merupakan tokoh nasional Cina yang berjuang untuk persatuan nasional Cina, pembangunan ekonomi, dan pembentukan pemerintahan republik. Ia sangat berpengaruh dalam sejarah Cina modern. Dr Sut Yat Sen memutuskan meninggalkan dunia medis dan kembali ke Hawai mendirikan organisasi pergerakan untuk menjatuhkan penguasa Manchu. Langkah ini disebabkan kegundahannya melihat kemerosotan Cina pada masa dinasti Qing yang sangat korup. Setelah kekalahan Cina dalam perang Cina-Jepang tahun 1894-1895 Sun Yat Sen kembali ke Hongkong merancang pemberontakan Guangzhou. Walaupun usahanya ini gagal, namun semangat nasionalisme dan gerakan revolusioner mulai tumbuh di masyarakat Cina terutama di perantauan. Namanya terkenal di dunia internasional setelah ditahan oleh kedutaan Cina di London tahun 1896. Selama 16 tahun berikutnya ia banyak berkelana mempelajari secara intensif pemikiran politik dan ekonomi barat dan membangun arah politik dan ekonomi negerinya. Sun Yat Sen anyak mendapat dukungan secara finansial, moral maupun politik dari dunia internasional. Banyak kolega, koneksi-koneksi luar negerinya yang memberikan bantuan seperti dari pemerintah Jepang tahun 1897. Para intelektual Cina di perantauan juga memberikan dukungan penuh sehingga tahun 1905 ia segera mendirikan T`ung meng Hui (Liga Revolusioner gabungan) yang memberjuangkan tiga visi yaitu nasionalisme, demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Gerakan Sun Yat Sen ini akhirnya membuahkan hasil pada bulom Oktober 1911. Dinasti Manchu tidak mampu membendung gelombang pemberontak sehingga awal tahun 1912 Dr Sun Yat Sen terpilih menjadi presiden sementara RRC yang baru didirikan. Namun untuk menghindari perang saudara, ia kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan kepada Yuan Shikai, mantan menteri pada masa kekaisaran. Ambisi Yuan dalam kekuasaan tercium gelagatnya oleh Sut Yat Sen, sehingga ia segera melancarkan perlawanan hingga menjatuhkannya dari kursi kekuasaan tahun 1916. Dr Sun Yat Sen kemudian mengubah organisasinya menjadi partai politik Kuomintang dan tahun 1917 ia membentuk pemerintahan sendiri di Guangzhou untuk menandingi sisa-sisa penerus Yuan di Beijing. Ia segera memperkuat militer dan menerima bantuan dari Uni Soviet untuk memperkuat pemerintahannya. Pada tahun 1923-1924 ia membentuk aliansi sementara dengan kelompok komunis hingga terbentuklah Kongres Nasional pertama (KMT) dan partai komunis menjadi salah satu anggotanya. Sejak tahun 1923 hingga kematiannya ia tercatat sebagai kepala pemerintahan KMT yang diubahnya sesuai dengan sistem Uni Soviet. Basis massa Sun Yat Sen terutama di Guangzhou berasal dari kelompok pelajar, pekerja, rakyat bawah, dan tentara. Di akhir-akhir hidupnya ia senantiasa berjuang untuk persatuan Cina dengan membujuk berbagai tokoh faksi untuk meninggalkan ambisi pribadi. Setelah ia wafat tanggal 12 Maret 1925, perjuangannya diteruskan oleh Chiang Kai Shek yang akhirnya berhasil menyatukan Cina. Namun Chiang Kai Shek akhirnya juga tersingkir ke Taiwan setelah meletusnya perang saudara antara kelompok nasionalis dengan komunis. Referensi : Buku 100 Tokoh Abad Ke 20 Paling Berpengaruh, Penulis Ready Susanto, Penerbit Nuansa Cendeki

Selasa, 21 Agustus 2012

ACEH BARAT

Sejarah Kabupaten Aceh Barat Wilayah bagian barat Kerajaan Aceh Darussalam mulai dibuka dan dibangun pada abad ke XVI Masehi atas prakarsa Sultan Saidil Mukamil (Sultan Aceh yang hidup antara tahun 1588 - 1604 M), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda (Sultan Aceh yang hidup tahun (1607-1636 M) dengan mendatangkan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie. Daerah ramai pertama adalah di teluk Meulaboh (Pasi Karam) yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh, dan Negeri Daya (Kecamatan Jaya) yang pada akhir abad ke XV M telah berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya adalah Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya. Dari perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat diakhir abad XVII telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh Uleebalang, yaitu : Kluang; Lamno; Kuala Lambeusoe; Kuala Daya; Kuala Unga; Babah Awe; Krueng No; Cara' Mon; Lhok Kruet; Babah Nipah; Lageun; Lhok Geulumpang; Rameue; Lhok Rigaih; Krueng Sabee; Teunom; Panga; Woyla; Bubon; Lhok Bubon; Meulaboh; Seunagan; Tripa; Seuneu'am; Tungkop; Beutong; Pameue; Teupah (Tapah); Simeulue; Salang; Leukon; Sigulai. Dimasa penjajahan Belanda, melalui suatu perjanjian (Korte Verklaring), diakui bahwa masing-masing Uleebalang dapat menjalankan pemerintahan sendiri (Zelfsbestuur) atau swaparaja (landschap). Oleh Belanda Kerajaan Aceh dibentuk menjadi Gouvernement Atjeh en Onderhorigheden (Gubernemen Aceh dan Daerah Taklukannya) dan selanjutnya dengan dibentuknya Gouvernement Sumatera, Aceh dijadikan Keresidenan yang dibagi atas beberapa wilayah yang disebut afdeeling (propinsi) dan afdeeling dibagi lagi atas beberapa onderafdeeling (kabupaten) dan onderafdeeling dibagi menjadi beberapa landschap (kecamatan). Seluruh wilayah Keresidenan Aceh dibagi menjadi 4 (empat) afdeeling yang salah satunya adalah Afdeeling Westkust van Atjeh atau Aceh Barat dengan ibukotanya Meulaboh. Afdeeling Westkust van Atjeh (Aceh Barat) merupakan suatu daerah administratif yang meliputi wilayah sepanjang pantai barat Aceh, dari gunung Geurutee sampai daerah Singkil dan kepulauan Simeulue serta dibagi menjadi 6 (enam) onderafdeeling, yaitu : 1. Meulaboh dengan ibukota Meulaboh dengan Landschappennya Kaway XVI, Woyla, Bubon, Lhok Bubon, Seunagan, Seuneu'am, Beutong, Tungkop dan Pameue; 2. Tjalang dengan ibukota Tjalang (dan sebelum tahun 1910 ibukotanya adalah Lhok Kruet) dengan Landschappennya Keluang, Kuala Daya, Lambeusoi, Kuala Unga, Lhok Kruet, Patek, Lageun, Rigaih, Krueng Sabee dan Teunom; 3. Tapaktuan dengan ibukota Tapak Tuan; 4. Simeulue dengan ibukota Sinabang dengan Landschappennya Teupah, Simalur, Salang, Leukon dan Sigulai; 5. Zuid Atjeh dengan ibukota Bakongan; 6. Singkil dengan ibukota Singkil. Di zaman penjajahan Jepang (1942 - 1945) struktur wilayah administrasi ini tidak banyak berubah kecuali penggantian nama dalam bahasa Jepang, seperti Afdeeling mejadi Bunsyu yang dikepalai oleh Bunsyucho, Onderafdeeling menjadi Gun yang dikepalai oleh Guncho dan Landschap menjadi Son yang dikepalai oleh Soncho. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 7 (Drt) Tahun 1956 tentang pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Utara, wilayah Aceh Barat dimekarkan mejadi 2 (dua) Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan. Kabupaten Aceh Barat dengan Ibukota Meulaboh terdiri dari tiga wilayah yaitu Meulaboh, Calang dan Simeulue, dengan jumlah kecamatan sebanyak 19 (sembilan belas) Kecamatan yaitu Kaway XVI; Johan Pahlwan; Seunagan; Kuala; Beutong; Darul Makmur; Samatiga; Woyla; Sungai Mas; Teunom; Krueng Sabee; Setia Bakti; Sampoi Niet; Jaya; Simeulue Timur; Simeulue Tengah; Simeulue Barat; Teupah Selatan dan Salang. Sedangkan Kabupaten Aceh Selatan, meliputi wilayah Tapak Tuan, Bakongan dan Singkil dengan ibukotanya Tapak Tuan. Pada Tahun 1996 Kabupaten Aceh Barat dimekarkan lagi menjadi 2 (dua) Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Barat meliputi kecamatan Kaway XVI; Johan Pahlwan; Seunagan; Kuala; Beutong; Darul Makmur; Samatiga; Woyla; Sungai Mas; Teunom; Krueng Sabee; Setia Bakti; Sampoi Niet; Jaya dengan ibukotanya Meulaboh dan Kabupaten Adminstrtif Simeulue meliputi kecamatan Simeulue Timur; Simeulue Tengah; Simeulue Barat; Teupah Selatan dan Salang dengan ibukotanya Sinabang. Kemudian pada tahun 2000 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5, Kabupaten Aceh Barat dimekarkan dengan menambah 6 (enam) kecamatan baru yaitu Kecamatan Panga; Arongan Lambalek; Bubon; Pantee Ceureumen; Meureubo dan Seunagan Timur. Dengan pemekaran ini Kabupaten Aceh Barat memiliki 20 (dua puluh) Kecamatan, 7 (tujuh) Kelurahan dan 207 Desa. Selanjutnya pada tahun 2002 kabupaten Aceh Barat daratan yang luasnya 1.010.466 Ha, kini telah dimekarkan menjadi tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat dengan dikeluarkannya Undang-undang N0.4 Tahun 2002

aceh dengan muammar khadafi

SEPENGGAL KISAH ANTARA MUAMMAR KHADAFI DENGAN ACEH Tertembaknya mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi meninggalkan duka bagi sebagian orang Aceh. Setidaknya, itulah yang dirasakan Ligadinsyah, mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pernah kuliah, sekaligus ikut pelatihan militer di kamp Tajura, Libya. Bagi Liga, tanpa Khadafi, tak pernah ada angkatan perang GAM. Bahkan, sebagian anggota GAM pernah jadi pengawal Khadafi. Dua tahun di Libya, meninggalkan kenangan mendalam bagi Ligadinsyah. Liga yang ketika itu masih berusia 24 tahun terpilih sebagai salah satu dari lima pemuda Aceh yang mendapat beasiswa kuliah di Al Fatah University, Tripoli, tahun 1986. Dia mengambil jurusan bahasa Arab. "Kami kuliah di sana atas rekomendasi almarhum Teungku Hasan Tiro," kata Liga yang kini berusia 48 tahun kepada The Atjeh Post, Jumat (21/10). Menurut Ligadinsyah, tak lama setelah dia ke Libya, barulah gelombang pemuda Aceh lainnya dikirim ke sana untuk ikut pelatihan militer. "Tahun 1987, saya dipercaya sebagai penerjemah untuk kawan-kawan dalam latihan militer. Saat libur kuliah, saya juga ikut bergabung dalam pelatihan militer," kenangnya. Meski pemberontakan GAM dimulai tahun 1977, pendidikan militer secara besar-besaran memang baru dimulai pada 1986-1990. Maka tumpah ruahlah sekitar seribuan pemuda Aceh ke Libya. Mereka dikirim dalam tiga gelombang. Alumni Libya inilah yang kemudian menjadi tulang punggung pergerakan GAM. Bahkan, Muzakir Manaf, mantan Panglima GAM yang kini menjadi ketua Partai Aceh adalah mantan alumni Libya. Terletak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Tripoli dan berada di pinggir laut, kamp Tajura adalah salah satu kamp pelatihan yang diperuntukkan bagi kelompok 'bermasalah' dengan negaranya. Kata Lingga, Khadafi menyebutnya: pelatihan untuk orang-orang tertindas dan terzalimi di negaranya. "Setahu saya, dananya dari anggaran belanja resmi Libya. Khadafi bilang itu bantuan resmi untuk orang-orang yang terzalimi di negaranya," kata Liga. Selain dari Aceh, kata Lingga, pelatihan militer itu diikuti 'pemberontak' dari Pattani (Thailand), Moro (Philipina), Amerika Latin dan Afrika. Sejauhmana kedekatan Hasan Tiro dengan Khadafi? Menurut Ligadinsyah, hubungan keduanya cukup dekat. Bahkan, Hasan Tiro dipercaya sebagai ketua Makbatabah Al Alami, sebuah lembaga nonstruktural yang menjadi penasehat politik Khadafi. Selain itu, Tiro juga didaulat menjadi President COmmittee peserta pelatihan militer, membawahi peserta dari negara-negara lain. "Tingkat kepercayaannya kepada Teungku Hasan sangat tinggi. Teungku Hasan juga cukup populer di kalangan tangan kanan Khadafi," kata Ligadinsyah. Ligadinsyah juga masih ingat benar, sejumlah lulusan terbaik GAM di Tanjura pernah menjadi pengawal pribadi di ring satu Khadafi. Baginya, Libya dan Khadafi adalah cikal bakal angkatan perang Aceh Merdeka."Kalau Indonesia standar militernya Amerika, angkatan perang GAM dulu kiblatnya ke Libya." Sederet kenangan dan hubungan itulah yang membuat Ligadinsyah merasa terenyuh ketika di televisi, ia melihat Khadafi tewas dan diperlakukan tidak manusiawi pada Kamis (20/10) pagi. "Secara pribadi saya sedih juga dan tidak simpati kepada tindakan-tindakan kekerasan seprti itu. Apapun cerita, dia pemimpin yang pernah membebaskan Libya dari tirani Raja Idris itu dan pemimpin yang disegani di negara-negara Arab. Harusnya dia diperlakukan lebih manusiawi," ujarnya. Kini, Khadafi dan Hasan Tiro telah tiada. Mereka pergi dengan meninggalkan jejak sejarah antara Aceh dan Libya.[] Penulis : Yuswardi A Suud Sumber : AtjehPost

Rabu, 18 April 2012

profil preman kuba ( CHE GUEVARA)

Ernesto Guevara Lynch de La Serna (Rosario, Argentina, 14 Juni 1928 - Bolivia, 9 Oktober 1967) adalah pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya Kuba.

Guevara dilahirkan di Rosario, Argentina, dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol. Tanggal lahir yang ditulis pada akte kelahirannya yakni 14 Juni 1928, namun yang sebenarnya adalah 14 Mei 1928.

Sejak usia dua tahun Che Guevara mengidap asma yang diderita sepanjang hidupnya. Karena itu keluarganya pindah ke daerah yang lebih kering yaitu daerah Alta Gracia (Córdoba) namun kesehatannya tidak membaik. Pendidikan dasar ia dapatkan di rumah sebagian dari ibunya, Celia de la Serna. Pada usianya yang begitu muda, Che Guevara telah menjadi seorang pembaca yang lahap. Ia rajin membaca literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. Memasuki sekolah menegah pertama (1941) di Colegio Nacional Deán Funes (Córdoba). Di sekolah ini dia menjadi yang terbaik di bidang sastra dan olahraga. Di rumahnya Che Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang sipil Spanyol juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina. Krisis ini memuncak di bawah pemerintahan diktator fasis kiri Juan Peron, seorang yang ditentang Guevara. Berbagai peristiwa tertanam kuat dalam diri Guevara, ia melihat sebuah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Parlemen dengan demokrasinya dan muncul pulalah kebenciannya akan politisi militer beserta kaum kapitalis dan yang terutama kepada dolar Amerika Serikat yang dianggap sebagai lambang kapitalisme.

Meskipun demikian dia sama sekali tidak ikut dalam gerakan pelajar revolusioner. Ia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik di Universitas Buenos Aires (1947) tempat ia belajar ilmu kedokteran. Pada awalnya ia hanya tertarik memperdalam penyakitnya sendiri namun kemudian dia tertarik pada penyakit kusta.

a kembali ke daerah asalnya dengan sebuah keyakinan bulat atas satu hal bahwa ia tidak mau menjadi profesional kelas menengah dikarenakan keahliannya sebagai seorang spesialis kulit. Kemudian pada masa revolusi nasional ia pergi ke La Paz, Bolivia di sana ia dituduh sebagai seorang oportunis. Dari situ ia melanjutkan perjalanan ke Guatemala dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca. Guatemala saat itu diperintah oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis. Meskipun Che telah menjadi penganut paham marxisme dan ahli sosial Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin. Ia tinggal bersama Hilda Gadea, penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik. Orang inilah yang memperkenalkannya kepada Nico Lopez, salah satu Letnan Fidel Castro. Di Guatemala dia melihat kerja agen CIA sebagai agen kontrarevolusi dan semakin yakin bahwa revolusi hanya dapat dilakukan dengan jaminan persenjataan. Ketika Presiden Arbenz turun jabatan, Guevara pindah ke Kota Mexico (September 1954) dan bekerja di Rumah Sakit Umum, diikuti Hilda Gadea dan Nico Lopez. Guevara bertemu dan kagum pada Raúl Castro dan Fidel Castro juga para emigran politik dan ia menyadari bahwa Fidel-lah pemimpin yang ia cari.

Ia bergabung dengan pengikut Castro di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo, seorang pengarang "Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo" (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959. Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong dan Che (dalam bahasa Italia berarti teman sekamar dan teman dekat) menjadi murid kesayangannya dan menjadi pemimpin di kelas. Latihan perang di tanah pertanian membuat polisi setempat curiga dan Che besertaorang-orang Kuba tersebut ditangkap namun dilepaskan sebulan kemudian.

Pada bulan Juni 1956 ketika mereka menyerbu Kuba, Che pergi bersama mereka, pada awalnya sebagai dokter namun kemudian sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Lenin kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang ceroboh dan di arena inilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling Batista. Pada saat revolusi dimenangkan, Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba dan yang bertanggung jawab menggiring Castro ke dalam komunisme yang menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskwa yang dianut beberapa teman kuliahnya. Che mengorganisasi dan memimpin "Instituto Nacional de la forma Agraria", yang menyusun hukum agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah), mendirikan Departemen Industri dan ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional Kuba dan menggusur orang orang komunis dari pemerintahan serta pos-pos strategis. Ia bertindak keras melawan dua ekonom Perancis yang beraliran Marxis yang dimintai nasehatnya oleh Fidel Castro dan yang menginginkan Che bertindak lebih perlahan. Che pula yang melawan para penasihat Uni Soviet. Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.


Pernikahan Che Guevara

Pada tahun 1959, Guevara menikahi Aledia March, kemudian berdua mengunjungi Mesir, India, Jepang, Indonesia yang juga hadir pada Konfrensi Asia Afrika, Pakistan dan Yugoslavia. Sekembalinya ke Kuba ia diangkat sebagai Menteri Perindustrian, menandatangani pakta perdagangan (Februari 1960) dengan Uni Soviet yang melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika. Ini merupakan isyarat akan kegagalannya di Kongo dan Bolivia sebuah aksioma akan sebuah kekeliruan yang tak akan terelakkan. "Tidaklah penting menunggu sampai kondisi yang memungkinkan sebuah revolusi terwujud sebab fokus instruksional dapat mewujudkannya" ucapnya dan dengan ajaran Mao Ze Dong ia percaya bahwa daerah daerah pasti membawa revolusi ke kota yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Juga pada saat ini ia menyebarkan filosofi komunisnya (diterbitkan kemudian dalam "The Socialism and Man in Cuba", 12 Maret 1965). Ia meringkas pahamnya menjadi "Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan".


Penentangan resminya terhadap komunis Uni Soviet tampak ketika dalam organisasi untuk Solidaritas Asia Afrika di Aljazair (Februari 1965) menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme dengan berdagang tak hanya dengan negara-negara blok komunis dan memberikan bantuan pada negara berkembang sosialis atas pertimbangan pengembaliannya. Ia juga menyerang pemerintahan Soviet atas kebijakan hidup bertetangga dan juga atas Revisionisme. Guevara mengadakan konferensi Tiga Benua untuk merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Di samping itu setelah terpaksa berhubungan dengan Amerika Serikat, ia sebagai perwakilan Kuba di PBB menyerang negara-negara Amerika Utara atas keserakahan mereka dan imperialisme yang kejam di Amerika Latin.


Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada dua negara kapitalis mendorong negara komunis untuk memaksa Castro memberhentikan Che (1965, bukan secara resmi tetapi secara nyata. Untuk beberapa bulan tempat tinggalnya dirahasiakan dan kematiannya santer diisukan. Ia berada di berbagai Negara Afrika terutama Kongo di mana dia mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. Ia kembali ke Kuba untuk melatih para sukarelawan untuk proyek ini dan mengirim kekuatan 120 orang Kuba ke Kongo. Anak buahnya bertempur dengan sungguh-sungguh tetapi tidak demikian halnya dengan para pemberontak Kinshasa. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia dan ketika musim gugur 1965 Che meminta Castro untuk menarik mundur saja bantuan Kuba.

penyebab lahirnya indonesia

A. FAKTOR PENDORONG LAHIRNYA NASIONALISME INDONESIA
Kata nasionalisme berasal dari kata Nation yang berati bangsa. Dalam bahasa Latin kata Nation berati kelahiran kembali, suku kemudian bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita dan kepentingan bersama. Menurut Han Kohn adalah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu harus diserakan kepada negara dan bangsa. Bangkitnya nasionalisme Indonesia didorong oleh faktor intern dan ekstern.
1. Faktor Intern
Faktor-faktor intern yang menyebabkan lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Kejayaan Bangsa Indonesia sebelum Kedatangan Bangsa Barat
Sebelum kedatangan bangsa Barat, di wilayah Nusantara sudah berdiri kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya, Mataram dan Majapahit. Kejayaan masa lampau itu menjadi sumber inspirasi untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
b. Penderitaan Rakyat akibat Politik Drainage(Pengerukan Kekayaan)
Politik drainage itu mencapai puncaknya ketika diterapkan sistem tanam paksa yang dilanjutkan dengan sistem ekonomi liberal.
c. Adanya Diskriminasi Rasial
Diskriminasi merupakan hal menonjol yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam kehidupan sosial pada awal abad ke-20. Dalam bidang pemerintahan, tidak semua jabatan tersedia bagi kaum pribumi.
d. Munculnya Golongan Terpelajar
Pada awal ke-20, pendidikan mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pemerintah kolonial. Hal itu sejalan dengan diterapkannya politik etis. Melalui penguasaan bahasa asing yang diajarkan di sekolah-sekolah modern, mereka dapat mempelajari berbagai ide-ide dan paham-paham baru yang berkembang di Barat, seperti ide tentang HAM, liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
2. Faktor Ekstern
Lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia juga didorong oleh faktor-faktor ekstern, antara lain berikut ini.
a. Kemenangan Jepang terhadap Rusia (1904-1905)
Kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang telah berhasil mengguncangkan dunia. Kemenangan Jepang tersebut berhasil menggugah kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk melawan penjajahan bangsa-bangsa kulit putih.
b. Kebangkitan Nasionalisme Negara-Negara Asia-Afrika
Kebangkitan nasional bangsa-bangsa Asia-Afrika memberikan dorongan kuat bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan penindasan pemerintahan kolonial. Revolusi Tiongkok (1911) dan pementukan partai Kuomintang oleh Sun Yan Set yang berhasil menjadikan Cina sebagai negara mereka pada tahun (1912).
c. Masuknya Paham-Paham Baru
Paham-paham baru seperti liberalisme, demokrasi dan nasionalisme muncul setelah terjadinya Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Hubungan antara Asia dan Eropa menyebabkan paham-paham itu menyebar dari Eropa ke Asia, termasuk ke Indonesia.
B. ORGANISASI-ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA
1. Boedi Oetomo
Dengan semangat hendak meningkatkan semangat masyarakat, Mas Ngabehi Wahidin Soediro Husodo, seorang doktor jawa dan termasuk seorang priayi, tahun 1906-1907 melakukan kempanye di kalangan priayi di Pulau Jawa.
Pada akhir 1907, Wahidin bertemu dengan Soetomo, pelajar STOVIA di Batavia. Pertemuan tersebut berhasil mendorong didirikannya organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo pada hari rabu tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Soetomo kemudian ditunjuk sebagai ketuanya. Tanggal berdirinya Boedi Oetomo hingga saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
2. Sarekat Islam
Pada akhir 1911, Haji Samanhudi di Solo menghimpun para pengusaha batik di dalam sebuah organisasi yang bercorak agama dan ekonomi, yaitu Sarekat Dagang Islam (SDI).
Setahun kemudian pada bulan November 1912 nama SDI diganti menjadi Sarekat Islam (SI) dengan ketuanya Haji Oemar Said Cokroaminoto, sedangkan Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Perubahan nama tersebut bertujuan agar keanggotaannya menjadi luas, bukan hanya dari kalangan pedagang. Apabila dilihat dari anggaran dasarnya, tujuan pendirian Sarekat Islam adalah sebagai berikut.
A. Mengembangkan jiwa dagang.
B. Memberikan bantuan kepada anggota-anggota yang kesulitan.
C. Memajukan pengajaran dan semua.
D. Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam.
Aktivitas SI lebih mengutamakan politik tidak disetujui oleh sebagian besar anggotanya. Mereka menginginkan SI memperhatikan masalah-masalah keagamaan. Dalam kondisi itu SI memutuskan untuk bekerja sama dengan pemerintahan kolonial dan berganti nama menjadi Partai Sarikat Islam. Sehubungan dengan meluasnya semangat persatuan dan Sumpah Pemuda, nama tersebut diubah menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1930 dengan ketuanya Haji Agus Salim.
3. Indische Partij
Indische Partij berdiri di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912. Organisasi ini juga dimaksudkan sebagai pengganti Indische Bond. Sebagai organisasi kaum Indonesia dan Eropa yang didirikan pada tahun 1898. Ketiga tokoh pendiri Indische Partij dikenal dengan Tiga Serangkai, yaitu Douwes Dekker (Danudirdja Setiabudi), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Indische Partij merupakan pergerakan nasional yang bersifat politik murni dengan semangat nasionalisme modern.
Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai National Home bagi semua orang, baik penduduk bumi putera maupun keturunan Belanda, Cina, dan Arab, yang mengaku Indonesia sebagai tanah air dan kebangsaannya. Paham ini pada waktu itu dikenal sebagai Indisch Nasionalisme, yang selanjutnya melalui perhimpunan Indonesia dan PNI, diubah menjadi Indonesische Nationalisme atau Nasional Indonesia. Hal itulah yang menyatakan bahwa Indische Partij sebagai partai politik pertama di Indonesia.
4. Perhimpunan Indonesia
Perhimpunan Indonesia didirikan pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di Belanda, antara lain Sutan Kasayangan dan R.N Noto Suroto. Mula-mula organisasi itu bernama Indische Vereeniging. Akan tetapi sejak berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialisme dan imperialisme di kalangan pemimpin-pemimpin Indische Vereeniging semakin menonjol.
Pada tahun 1922, Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging. Sejak tahun 1925, selain nama dalam bahasa Belanda juga digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu Perhimpunan Indonesia. Oleh karena itu, semakin tegas bahwa PI bergerak dalam bidang politik.
Dalam kalangan pergerakan nasional di Indonesia, pengaruh PI cukup besar. Beberapa organisasi pergerakan nasional mulai lahir karena mendapatkan inspirasi dari PI, seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun 1926, Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927, dan Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) tahun 1927.
5. Partai Komunis Indonesia
Ketika Sosial Democratische Arbeiderspartij (SDAP) di Belanda pada tahun 1918 mengumumkan dirinya menjadi Partai Komunis Belanda (CPN), para anggota ISDV dari golongan Eropa mengusulkan mengikuti jejak itu. Oleh karena itu, pada tanggal 23 Mei 1920 diubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Di dalam susunan pengurus baru terbentuk tertera antara lain Semaun sebagai ketua, Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, Dekker sebagai bendahara, serta Baars dan Sugono sebagai anggota pengurus. PKI tumbuh menjadi partai politik dengah jumlah yang sangat besar. Akan tetapi karena jumlah anggotanya intinya kecil, partai itu kurang dapat mengontrol dan menanamkan disiplin kepada anggotanya.
Setelah berhasil menempatkan dirinya sebagai partai besar, PKI merasa sudah kuat untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1926. Hampir sepuluh tahun kemudian, Komitern mengirimkan seorang tokoh komunis kembali ke Indonesia. Tokoh tersebut ialah Musso yang pada bulan April 1935 mendarat di Surabaya. Dengan bantuan Joko Sujono, Pamuji, dan Achmad Sumadi, ia membentuk yang diberi nama PKI Ilegal. Kegiatan utama kaum komunis kemudian disalurkan melalui Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) dengan tokoh utamanya Amir Syarifudin.
6. Partai Nasional Indonesia
Partai Nasional Indonesia (PNI) dibentuk di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 dengan tokoh-tokohnya Ir. Soekarno, Iskaq, Budiarto, Cipto Mangunkusumo, Tilaar, Soedjadi, dan Soenaryo. Dalam pengurus besar PNI, Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketua, Iskaq sebagai sekretaris/bendahara, dan Dr. Samsi sebagai komisaris. Sementara itu dalam perekrutan anggota disebutkan bahwa mantan anggota PKI tidak diperkenankan menjadi anggota PNI, juga pegawai negeri yang memungkinkan berperan sebagai mata-mata pemerintah kolonial. Ada dua macam cara yang dilakukan oleh PNI untuk memperkuat diri dan pengaruhnya di dalam masyarakat, yaitu:
a. Usaha ke dalam: Usaha-usaha terhadap lingkungan sendiri, antara lain mengadakan kursus-kursus, mendirikan sekolah-sekolah dan bank-bank.
b. Usaha ke luar: Dengan memeperkuat opini publik terhadap tujuan PNI, antara lain melalui rapat-rapat umum dan menerbitkan surat kabar Benteng Priangan di Bandung dan Persatuan Indonesia di Batavia.
Peningkatan kegiatan rapat-rapat umum di cabang-cabang sejak bulan Mei 1929 menimbulkan suasana yang tegang. Pemerintah kolonial Belanda lebih banyak melakukan pengawasan secara tegas terhadap kegiata-kegiatan PNI yang dianggap membahayakan keamanan dan ketertiban. Sering kali polisi menghentikan pidato karena dianggap telah menghasut rakyat.
Akhirnya pemerintah Hindia Belanda beranggapan bahwa tiba saatnya untuk melakukan tindakan terhadap PNI. Bahkan Gubernur Jenderal de Graef telah mendapatkan tekanan dari konservatif Belanda yang tergabung dalam Vanderlansche Club untuk bertindak tegas karena mereka berkeyakinan bahwa PNI melanjutkan taktik PKI.
C. Upaya-Upaya Menggalang Persatuan
1. Pembentukan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
Di kalangan pemimpin pergerakan nasional muncul gagasan untuk membentuk gabungan (fusi) dari partai-partai politik yang ada. Tujuannya untuk memperkuat dan mempersatukan tindakan-tindakan dalam menghadapi pemerintah kolonial. Usaha itu dirintis oleh Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Islamiten Bond, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon dan Sarekat Madura. Pada bulan September 1926 berhasil dibentuk Komite Persatuan Indonesia. Akan tetapi, usaha tersebut tidak berhasil dengan baik sehingga tidak satu pun organisasi gabungan (fusi) yang dihasilkan.
Pada tanggal 17-18 Desember 1927 diadakan sidang di Bandung yang dihadiri oleh wakil-wakil dari PNI, Algemeene Studieclub, PSI (Partai sarekat Islam), Boedi Oetomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Kaum Betawi, dan Indinesische studieclib. Sidang tersebut memutuskan untuk membentuk (PPPKI) dengan tujuan sebagai berikut.
Sebagai suatu alat organisasi yang tetap dari federasi itu, dibentuklah dewan pertimbangan yang terdiri atas seorang ketua, sekretaris, bendahara, dan wakil partai-partai yang bergabung. Dr. Soetomo dari Studieclub sebagai Ketua Majelis Pertimbangan dan Ir. Anwari dari PNI sebagai sekretaris.
2. Gerakan Pemuda
1. Gerakan Pemuda Kedaerahan
Trikoro Dharmo merupakan organisasi pemuda kedaerahaan pertama di Indonesia. Trikoro Dharmo didirikan di Gedung Stovia pada tanggal 7 Maret 1915 oleh pemuda-pemuda Jawa, seperti Satiman, Kadarman, Sumardi, Jaksodipuro (Wongsonegoro), Sarwono, dan Mawardi. Trikoro Dharmo berarti tiga tujuan mulia, yaitu Sakti, Budi dan Bhakti.
Kenggotaan Trikoro Dharmo pada mulanya hanya terbatas pada kalangan pemuda dari Jawa dan Madura. Akan tetapi, diperluas dengan semboyannya Jawa Raya yang meliputi Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok. Pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta berdiri organisasi Jong Sumatranen Bond. Tokoh-tokoh nasional yang pernah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond, antara lain Moh.Hatta, Moh.Yamin, M. Tasil, Bahder Djohan, dan Abu Hanifah. Jong Minahasa berdiri pada tanggal 5 Januari 1918 di Manado dengan tokohnya A.J.H.W.Kawilarang dan V.Adam. Jong Celebes dengan tokoh-tokohnya Arnold Monomutu, Waworuntu, dan Magdalena Mokoginta. Jong Ambon berdiri pula pada tanggal 1 Juni 1923 di Jakarta.
Dengan semangat kedaerahaannya itu, pada kongres Trikoro Dharmo di Solo tanggal 12 Juni 1918 nama trikoro Dharmo diubah menjadi Jong Java. Kegiatan Jong Java masih tetap bergerak dalam bidang sosial budaya. Pada kongres kelima bulan Mei 1922 di Solo dan kongres luar biasa Desember 1922 ditetapkan bahwa Jong Java tidak akan mencampuri masalah politik. Anggota Jong Java hanya diperbolehkan terjun dalam dunia politik setelah mereka tamat belajar.
2. Kongres Pemuda Indonesia
1. Kongres Pemuda I
Keinginan untuk bersatu seperti yang didengung-dengungkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) telah tertanam dalam sanubari pemuda-pemuda Indonesia. Untuk itu, pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta diadakan kongres pemuda Indonesia yang pertama.
Dalam kongres itu dilakukan beberapa kali pidato tentang pentingnya Indonesia bersatu. Disampaikan pula tentang upaya-upaya memperkuat rasa persatuan yang harus tumbuh di atas kepentingan golongan, bangsa dan agama. Selanjutnya juga dibicarakan tentang kemungkinan bahasa dan kesusastraan Indonesia kelak dikemudian hari.
Para mahasiswa Jakarta dalam kongres tersebut juga membicarakan tentang upaya mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda menjadi satu badan gabumgan (fusi). Walaupun pembicaraan mengenai fusi tidak membuahkan hasil yang memuaskan, kongres itu telah memperkuat cita-cita Indonesia bersatu.
2. Kongres Pemuda II
Kongres Pemuda II diadakan dua tahun setelah Kongres Pemuda Indonesia pertama, tepatnya pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres itu dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulan-perkumpulan pemuda ketika itu diantara lain Pemuda Sumatera, Pemuda Indonesia, Jong Bataksche Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamiten Bond, Jong Java, Jong Ambon dan Jong Celebes. PPPI yang memimpin kongres ini sengaja mengarahkan kongres pada terjadinya fusi organisasi-organisasi pemuda.
Susunan panitia Kongres Pemuda II yang sudah terbentuk sejak bulan Juni 1928 adalah sebagai berikut.
Ketua : Sugondo Joyopuspito dari PPPI
Wakil ketua : Joko Marsaid dari Jong Java
Sekretaris : Moh. Yamin dari Jong Sumatranen Bond
Bendahara : Amir Syarifuddin dari Jong Bataksche Bond
Pembantu I : Johan Moh. Cai dari Jong Islamiten Bond
Pembantu II : Koco Sungkono dari Pemuda Indonesia
Pembantu III : Senduk dari Jong Cilebes
Pembantu IV : J. Leimena dari Jong Ambon
Pembantu V : Rohyani dari Pemuda Kaum Betawi
Kongres Pemuda II dilaksanakan selama dua hari, 27-28 Oktober 1928. persidangan yang dilaksanakan sebanyak tiga kali di antaranya membahas persatuan dan kebangsaan Indonesia, pendidikan, serta pergerakan kepanduan. Kongres tersebut berhasil mengambil keputusan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda sebagai berikut.
Rumusan tersebut dibuat oleh sekretaris panitia, Moh. Yamin dan dibacakan oleh ketua kongres, Sugondo Joyopuspito, secara hikmat di depan kongres. Selanjutnya diperdengarkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan dan dibawakan oleh W.R. Supratman dengan gesekan biola. Peristiwa bersejarah itu merupakan hasil kerja keras para pemuda pelajar Indonesia. Dengan tiga butir Sumpah Pemuda itu, setiap organisasi pemuda kedaerahan secara konsekuen meleburkan diri kedalam satu wadah yang telah disepakati bersama, yaitu Indonesia Muda.
D. Berkembangnya Taktik Moderat dan Kooperatif dalam Perkembangan Nasional
Berkembangnya taktik moderat dan kooperatif dalam pergerakan nasional Indonesia disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Krisis ekonomi (malaise) yang terjadi sejak tahun 1921 dan berulang pada akhir tahun 1929. Bahkan, pada awal tahun 1930-an krisis ekonomi itu tidak kunjung reda.
2. Kebijakan keras pemerintahan Gubernur Jenderal de Jonge menyebabkan kaum pergerakan, terutama golongan nonkooperatif, sangat menderita. Setiap gerakan yang radikal atau revolusioner akan ditindas dengan alasan bahwa pemerintah kolonial bertanggung jawab atas keadaan di Hindia Belanda.
3. Pada tahun 1930-an, kaum pergerakan nasional terutama yang berada di Eropa menyaksikan bahwa perkembangan paham fasisme dan Naziisme mengancam kedudukan negara-negara demokrasi. Demikian pula Jepang sebagai negara fasis di Asia telah melakukan ekspansinya ke wilayah Pasifik sehingga ada yang mendekatkan kaum nasionalis dengan penguasa kolonial, yaitu mempertahankan demokrasi terhadap bahaya fasisme. Kesadaran itu muncul pertama kali di kalangan Perhimpunan Indoesia yang terlebih dahulu telah melakukan taktik kooperatif.
a. Partindo (1931)
Pada kongres luar biasa PNI di Batavia tanggal 25 April 1931 diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran tersebut menimbulkan pertentangan di kalangan pendukung PNI. Sartono dan pendukungnya membentuk Partai Indonesia (Partindo) pada tanggal 30 April 1931.
Asas dan tujuan serta garis-garis perjuangan PNI masih diteruskan oleh Partindo. Selanjutnya dilakukan upaya menghimpun kembali anggota-anggota PNI yang tercerai-cerai sehingga pada tahun 1931 berhasih dibentuk 12 cabang. Kemudian berkembang menjadi 24 cabang dengan anggota sebanyak 7.000 orang.
Penangkapan kembali Ir. Soekarno pada tanggal 1 Agustus 1933 melemahkan Partindo. Bung Karno diasingkan ke Ende, Flores, pada tahun 1934. karena alasan kesehatan, Bung Karno kemudihan dipindahkan ke Bengkulu pada tahun 1938 dan pada tahun 1942 dipindahkan kepadang karena adanya serbuan Jepang ke Indonesia. Tanpa Ir. Soekarno, Partindo mengalami kemunduran. Partindo keluar dari PPPKI agar PPPKI tidak terhalang geraknya karena adanya larangan untuk mengadakan rapat. Dalam menghadapi keadaan yang sulit itu, untuk kedua kalinya Sartono membubarkan Partindo juga tanpa dukungan penuh dari anggotanya.
b. PNI Baru (1931)
Pada bulan Desember 1931, membentuk Pendidikan Nasional Indonesia(PNI Baru). Mula-mula Sutan Syahir dipilih sebagai ketuanya. Moh. Hatta kemudian dipilih sebagai ketua pada tahun 1932 setelah kembali dari Belanda. Organisasi-organisasi tersebut tetap sama-sama menggunakan taktik perjuangan non-kooperatif dalam mencapai kemerdekaan politik. Adapun perbedaan antara PNI Baru dengan Partindo adalah sebagai berikut:
- PPPKI oleh PNI Baru dianggap sebagai “persatean” bukan persatuan karena anggota-anggotanya memiliki ideologi yang berbeda-beda. Sementara itu, Partindo menganggap PPPKI dapat menjadi wadah persatuan yang kuat daripada mereka berjuang sendiri-sendiri.
- Dalam upaya mencapai kemerdekaan, PNI Baru lebih mengutamakan pendidikan politik dan sosial. Partindo lebih mengandalkan organisasi masa dengan aksi-aksi masa untuk mencapai kemerdekaan.
Pada tahun 1933, PNI Baru telah memiliki 65 cabang. Untuk mempersiapkan masyarakat dalam mencapai kemerdekaan, PNI Baru melakukan kegiatan penerangan untuk rakyat dan penyuluhan koperasi. Kegiatan-kegiatan PNI Baru tersebut dan ditambah dengan sikapnya yang non-kooperatif dianggap oleh pemerintah kolonial membahayakan. Oleh karena itu, pada bulan Februari 1934 Bung Hatta, Sutan Syahir, Maskun, Burhanuddin, Murwoto, dan Bondan ditangkap pemerintah kolonial. Bung Hatta diasingkan ke hulu Sungai Digul, Papua. Kemudian dipindahkan ke Banda Neira pada tahun 1936 dan akhirnya ke Sukabumi pada tahun 1942. Dengan demikian, hanya partai-partai yang bersikap kooperatif saja yang dibiarkan hidup oleh pemerintah kolonial Belanda.
c. Parindra (1935)
Pada bulan Desember 1935 di Solo diadakan kongres yang menghasilkan penggabungan Boedi Oetomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dan melahirkan Partai Indonesia Raya (Parindra). R. Soetomo terpilih sebagai ketua Parindra dengan Surabaya sebagai pusatnya. Tujuannya adalah mencapai Indonesia raya dan mulia. Tokoh-tokoh terkemuka Parindra lainnya ialah Moh. Husni Thamrin dan Sukarjo Wiryopranoto.
Parindra berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil dengan cara mendirikan Rukun Tani, membentuk serikat-serikat pekerja, menganjurkan Swadesi, dan mendirikan Bank Nasional Indonesia. Perjuangan Parindra dalam Volksraad berlangsung hingga akhir penjajahan Belanda. Dalam hal ini terkenal kegigihan Moh. Husni Thamrin dengan membentuk Fraksi Nasional dan GAPI yang berhasil memaksa pemerintah kolonial melakukan beberapa perubahan, seperti memakai bahasa Indonesia dalam siding Volksraad dan mengganti istilah Inlander menjadi Indonesier.
d. Gerindo
Setelah Partindo dibubarkan pada tahun 1936, banyak anggotanya kehilangan wadah perjuangan. Sementara itu, Parindra yang cenderung kooperatif dianggap kurang sesuai. Oleh karena itu, pada bulan Mei 1937 di Jakarta dibentuk Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Tokoh-tokohnya yang terkenal ialah A.K.Gani, Moh. Yamin, Amir Syarifuddin, Sarino Mangunsarkoro, Nyono, Prawoto, Sartono, dan Wilopo.
Gerindo bertujuan mencapai Indonesia merdeka, tetapi dengan asas-asas yang kooperatif. Dalam bidang politik, Gerindo menuntut adanya parlemen yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam bidang ekonomi dibentuk Penuntut Ekonomi Rakyat Indonesia (Peri) yang bertujuan mengumpulkan modal dengan kekuatan kaum buruh dan tani berdasarkan asas nasional-demokrasi-koperasi. Dalam bidang sosial diperjungkan persamaan hak dan kewajiban di dalam masyarakat. Oleh karena itu, Gerindo menerima anggota dari kalangan orang Indo, peranakan Cina, dan Arab.
e. Petisi Sutardjo
Pada tanggal 15 Juli 1936, Sutardjo Kartohadikusumo selaku Persatuan Pegawai Bestuur (PPB) dalam Volkstraad mengajukan usul yang kemudian dikenal dengan petisi Sutardjo. Petisi tersebut berisi permintaan kepada pemerintah kolonial agar diselenggarakan musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan Belanda untuk merencanakan suatu perubahan dalam waktu 10 tahun mendatang, yaitu pemberian status otonom kepada rakyat Indonesia meskipun tetap dalam lingkungan kerajaan Belanda.
Sebelum Indonesia dapat berdiri sendiri, Sutardjo mengusulkan untuk mengambil langkah-langkah memperbaiki keadaan Indonesia, antara lain sebagai berikut:
a. Volksraad dijadikan parlemen yang sesungguhnya
b. Direktur departemen diberikan tanggung jawab
c. Dibentuk Dewan Kerajaan (rijksraad) sebagai badan tertinggi antara Belanda dan Indonesia yang anggota-anggotanya merupakan wakil-wakil kedua belah pihak
d. Penduduk Indonesia adalah orang-orang yang karena kelahiran, asal-usul dan cita-citanya memihak Indonesia.
Petisi itu juga ditandatangani oleh I.J. Kasimo, Sam Ratulangi, Datuk Tumenggung dan Kwo Kwat Tiong. Sebagian besar dari partai-partai dan tokoh-tokoh pergerakan juga mendukung Petisi Sutardjo. Setelah mendapatkan dukungan mayoritas anggota Volksraad, petisi itu kemudian disampaikan kepada pemerintah kerajaan dan Parlemen Belanda.
Golongan yang tidak setuju adalah golongan konservatif dan para pengusaha perkebunan, termasuk kelompok Vanderlandche Club (VC) menganggap petisi itu terlalu prematur dan menganggap bahwa secara ekonomi dan sosial Hindia Belanda (Indonesia) belum cukup untuk dapat berdiri sendiri. Selain itu dipermasalahkan pula tentang dapat dipertahankannya kesatuan wilayah Nusantara dalam lingkungan Pax Nederlandica karena pada kenyataannya kondisi politik Hindia Belanda belum mantap.
Pada tanggal 16 November 1938, pemerintah Belanda memberikan jawaban bahwa petisi itu ditolak dengan alasan-alasan sebagai berikut.
- Perkembangan politik Indonesia belum cukup matang untuk memerintah sendiri sehingga petisi itu dipandang masih terlalu prematur.
- Dipertanyakan juga tentang kependudukan golongan minoritas dalam struktur politik yang baru nanti.
- Tuntutan otonomi dipandang sebagai hal yang tidak alamiah karena pertumbuhan ekonomi, sosial dan politik belum memadai.
Meskipun petisi tersebut ditolak, pemerintah kolonial mulai melaksanakan perubahan pemerintah pada tahun 1938. Pemerintah membentuk provinsi-provinsi di luar Jawa dengan gubernur sebagai wakil pemerintahan pusat, sedangkan Dewan Provinsi bertugas mengatur rumah tangga daerah.
f. Perjuangan GAPI “Indonesia Berparlemen”
Penolakan petisi Sutardjo mendorong munculnya gerakan menuju kesatuan nasional, kesatuan aksi dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Gerakan itu kemudian menjelma menjadi Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pembentukan GAPI dipelopori oleh M.H. Thamrin dari Parindra.
Pelaksanaan program GAPI secara kongret mulai terwujud dalam rapatnya pada tanggal 4 Juli 1939. Dalam rapat itu diputuskan untuk mengadakan Kongres Rakyat Indonesia yang akan memperjuangkan penentuan nasib sendiri serta persatuan dan kesatuan Indonesia. Namun, sebelum aksi dapat dilancarkan secara besar-besaran, pada tanggal 9 Septamber 1939 terdengar kabar bahwa Perang Dunia II telah berkobar. Oleh karena itu, dalam pernyataan pada tanggal 19 September 1939, GAPI menyerukan agar dalam keadaan penuh bahaya dapat dibina hubungan kerja sama yang sebaik-baiknya antara Belanda dan Indonesia.
Aksi pertama GAPI terselenggara dengan mengadakan rapat umum di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1939. Pada pertengahan Desember 1939 diselenggarakan rapat umum di beberapa tempat. Dengan semboyan “Indonesia Berparlemen” dalam setiap aksinya GAPI mendesak pemerintah agar membentuk parlemen yang dipilih dan dari rakyat sebagai pengganti Volksraad dan dengan pemerimtahan yang bertanggung jawab kepada parlemen tersebut. Untuk itu, kepala-kepala departemen harus digantikan menteri-menteri yang bertanggung jawab kepada parlemen.
Tanggapan pemerintah kolonial Belanda baru dikeluarkan pada tanggal 10 Februari 1940 melalui menteri jajahan Welter yang menyatakan bahwa perkembangan dalam bidang jasmani dan rohani akan memerlukan tanggung jawab dalam bidang ketatanegaraan. Sudah barang tentu hak-hak ketatanegaraan memerlukan tanggung jawab dari para pemimpin. Tanggung jawab ini hanya dapat dipikul apabila rakyat telah memahami kebijaksanaan politik. Selama pemerintah Belanda bertanggung jawab atas kebijakan politik di Hindia Belanda, tidak mungkin didirikan parlemen Indonesia yang mengambil alih tanggung jawab tersebut.
Tentu saja penolakan itu menimbulkan kekecewaan, tetapi GAPI masih meneruskan perjuangannya. Dalam rapat tanggal 23 Februari 1940, GAPI menganjurkan pendirian Panitia Parlemen Indonesia sebagai tindak lanjut aksi Indonesia Berparlemen. Akan tetapi, kesempatan bergerak bagi GAPI sudah tidak ada lagi. Pada awal Mei 1940, Belanda diduduki oleh Jerman sehingga Perang Dunia II telah berkobar di Negeri Belanda. Meskipun negerinya sudah diduduki oleh Jerman, tetapi Belanda tidak mau mundur setapak pun dari bumi Indonesia.
Sikap pemerintah Belanda yang konservatif itu tidak mengurangi loyalitas rakyat Indonesia terhadap Belanda, bahkan ada keinginan umum untuk bekerja sama dalam menghadapi perang itu. Sebagai imbalan dari kesetiaan bangsa Indonesia tersebut, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menjanjikan perubahan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Akan tetapi, gagasan mengenai perubahan itu harus disimpan dahulu hingga perang selesai. Pada tanggal 10 Mei 1941 dalam pidatonya, Ratu Wilhelmina menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan suatu penyesuaian ketatanegaraan Belanda terhadap keadaan yang berubah serta menentukan kedudukan daerah seberangdalam struktur Kerajaan Belanda. Akan tetapi, masalah itu pun ditunda hingga Perang Dunia II selesai.
Usulan pembentukan milisi pribumi yang berdasarkan kewajiban warga negara untuk mempertahankan negerinya juga ditolak oleh pemerintah kolonial dengan alasan bahwa perang modern lebih memerlukan angkatan perang yang professional. Sikap menunda itu pun diperlihatkan Belanda pada saat dilontarkan Piagam Atlantik (Atlantic Charter) oleh Perdana Menteri Inggris Woodrow Wilson dan Presiden Amerika Serikat F.D. Roosevelt yang menjamin hak setiap bangsa untuk memilh bentuk pemerintahannya sendiri.
Satu-satunya hasil dari berbagai upaya kaum pergerakan melalui Dewan Rakyat adalah pembentuka Komisi Vismen (Commissie-Visman) pada bulan Maret 1941. Komisi tersebut bertugas meneliti keinginan, cita-cita, serta pendapat yang ada pada berbagai golongan masyarakat mengenai perbaikan pemerintahan. Hasilnya diumumkan pada bulan Desember 1941 yang menyatakan bahwa penduduk sangat puas dengan pemerintah Belanda.