Ernesto Guevara Lynch de La Serna (Rosario, Argentina, 14 Juni 1928 - Bolivia, 9 Oktober 1967) adalah pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya Kuba.
Guevara dilahirkan di Rosario, Argentina, dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol. Tanggal lahir yang ditulis pada akte kelahirannya yakni 14 Juni 1928, namun yang sebenarnya adalah 14 Mei 1928.
Sejak usia dua tahun Che Guevara mengidap asma yang diderita sepanjang hidupnya. Karena itu keluarganya pindah ke daerah yang lebih kering yaitu daerah Alta Gracia (Córdoba) namun kesehatannya tidak membaik. Pendidikan dasar ia dapatkan di rumah sebagian dari ibunya, Celia de la Serna. Pada usianya yang begitu muda, Che Guevara telah menjadi seorang pembaca yang lahap. Ia rajin membaca literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. Memasuki sekolah menegah pertama (1941) di Colegio Nacional Deán Funes (Córdoba). Di sekolah ini dia menjadi yang terbaik di bidang sastra dan olahraga. Di rumahnya Che Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang sipil Spanyol juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina. Krisis ini memuncak di bawah pemerintahan diktator fasis kiri Juan Peron, seorang yang ditentang Guevara. Berbagai peristiwa tertanam kuat dalam diri Guevara, ia melihat sebuah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Parlemen dengan demokrasinya dan muncul pulalah kebenciannya akan politisi militer beserta kaum kapitalis dan yang terutama kepada dolar Amerika Serikat yang dianggap sebagai lambang kapitalisme.
Meskipun demikian dia sama sekali tidak ikut dalam gerakan pelajar revolusioner. Ia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik di Universitas Buenos Aires (1947) tempat ia belajar ilmu kedokteran. Pada awalnya ia hanya tertarik memperdalam penyakitnya sendiri namun kemudian dia tertarik pada penyakit kusta.
a kembali ke daerah asalnya dengan sebuah keyakinan bulat atas satu hal bahwa ia tidak mau menjadi profesional kelas menengah dikarenakan keahliannya sebagai seorang spesialis kulit. Kemudian pada masa revolusi nasional ia pergi ke La Paz, Bolivia di sana ia dituduh sebagai seorang oportunis. Dari situ ia melanjutkan perjalanan ke Guatemala dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca. Guatemala saat itu diperintah oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis. Meskipun Che telah menjadi penganut paham marxisme dan ahli sosial Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin. Ia tinggal bersama Hilda Gadea, penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik. Orang inilah yang memperkenalkannya kepada Nico Lopez, salah satu Letnan Fidel Castro. Di Guatemala dia melihat kerja agen CIA sebagai agen kontrarevolusi dan semakin yakin bahwa revolusi hanya dapat dilakukan dengan jaminan persenjataan. Ketika Presiden Arbenz turun jabatan, Guevara pindah ke Kota Mexico (September 1954) dan bekerja di Rumah Sakit Umum, diikuti Hilda Gadea dan Nico Lopez. Guevara bertemu dan kagum pada Raúl Castro dan Fidel Castro juga para emigran politik dan ia menyadari bahwa Fidel-lah pemimpin yang ia cari.
Ia bergabung dengan pengikut Castro di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo, seorang pengarang "Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo" (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959. Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong dan Che (dalam bahasa Italia berarti teman sekamar dan teman dekat) menjadi murid kesayangannya dan menjadi pemimpin di kelas. Latihan perang di tanah pertanian membuat polisi setempat curiga dan Che besertaorang-orang Kuba tersebut ditangkap namun dilepaskan sebulan kemudian.
Pada bulan Juni 1956 ketika mereka menyerbu Kuba, Che pergi bersama mereka, pada awalnya sebagai dokter namun kemudian sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Lenin kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang ceroboh dan di arena inilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling Batista. Pada saat revolusi dimenangkan, Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba dan yang bertanggung jawab menggiring Castro ke dalam komunisme yang menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskwa yang dianut beberapa teman kuliahnya. Che mengorganisasi dan memimpin "Instituto Nacional de la forma Agraria", yang menyusun hukum agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah), mendirikan Departemen Industri dan ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional Kuba dan menggusur orang orang komunis dari pemerintahan serta pos-pos strategis. Ia bertindak keras melawan dua ekonom Perancis yang beraliran Marxis yang dimintai nasehatnya oleh Fidel Castro dan yang menginginkan Che bertindak lebih perlahan. Che pula yang melawan para penasihat Uni Soviet. Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.
Pernikahan Che Guevara
Pada tahun 1959, Guevara menikahi Aledia March, kemudian berdua mengunjungi Mesir, India, Jepang, Indonesia yang juga hadir pada Konfrensi Asia Afrika, Pakistan dan Yugoslavia. Sekembalinya ke Kuba ia diangkat sebagai Menteri Perindustrian, menandatangani pakta perdagangan (Februari 1960) dengan Uni Soviet yang melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika. Ini merupakan isyarat akan kegagalannya di Kongo dan Bolivia sebuah aksioma akan sebuah kekeliruan yang tak akan terelakkan. "Tidaklah penting menunggu sampai kondisi yang memungkinkan sebuah revolusi terwujud sebab fokus instruksional dapat mewujudkannya" ucapnya dan dengan ajaran Mao Ze Dong ia percaya bahwa daerah daerah pasti membawa revolusi ke kota yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Juga pada saat ini ia menyebarkan filosofi komunisnya (diterbitkan kemudian dalam "The Socialism and Man in Cuba", 12 Maret 1965). Ia meringkas pahamnya menjadi "Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan".
Penentangan resminya terhadap komunis Uni Soviet tampak ketika dalam organisasi untuk Solidaritas Asia Afrika di Aljazair (Februari 1965) menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme dengan berdagang tak hanya dengan negara-negara blok komunis dan memberikan bantuan pada negara berkembang sosialis atas pertimbangan pengembaliannya. Ia juga menyerang pemerintahan Soviet atas kebijakan hidup bertetangga dan juga atas Revisionisme. Guevara mengadakan konferensi Tiga Benua untuk merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Di samping itu setelah terpaksa berhubungan dengan Amerika Serikat, ia sebagai perwakilan Kuba di PBB menyerang negara-negara Amerika Utara atas keserakahan mereka dan imperialisme yang kejam di Amerika Latin.
Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada dua negara kapitalis mendorong negara komunis untuk memaksa Castro memberhentikan Che (1965, bukan secara resmi tetapi secara nyata. Untuk beberapa bulan tempat tinggalnya dirahasiakan dan kematiannya santer diisukan. Ia berada di berbagai Negara Afrika terutama Kongo di mana dia mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. Ia kembali ke Kuba untuk melatih para sukarelawan untuk proyek ini dan mengirim kekuatan 120 orang Kuba ke Kongo. Anak buahnya bertempur dengan sungguh-sungguh tetapi tidak demikian halnya dengan para pemberontak Kinshasa. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia dan ketika musim gugur 1965 Che meminta Castro untuk menarik mundur saja bantuan Kuba.
http://sejarah10-usk.blogspot.com/
Rabu, 18 April 2012
penyebab lahirnya indonesia
A. FAKTOR PENDORONG LAHIRNYA NASIONALISME INDONESIA
Kata nasionalisme berasal dari kata Nation yang berati bangsa. Dalam bahasa Latin kata Nation berati kelahiran kembali, suku kemudian bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita dan kepentingan bersama. Menurut Han Kohn adalah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu harus diserakan kepada negara dan bangsa. Bangkitnya nasionalisme Indonesia didorong oleh faktor intern dan ekstern.
1. Faktor Intern
Faktor-faktor intern yang menyebabkan lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Kejayaan Bangsa Indonesia sebelum Kedatangan Bangsa Barat
Sebelum kedatangan bangsa Barat, di wilayah Nusantara sudah berdiri kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya, Mataram dan Majapahit. Kejayaan masa lampau itu menjadi sumber inspirasi untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
b. Penderitaan Rakyat akibat Politik Drainage(Pengerukan Kekayaan)
Politik drainage itu mencapai puncaknya ketika diterapkan sistem tanam paksa yang dilanjutkan dengan sistem ekonomi liberal.
c. Adanya Diskriminasi Rasial
Diskriminasi merupakan hal menonjol yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam kehidupan sosial pada awal abad ke-20. Dalam bidang pemerintahan, tidak semua jabatan tersedia bagi kaum pribumi.
d. Munculnya Golongan Terpelajar
Pada awal ke-20, pendidikan mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pemerintah kolonial. Hal itu sejalan dengan diterapkannya politik etis. Melalui penguasaan bahasa asing yang diajarkan di sekolah-sekolah modern, mereka dapat mempelajari berbagai ide-ide dan paham-paham baru yang berkembang di Barat, seperti ide tentang HAM, liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
2. Faktor Ekstern
Lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia juga didorong oleh faktor-faktor ekstern, antara lain berikut ini.
a. Kemenangan Jepang terhadap Rusia (1904-1905)
Kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang telah berhasil mengguncangkan dunia. Kemenangan Jepang tersebut berhasil menggugah kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk melawan penjajahan bangsa-bangsa kulit putih.
b. Kebangkitan Nasionalisme Negara-Negara Asia-Afrika
Kebangkitan nasional bangsa-bangsa Asia-Afrika memberikan dorongan kuat bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan penindasan pemerintahan kolonial. Revolusi Tiongkok (1911) dan pementukan partai Kuomintang oleh Sun Yan Set yang berhasil menjadikan Cina sebagai negara mereka pada tahun (1912).
c. Masuknya Paham-Paham Baru
Paham-paham baru seperti liberalisme, demokrasi dan nasionalisme muncul setelah terjadinya Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Hubungan antara Asia dan Eropa menyebabkan paham-paham itu menyebar dari Eropa ke Asia, termasuk ke Indonesia.
B. ORGANISASI-ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA
1. Boedi Oetomo
Dengan semangat hendak meningkatkan semangat masyarakat, Mas Ngabehi Wahidin Soediro Husodo, seorang doktor jawa dan termasuk seorang priayi, tahun 1906-1907 melakukan kempanye di kalangan priayi di Pulau Jawa.
Pada akhir 1907, Wahidin bertemu dengan Soetomo, pelajar STOVIA di Batavia. Pertemuan tersebut berhasil mendorong didirikannya organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo pada hari rabu tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Soetomo kemudian ditunjuk sebagai ketuanya. Tanggal berdirinya Boedi Oetomo hingga saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
2. Sarekat Islam
Pada akhir 1911, Haji Samanhudi di Solo menghimpun para pengusaha batik di dalam sebuah organisasi yang bercorak agama dan ekonomi, yaitu Sarekat Dagang Islam (SDI).
Setahun kemudian pada bulan November 1912 nama SDI diganti menjadi Sarekat Islam (SI) dengan ketuanya Haji Oemar Said Cokroaminoto, sedangkan Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Perubahan nama tersebut bertujuan agar keanggotaannya menjadi luas, bukan hanya dari kalangan pedagang. Apabila dilihat dari anggaran dasarnya, tujuan pendirian Sarekat Islam adalah sebagai berikut.
A. Mengembangkan jiwa dagang.
B. Memberikan bantuan kepada anggota-anggota yang kesulitan.
C. Memajukan pengajaran dan semua.
D. Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam.
Aktivitas SI lebih mengutamakan politik tidak disetujui oleh sebagian besar anggotanya. Mereka menginginkan SI memperhatikan masalah-masalah keagamaan. Dalam kondisi itu SI memutuskan untuk bekerja sama dengan pemerintahan kolonial dan berganti nama menjadi Partai Sarikat Islam. Sehubungan dengan meluasnya semangat persatuan dan Sumpah Pemuda, nama tersebut diubah menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1930 dengan ketuanya Haji Agus Salim.
3. Indische Partij
Indische Partij berdiri di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912. Organisasi ini juga dimaksudkan sebagai pengganti Indische Bond. Sebagai organisasi kaum Indonesia dan Eropa yang didirikan pada tahun 1898. Ketiga tokoh pendiri Indische Partij dikenal dengan Tiga Serangkai, yaitu Douwes Dekker (Danudirdja Setiabudi), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Indische Partij merupakan pergerakan nasional yang bersifat politik murni dengan semangat nasionalisme modern.
Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai National Home bagi semua orang, baik penduduk bumi putera maupun keturunan Belanda, Cina, dan Arab, yang mengaku Indonesia sebagai tanah air dan kebangsaannya. Paham ini pada waktu itu dikenal sebagai Indisch Nasionalisme, yang selanjutnya melalui perhimpunan Indonesia dan PNI, diubah menjadi Indonesische Nationalisme atau Nasional Indonesia. Hal itulah yang menyatakan bahwa Indische Partij sebagai partai politik pertama di Indonesia.
4. Perhimpunan Indonesia
Perhimpunan Indonesia didirikan pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di Belanda, antara lain Sutan Kasayangan dan R.N Noto Suroto. Mula-mula organisasi itu bernama Indische Vereeniging. Akan tetapi sejak berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialisme dan imperialisme di kalangan pemimpin-pemimpin Indische Vereeniging semakin menonjol.
Pada tahun 1922, Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging. Sejak tahun 1925, selain nama dalam bahasa Belanda juga digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu Perhimpunan Indonesia. Oleh karena itu, semakin tegas bahwa PI bergerak dalam bidang politik.
Dalam kalangan pergerakan nasional di Indonesia, pengaruh PI cukup besar. Beberapa organisasi pergerakan nasional mulai lahir karena mendapatkan inspirasi dari PI, seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun 1926, Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927, dan Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) tahun 1927.
5. Partai Komunis Indonesia
Ketika Sosial Democratische Arbeiderspartij (SDAP) di Belanda pada tahun 1918 mengumumkan dirinya menjadi Partai Komunis Belanda (CPN), para anggota ISDV dari golongan Eropa mengusulkan mengikuti jejak itu. Oleh karena itu, pada tanggal 23 Mei 1920 diubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Di dalam susunan pengurus baru terbentuk tertera antara lain Semaun sebagai ketua, Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, Dekker sebagai bendahara, serta Baars dan Sugono sebagai anggota pengurus. PKI tumbuh menjadi partai politik dengah jumlah yang sangat besar. Akan tetapi karena jumlah anggotanya intinya kecil, partai itu kurang dapat mengontrol dan menanamkan disiplin kepada anggotanya.
Setelah berhasil menempatkan dirinya sebagai partai besar, PKI merasa sudah kuat untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1926. Hampir sepuluh tahun kemudian, Komitern mengirimkan seorang tokoh komunis kembali ke Indonesia. Tokoh tersebut ialah Musso yang pada bulan April 1935 mendarat di Surabaya. Dengan bantuan Joko Sujono, Pamuji, dan Achmad Sumadi, ia membentuk yang diberi nama PKI Ilegal. Kegiatan utama kaum komunis kemudian disalurkan melalui Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) dengan tokoh utamanya Amir Syarifudin.
6. Partai Nasional Indonesia
Partai Nasional Indonesia (PNI) dibentuk di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 dengan tokoh-tokohnya Ir. Soekarno, Iskaq, Budiarto, Cipto Mangunkusumo, Tilaar, Soedjadi, dan Soenaryo. Dalam pengurus besar PNI, Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketua, Iskaq sebagai sekretaris/bendahara, dan Dr. Samsi sebagai komisaris. Sementara itu dalam perekrutan anggota disebutkan bahwa mantan anggota PKI tidak diperkenankan menjadi anggota PNI, juga pegawai negeri yang memungkinkan berperan sebagai mata-mata pemerintah kolonial. Ada dua macam cara yang dilakukan oleh PNI untuk memperkuat diri dan pengaruhnya di dalam masyarakat, yaitu:
a. Usaha ke dalam: Usaha-usaha terhadap lingkungan sendiri, antara lain mengadakan kursus-kursus, mendirikan sekolah-sekolah dan bank-bank.
b. Usaha ke luar: Dengan memeperkuat opini publik terhadap tujuan PNI, antara lain melalui rapat-rapat umum dan menerbitkan surat kabar Benteng Priangan di Bandung dan Persatuan Indonesia di Batavia.
Peningkatan kegiatan rapat-rapat umum di cabang-cabang sejak bulan Mei 1929 menimbulkan suasana yang tegang. Pemerintah kolonial Belanda lebih banyak melakukan pengawasan secara tegas terhadap kegiata-kegiatan PNI yang dianggap membahayakan keamanan dan ketertiban. Sering kali polisi menghentikan pidato karena dianggap telah menghasut rakyat.
Akhirnya pemerintah Hindia Belanda beranggapan bahwa tiba saatnya untuk melakukan tindakan terhadap PNI. Bahkan Gubernur Jenderal de Graef telah mendapatkan tekanan dari konservatif Belanda yang tergabung dalam Vanderlansche Club untuk bertindak tegas karena mereka berkeyakinan bahwa PNI melanjutkan taktik PKI.
C. Upaya-Upaya Menggalang Persatuan
1. Pembentukan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
Di kalangan pemimpin pergerakan nasional muncul gagasan untuk membentuk gabungan (fusi) dari partai-partai politik yang ada. Tujuannya untuk memperkuat dan mempersatukan tindakan-tindakan dalam menghadapi pemerintah kolonial. Usaha itu dirintis oleh Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Islamiten Bond, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon dan Sarekat Madura. Pada bulan September 1926 berhasil dibentuk Komite Persatuan Indonesia. Akan tetapi, usaha tersebut tidak berhasil dengan baik sehingga tidak satu pun organisasi gabungan (fusi) yang dihasilkan.
Pada tanggal 17-18 Desember 1927 diadakan sidang di Bandung yang dihadiri oleh wakil-wakil dari PNI, Algemeene Studieclub, PSI (Partai sarekat Islam), Boedi Oetomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Kaum Betawi, dan Indinesische studieclib. Sidang tersebut memutuskan untuk membentuk (PPPKI) dengan tujuan sebagai berikut.
Sebagai suatu alat organisasi yang tetap dari federasi itu, dibentuklah dewan pertimbangan yang terdiri atas seorang ketua, sekretaris, bendahara, dan wakil partai-partai yang bergabung. Dr. Soetomo dari Studieclub sebagai Ketua Majelis Pertimbangan dan Ir. Anwari dari PNI sebagai sekretaris.
2. Gerakan Pemuda
1. Gerakan Pemuda Kedaerahan
Trikoro Dharmo merupakan organisasi pemuda kedaerahaan pertama di Indonesia. Trikoro Dharmo didirikan di Gedung Stovia pada tanggal 7 Maret 1915 oleh pemuda-pemuda Jawa, seperti Satiman, Kadarman, Sumardi, Jaksodipuro (Wongsonegoro), Sarwono, dan Mawardi. Trikoro Dharmo berarti tiga tujuan mulia, yaitu Sakti, Budi dan Bhakti.
Kenggotaan Trikoro Dharmo pada mulanya hanya terbatas pada kalangan pemuda dari Jawa dan Madura. Akan tetapi, diperluas dengan semboyannya Jawa Raya yang meliputi Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok. Pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta berdiri organisasi Jong Sumatranen Bond. Tokoh-tokoh nasional yang pernah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond, antara lain Moh.Hatta, Moh.Yamin, M. Tasil, Bahder Djohan, dan Abu Hanifah. Jong Minahasa berdiri pada tanggal 5 Januari 1918 di Manado dengan tokohnya A.J.H.W.Kawilarang dan V.Adam. Jong Celebes dengan tokoh-tokohnya Arnold Monomutu, Waworuntu, dan Magdalena Mokoginta. Jong Ambon berdiri pula pada tanggal 1 Juni 1923 di Jakarta.
Dengan semangat kedaerahaannya itu, pada kongres Trikoro Dharmo di Solo tanggal 12 Juni 1918 nama trikoro Dharmo diubah menjadi Jong Java. Kegiatan Jong Java masih tetap bergerak dalam bidang sosial budaya. Pada kongres kelima bulan Mei 1922 di Solo dan kongres luar biasa Desember 1922 ditetapkan bahwa Jong Java tidak akan mencampuri masalah politik. Anggota Jong Java hanya diperbolehkan terjun dalam dunia politik setelah mereka tamat belajar.
2. Kongres Pemuda Indonesia
1. Kongres Pemuda I
Keinginan untuk bersatu seperti yang didengung-dengungkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) telah tertanam dalam sanubari pemuda-pemuda Indonesia. Untuk itu, pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta diadakan kongres pemuda Indonesia yang pertama.
Dalam kongres itu dilakukan beberapa kali pidato tentang pentingnya Indonesia bersatu. Disampaikan pula tentang upaya-upaya memperkuat rasa persatuan yang harus tumbuh di atas kepentingan golongan, bangsa dan agama. Selanjutnya juga dibicarakan tentang kemungkinan bahasa dan kesusastraan Indonesia kelak dikemudian hari.
Para mahasiswa Jakarta dalam kongres tersebut juga membicarakan tentang upaya mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda menjadi satu badan gabumgan (fusi). Walaupun pembicaraan mengenai fusi tidak membuahkan hasil yang memuaskan, kongres itu telah memperkuat cita-cita Indonesia bersatu.
2. Kongres Pemuda II
Kongres Pemuda II diadakan dua tahun setelah Kongres Pemuda Indonesia pertama, tepatnya pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres itu dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulan-perkumpulan pemuda ketika itu diantara lain Pemuda Sumatera, Pemuda Indonesia, Jong Bataksche Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamiten Bond, Jong Java, Jong Ambon dan Jong Celebes. PPPI yang memimpin kongres ini sengaja mengarahkan kongres pada terjadinya fusi organisasi-organisasi pemuda.
Susunan panitia Kongres Pemuda II yang sudah terbentuk sejak bulan Juni 1928 adalah sebagai berikut.
Ketua : Sugondo Joyopuspito dari PPPI
Wakil ketua : Joko Marsaid dari Jong Java
Sekretaris : Moh. Yamin dari Jong Sumatranen Bond
Bendahara : Amir Syarifuddin dari Jong Bataksche Bond
Pembantu I : Johan Moh. Cai dari Jong Islamiten Bond
Pembantu II : Koco Sungkono dari Pemuda Indonesia
Pembantu III : Senduk dari Jong Cilebes
Pembantu IV : J. Leimena dari Jong Ambon
Pembantu V : Rohyani dari Pemuda Kaum Betawi
Kongres Pemuda II dilaksanakan selama dua hari, 27-28 Oktober 1928. persidangan yang dilaksanakan sebanyak tiga kali di antaranya membahas persatuan dan kebangsaan Indonesia, pendidikan, serta pergerakan kepanduan. Kongres tersebut berhasil mengambil keputusan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda sebagai berikut.
Rumusan tersebut dibuat oleh sekretaris panitia, Moh. Yamin dan dibacakan oleh ketua kongres, Sugondo Joyopuspito, secara hikmat di depan kongres. Selanjutnya diperdengarkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan dan dibawakan oleh W.R. Supratman dengan gesekan biola. Peristiwa bersejarah itu merupakan hasil kerja keras para pemuda pelajar Indonesia. Dengan tiga butir Sumpah Pemuda itu, setiap organisasi pemuda kedaerahan secara konsekuen meleburkan diri kedalam satu wadah yang telah disepakati bersama, yaitu Indonesia Muda.
D. Berkembangnya Taktik Moderat dan Kooperatif dalam Perkembangan Nasional
Berkembangnya taktik moderat dan kooperatif dalam pergerakan nasional Indonesia disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Krisis ekonomi (malaise) yang terjadi sejak tahun 1921 dan berulang pada akhir tahun 1929. Bahkan, pada awal tahun 1930-an krisis ekonomi itu tidak kunjung reda.
2. Kebijakan keras pemerintahan Gubernur Jenderal de Jonge menyebabkan kaum pergerakan, terutama golongan nonkooperatif, sangat menderita. Setiap gerakan yang radikal atau revolusioner akan ditindas dengan alasan bahwa pemerintah kolonial bertanggung jawab atas keadaan di Hindia Belanda.
3. Pada tahun 1930-an, kaum pergerakan nasional terutama yang berada di Eropa menyaksikan bahwa perkembangan paham fasisme dan Naziisme mengancam kedudukan negara-negara demokrasi. Demikian pula Jepang sebagai negara fasis di Asia telah melakukan ekspansinya ke wilayah Pasifik sehingga ada yang mendekatkan kaum nasionalis dengan penguasa kolonial, yaitu mempertahankan demokrasi terhadap bahaya fasisme. Kesadaran itu muncul pertama kali di kalangan Perhimpunan Indoesia yang terlebih dahulu telah melakukan taktik kooperatif.
a. Partindo (1931)
Pada kongres luar biasa PNI di Batavia tanggal 25 April 1931 diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran tersebut menimbulkan pertentangan di kalangan pendukung PNI. Sartono dan pendukungnya membentuk Partai Indonesia (Partindo) pada tanggal 30 April 1931.
Asas dan tujuan serta garis-garis perjuangan PNI masih diteruskan oleh Partindo. Selanjutnya dilakukan upaya menghimpun kembali anggota-anggota PNI yang tercerai-cerai sehingga pada tahun 1931 berhasih dibentuk 12 cabang. Kemudian berkembang menjadi 24 cabang dengan anggota sebanyak 7.000 orang.
Penangkapan kembali Ir. Soekarno pada tanggal 1 Agustus 1933 melemahkan Partindo. Bung Karno diasingkan ke Ende, Flores, pada tahun 1934. karena alasan kesehatan, Bung Karno kemudihan dipindahkan ke Bengkulu pada tahun 1938 dan pada tahun 1942 dipindahkan kepadang karena adanya serbuan Jepang ke Indonesia. Tanpa Ir. Soekarno, Partindo mengalami kemunduran. Partindo keluar dari PPPKI agar PPPKI tidak terhalang geraknya karena adanya larangan untuk mengadakan rapat. Dalam menghadapi keadaan yang sulit itu, untuk kedua kalinya Sartono membubarkan Partindo juga tanpa dukungan penuh dari anggotanya.
b. PNI Baru (1931)
Pada bulan Desember 1931, membentuk Pendidikan Nasional Indonesia(PNI Baru). Mula-mula Sutan Syahir dipilih sebagai ketuanya. Moh. Hatta kemudian dipilih sebagai ketua pada tahun 1932 setelah kembali dari Belanda. Organisasi-organisasi tersebut tetap sama-sama menggunakan taktik perjuangan non-kooperatif dalam mencapai kemerdekaan politik. Adapun perbedaan antara PNI Baru dengan Partindo adalah sebagai berikut:
- PPPKI oleh PNI Baru dianggap sebagai “persatean” bukan persatuan karena anggota-anggotanya memiliki ideologi yang berbeda-beda. Sementara itu, Partindo menganggap PPPKI dapat menjadi wadah persatuan yang kuat daripada mereka berjuang sendiri-sendiri.
- Dalam upaya mencapai kemerdekaan, PNI Baru lebih mengutamakan pendidikan politik dan sosial. Partindo lebih mengandalkan organisasi masa dengan aksi-aksi masa untuk mencapai kemerdekaan.
Pada tahun 1933, PNI Baru telah memiliki 65 cabang. Untuk mempersiapkan masyarakat dalam mencapai kemerdekaan, PNI Baru melakukan kegiatan penerangan untuk rakyat dan penyuluhan koperasi. Kegiatan-kegiatan PNI Baru tersebut dan ditambah dengan sikapnya yang non-kooperatif dianggap oleh pemerintah kolonial membahayakan. Oleh karena itu, pada bulan Februari 1934 Bung Hatta, Sutan Syahir, Maskun, Burhanuddin, Murwoto, dan Bondan ditangkap pemerintah kolonial. Bung Hatta diasingkan ke hulu Sungai Digul, Papua. Kemudian dipindahkan ke Banda Neira pada tahun 1936 dan akhirnya ke Sukabumi pada tahun 1942. Dengan demikian, hanya partai-partai yang bersikap kooperatif saja yang dibiarkan hidup oleh pemerintah kolonial Belanda.
c. Parindra (1935)
Pada bulan Desember 1935 di Solo diadakan kongres yang menghasilkan penggabungan Boedi Oetomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dan melahirkan Partai Indonesia Raya (Parindra). R. Soetomo terpilih sebagai ketua Parindra dengan Surabaya sebagai pusatnya. Tujuannya adalah mencapai Indonesia raya dan mulia. Tokoh-tokoh terkemuka Parindra lainnya ialah Moh. Husni Thamrin dan Sukarjo Wiryopranoto.
Parindra berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil dengan cara mendirikan Rukun Tani, membentuk serikat-serikat pekerja, menganjurkan Swadesi, dan mendirikan Bank Nasional Indonesia. Perjuangan Parindra dalam Volksraad berlangsung hingga akhir penjajahan Belanda. Dalam hal ini terkenal kegigihan Moh. Husni Thamrin dengan membentuk Fraksi Nasional dan GAPI yang berhasil memaksa pemerintah kolonial melakukan beberapa perubahan, seperti memakai bahasa Indonesia dalam siding Volksraad dan mengganti istilah Inlander menjadi Indonesier.
d. Gerindo
Setelah Partindo dibubarkan pada tahun 1936, banyak anggotanya kehilangan wadah perjuangan. Sementara itu, Parindra yang cenderung kooperatif dianggap kurang sesuai. Oleh karena itu, pada bulan Mei 1937 di Jakarta dibentuk Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Tokoh-tokohnya yang terkenal ialah A.K.Gani, Moh. Yamin, Amir Syarifuddin, Sarino Mangunsarkoro, Nyono, Prawoto, Sartono, dan Wilopo.
Gerindo bertujuan mencapai Indonesia merdeka, tetapi dengan asas-asas yang kooperatif. Dalam bidang politik, Gerindo menuntut adanya parlemen yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam bidang ekonomi dibentuk Penuntut Ekonomi Rakyat Indonesia (Peri) yang bertujuan mengumpulkan modal dengan kekuatan kaum buruh dan tani berdasarkan asas nasional-demokrasi-koperasi. Dalam bidang sosial diperjungkan persamaan hak dan kewajiban di dalam masyarakat. Oleh karena itu, Gerindo menerima anggota dari kalangan orang Indo, peranakan Cina, dan Arab.
e. Petisi Sutardjo
Pada tanggal 15 Juli 1936, Sutardjo Kartohadikusumo selaku Persatuan Pegawai Bestuur (PPB) dalam Volkstraad mengajukan usul yang kemudian dikenal dengan petisi Sutardjo. Petisi tersebut berisi permintaan kepada pemerintah kolonial agar diselenggarakan musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan Belanda untuk merencanakan suatu perubahan dalam waktu 10 tahun mendatang, yaitu pemberian status otonom kepada rakyat Indonesia meskipun tetap dalam lingkungan kerajaan Belanda.
Sebelum Indonesia dapat berdiri sendiri, Sutardjo mengusulkan untuk mengambil langkah-langkah memperbaiki keadaan Indonesia, antara lain sebagai berikut:
a. Volksraad dijadikan parlemen yang sesungguhnya
b. Direktur departemen diberikan tanggung jawab
c. Dibentuk Dewan Kerajaan (rijksraad) sebagai badan tertinggi antara Belanda dan Indonesia yang anggota-anggotanya merupakan wakil-wakil kedua belah pihak
d. Penduduk Indonesia adalah orang-orang yang karena kelahiran, asal-usul dan cita-citanya memihak Indonesia.
Petisi itu juga ditandatangani oleh I.J. Kasimo, Sam Ratulangi, Datuk Tumenggung dan Kwo Kwat Tiong. Sebagian besar dari partai-partai dan tokoh-tokoh pergerakan juga mendukung Petisi Sutardjo. Setelah mendapatkan dukungan mayoritas anggota Volksraad, petisi itu kemudian disampaikan kepada pemerintah kerajaan dan Parlemen Belanda.
Golongan yang tidak setuju adalah golongan konservatif dan para pengusaha perkebunan, termasuk kelompok Vanderlandche Club (VC) menganggap petisi itu terlalu prematur dan menganggap bahwa secara ekonomi dan sosial Hindia Belanda (Indonesia) belum cukup untuk dapat berdiri sendiri. Selain itu dipermasalahkan pula tentang dapat dipertahankannya kesatuan wilayah Nusantara dalam lingkungan Pax Nederlandica karena pada kenyataannya kondisi politik Hindia Belanda belum mantap.
Pada tanggal 16 November 1938, pemerintah Belanda memberikan jawaban bahwa petisi itu ditolak dengan alasan-alasan sebagai berikut.
- Perkembangan politik Indonesia belum cukup matang untuk memerintah sendiri sehingga petisi itu dipandang masih terlalu prematur.
- Dipertanyakan juga tentang kependudukan golongan minoritas dalam struktur politik yang baru nanti.
- Tuntutan otonomi dipandang sebagai hal yang tidak alamiah karena pertumbuhan ekonomi, sosial dan politik belum memadai.
Meskipun petisi tersebut ditolak, pemerintah kolonial mulai melaksanakan perubahan pemerintah pada tahun 1938. Pemerintah membentuk provinsi-provinsi di luar Jawa dengan gubernur sebagai wakil pemerintahan pusat, sedangkan Dewan Provinsi bertugas mengatur rumah tangga daerah.
f. Perjuangan GAPI “Indonesia Berparlemen”
Penolakan petisi Sutardjo mendorong munculnya gerakan menuju kesatuan nasional, kesatuan aksi dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Gerakan itu kemudian menjelma menjadi Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pembentukan GAPI dipelopori oleh M.H. Thamrin dari Parindra.
Pelaksanaan program GAPI secara kongret mulai terwujud dalam rapatnya pada tanggal 4 Juli 1939. Dalam rapat itu diputuskan untuk mengadakan Kongres Rakyat Indonesia yang akan memperjuangkan penentuan nasib sendiri serta persatuan dan kesatuan Indonesia. Namun, sebelum aksi dapat dilancarkan secara besar-besaran, pada tanggal 9 Septamber 1939 terdengar kabar bahwa Perang Dunia II telah berkobar. Oleh karena itu, dalam pernyataan pada tanggal 19 September 1939, GAPI menyerukan agar dalam keadaan penuh bahaya dapat dibina hubungan kerja sama yang sebaik-baiknya antara Belanda dan Indonesia.
Aksi pertama GAPI terselenggara dengan mengadakan rapat umum di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1939. Pada pertengahan Desember 1939 diselenggarakan rapat umum di beberapa tempat. Dengan semboyan “Indonesia Berparlemen” dalam setiap aksinya GAPI mendesak pemerintah agar membentuk parlemen yang dipilih dan dari rakyat sebagai pengganti Volksraad dan dengan pemerimtahan yang bertanggung jawab kepada parlemen tersebut. Untuk itu, kepala-kepala departemen harus digantikan menteri-menteri yang bertanggung jawab kepada parlemen.
Tanggapan pemerintah kolonial Belanda baru dikeluarkan pada tanggal 10 Februari 1940 melalui menteri jajahan Welter yang menyatakan bahwa perkembangan dalam bidang jasmani dan rohani akan memerlukan tanggung jawab dalam bidang ketatanegaraan. Sudah barang tentu hak-hak ketatanegaraan memerlukan tanggung jawab dari para pemimpin. Tanggung jawab ini hanya dapat dipikul apabila rakyat telah memahami kebijaksanaan politik. Selama pemerintah Belanda bertanggung jawab atas kebijakan politik di Hindia Belanda, tidak mungkin didirikan parlemen Indonesia yang mengambil alih tanggung jawab tersebut.
Tentu saja penolakan itu menimbulkan kekecewaan, tetapi GAPI masih meneruskan perjuangannya. Dalam rapat tanggal 23 Februari 1940, GAPI menganjurkan pendirian Panitia Parlemen Indonesia sebagai tindak lanjut aksi Indonesia Berparlemen. Akan tetapi, kesempatan bergerak bagi GAPI sudah tidak ada lagi. Pada awal Mei 1940, Belanda diduduki oleh Jerman sehingga Perang Dunia II telah berkobar di Negeri Belanda. Meskipun negerinya sudah diduduki oleh Jerman, tetapi Belanda tidak mau mundur setapak pun dari bumi Indonesia.
Sikap pemerintah Belanda yang konservatif itu tidak mengurangi loyalitas rakyat Indonesia terhadap Belanda, bahkan ada keinginan umum untuk bekerja sama dalam menghadapi perang itu. Sebagai imbalan dari kesetiaan bangsa Indonesia tersebut, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menjanjikan perubahan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Akan tetapi, gagasan mengenai perubahan itu harus disimpan dahulu hingga perang selesai. Pada tanggal 10 Mei 1941 dalam pidatonya, Ratu Wilhelmina menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan suatu penyesuaian ketatanegaraan Belanda terhadap keadaan yang berubah serta menentukan kedudukan daerah seberangdalam struktur Kerajaan Belanda. Akan tetapi, masalah itu pun ditunda hingga Perang Dunia II selesai.
Usulan pembentukan milisi pribumi yang berdasarkan kewajiban warga negara untuk mempertahankan negerinya juga ditolak oleh pemerintah kolonial dengan alasan bahwa perang modern lebih memerlukan angkatan perang yang professional. Sikap menunda itu pun diperlihatkan Belanda pada saat dilontarkan Piagam Atlantik (Atlantic Charter) oleh Perdana Menteri Inggris Woodrow Wilson dan Presiden Amerika Serikat F.D. Roosevelt yang menjamin hak setiap bangsa untuk memilh bentuk pemerintahannya sendiri.
Satu-satunya hasil dari berbagai upaya kaum pergerakan melalui Dewan Rakyat adalah pembentuka Komisi Vismen (Commissie-Visman) pada bulan Maret 1941. Komisi tersebut bertugas meneliti keinginan, cita-cita, serta pendapat yang ada pada berbagai golongan masyarakat mengenai perbaikan pemerintahan. Hasilnya diumumkan pada bulan Desember 1941 yang menyatakan bahwa penduduk sangat puas dengan pemerintah Belanda.
Kata nasionalisme berasal dari kata Nation yang berati bangsa. Dalam bahasa Latin kata Nation berati kelahiran kembali, suku kemudian bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita dan kepentingan bersama. Menurut Han Kohn adalah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu harus diserakan kepada negara dan bangsa. Bangkitnya nasionalisme Indonesia didorong oleh faktor intern dan ekstern.
1. Faktor Intern
Faktor-faktor intern yang menyebabkan lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Kejayaan Bangsa Indonesia sebelum Kedatangan Bangsa Barat
Sebelum kedatangan bangsa Barat, di wilayah Nusantara sudah berdiri kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya, Mataram dan Majapahit. Kejayaan masa lampau itu menjadi sumber inspirasi untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
b. Penderitaan Rakyat akibat Politik Drainage(Pengerukan Kekayaan)
Politik drainage itu mencapai puncaknya ketika diterapkan sistem tanam paksa yang dilanjutkan dengan sistem ekonomi liberal.
c. Adanya Diskriminasi Rasial
Diskriminasi merupakan hal menonjol yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam kehidupan sosial pada awal abad ke-20. Dalam bidang pemerintahan, tidak semua jabatan tersedia bagi kaum pribumi.
d. Munculnya Golongan Terpelajar
Pada awal ke-20, pendidikan mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pemerintah kolonial. Hal itu sejalan dengan diterapkannya politik etis. Melalui penguasaan bahasa asing yang diajarkan di sekolah-sekolah modern, mereka dapat mempelajari berbagai ide-ide dan paham-paham baru yang berkembang di Barat, seperti ide tentang HAM, liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
2. Faktor Ekstern
Lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia juga didorong oleh faktor-faktor ekstern, antara lain berikut ini.
a. Kemenangan Jepang terhadap Rusia (1904-1905)
Kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang telah berhasil mengguncangkan dunia. Kemenangan Jepang tersebut berhasil menggugah kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk melawan penjajahan bangsa-bangsa kulit putih.
b. Kebangkitan Nasionalisme Negara-Negara Asia-Afrika
Kebangkitan nasional bangsa-bangsa Asia-Afrika memberikan dorongan kuat bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan penindasan pemerintahan kolonial. Revolusi Tiongkok (1911) dan pementukan partai Kuomintang oleh Sun Yan Set yang berhasil menjadikan Cina sebagai negara mereka pada tahun (1912).
c. Masuknya Paham-Paham Baru
Paham-paham baru seperti liberalisme, demokrasi dan nasionalisme muncul setelah terjadinya Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Hubungan antara Asia dan Eropa menyebabkan paham-paham itu menyebar dari Eropa ke Asia, termasuk ke Indonesia.
B. ORGANISASI-ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA
1. Boedi Oetomo
Dengan semangat hendak meningkatkan semangat masyarakat, Mas Ngabehi Wahidin Soediro Husodo, seorang doktor jawa dan termasuk seorang priayi, tahun 1906-1907 melakukan kempanye di kalangan priayi di Pulau Jawa.
Pada akhir 1907, Wahidin bertemu dengan Soetomo, pelajar STOVIA di Batavia. Pertemuan tersebut berhasil mendorong didirikannya organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo pada hari rabu tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Soetomo kemudian ditunjuk sebagai ketuanya. Tanggal berdirinya Boedi Oetomo hingga saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
2. Sarekat Islam
Pada akhir 1911, Haji Samanhudi di Solo menghimpun para pengusaha batik di dalam sebuah organisasi yang bercorak agama dan ekonomi, yaitu Sarekat Dagang Islam (SDI).
Setahun kemudian pada bulan November 1912 nama SDI diganti menjadi Sarekat Islam (SI) dengan ketuanya Haji Oemar Said Cokroaminoto, sedangkan Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Perubahan nama tersebut bertujuan agar keanggotaannya menjadi luas, bukan hanya dari kalangan pedagang. Apabila dilihat dari anggaran dasarnya, tujuan pendirian Sarekat Islam adalah sebagai berikut.
A. Mengembangkan jiwa dagang.
B. Memberikan bantuan kepada anggota-anggota yang kesulitan.
C. Memajukan pengajaran dan semua.
D. Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam.
Aktivitas SI lebih mengutamakan politik tidak disetujui oleh sebagian besar anggotanya. Mereka menginginkan SI memperhatikan masalah-masalah keagamaan. Dalam kondisi itu SI memutuskan untuk bekerja sama dengan pemerintahan kolonial dan berganti nama menjadi Partai Sarikat Islam. Sehubungan dengan meluasnya semangat persatuan dan Sumpah Pemuda, nama tersebut diubah menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1930 dengan ketuanya Haji Agus Salim.
3. Indische Partij
Indische Partij berdiri di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912. Organisasi ini juga dimaksudkan sebagai pengganti Indische Bond. Sebagai organisasi kaum Indonesia dan Eropa yang didirikan pada tahun 1898. Ketiga tokoh pendiri Indische Partij dikenal dengan Tiga Serangkai, yaitu Douwes Dekker (Danudirdja Setiabudi), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Indische Partij merupakan pergerakan nasional yang bersifat politik murni dengan semangat nasionalisme modern.
Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai National Home bagi semua orang, baik penduduk bumi putera maupun keturunan Belanda, Cina, dan Arab, yang mengaku Indonesia sebagai tanah air dan kebangsaannya. Paham ini pada waktu itu dikenal sebagai Indisch Nasionalisme, yang selanjutnya melalui perhimpunan Indonesia dan PNI, diubah menjadi Indonesische Nationalisme atau Nasional Indonesia. Hal itulah yang menyatakan bahwa Indische Partij sebagai partai politik pertama di Indonesia.
4. Perhimpunan Indonesia
Perhimpunan Indonesia didirikan pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di Belanda, antara lain Sutan Kasayangan dan R.N Noto Suroto. Mula-mula organisasi itu bernama Indische Vereeniging. Akan tetapi sejak berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialisme dan imperialisme di kalangan pemimpin-pemimpin Indische Vereeniging semakin menonjol.
Pada tahun 1922, Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging. Sejak tahun 1925, selain nama dalam bahasa Belanda juga digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu Perhimpunan Indonesia. Oleh karena itu, semakin tegas bahwa PI bergerak dalam bidang politik.
Dalam kalangan pergerakan nasional di Indonesia, pengaruh PI cukup besar. Beberapa organisasi pergerakan nasional mulai lahir karena mendapatkan inspirasi dari PI, seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun 1926, Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927, dan Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) tahun 1927.
5. Partai Komunis Indonesia
Ketika Sosial Democratische Arbeiderspartij (SDAP) di Belanda pada tahun 1918 mengumumkan dirinya menjadi Partai Komunis Belanda (CPN), para anggota ISDV dari golongan Eropa mengusulkan mengikuti jejak itu. Oleh karena itu, pada tanggal 23 Mei 1920 diubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Di dalam susunan pengurus baru terbentuk tertera antara lain Semaun sebagai ketua, Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, Dekker sebagai bendahara, serta Baars dan Sugono sebagai anggota pengurus. PKI tumbuh menjadi partai politik dengah jumlah yang sangat besar. Akan tetapi karena jumlah anggotanya intinya kecil, partai itu kurang dapat mengontrol dan menanamkan disiplin kepada anggotanya.
Setelah berhasil menempatkan dirinya sebagai partai besar, PKI merasa sudah kuat untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1926. Hampir sepuluh tahun kemudian, Komitern mengirimkan seorang tokoh komunis kembali ke Indonesia. Tokoh tersebut ialah Musso yang pada bulan April 1935 mendarat di Surabaya. Dengan bantuan Joko Sujono, Pamuji, dan Achmad Sumadi, ia membentuk yang diberi nama PKI Ilegal. Kegiatan utama kaum komunis kemudian disalurkan melalui Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) dengan tokoh utamanya Amir Syarifudin.
6. Partai Nasional Indonesia
Partai Nasional Indonesia (PNI) dibentuk di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 dengan tokoh-tokohnya Ir. Soekarno, Iskaq, Budiarto, Cipto Mangunkusumo, Tilaar, Soedjadi, dan Soenaryo. Dalam pengurus besar PNI, Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketua, Iskaq sebagai sekretaris/bendahara, dan Dr. Samsi sebagai komisaris. Sementara itu dalam perekrutan anggota disebutkan bahwa mantan anggota PKI tidak diperkenankan menjadi anggota PNI, juga pegawai negeri yang memungkinkan berperan sebagai mata-mata pemerintah kolonial. Ada dua macam cara yang dilakukan oleh PNI untuk memperkuat diri dan pengaruhnya di dalam masyarakat, yaitu:
a. Usaha ke dalam: Usaha-usaha terhadap lingkungan sendiri, antara lain mengadakan kursus-kursus, mendirikan sekolah-sekolah dan bank-bank.
b. Usaha ke luar: Dengan memeperkuat opini publik terhadap tujuan PNI, antara lain melalui rapat-rapat umum dan menerbitkan surat kabar Benteng Priangan di Bandung dan Persatuan Indonesia di Batavia.
Peningkatan kegiatan rapat-rapat umum di cabang-cabang sejak bulan Mei 1929 menimbulkan suasana yang tegang. Pemerintah kolonial Belanda lebih banyak melakukan pengawasan secara tegas terhadap kegiata-kegiatan PNI yang dianggap membahayakan keamanan dan ketertiban. Sering kali polisi menghentikan pidato karena dianggap telah menghasut rakyat.
Akhirnya pemerintah Hindia Belanda beranggapan bahwa tiba saatnya untuk melakukan tindakan terhadap PNI. Bahkan Gubernur Jenderal de Graef telah mendapatkan tekanan dari konservatif Belanda yang tergabung dalam Vanderlansche Club untuk bertindak tegas karena mereka berkeyakinan bahwa PNI melanjutkan taktik PKI.
C. Upaya-Upaya Menggalang Persatuan
1. Pembentukan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
Di kalangan pemimpin pergerakan nasional muncul gagasan untuk membentuk gabungan (fusi) dari partai-partai politik yang ada. Tujuannya untuk memperkuat dan mempersatukan tindakan-tindakan dalam menghadapi pemerintah kolonial. Usaha itu dirintis oleh Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Islamiten Bond, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon dan Sarekat Madura. Pada bulan September 1926 berhasil dibentuk Komite Persatuan Indonesia. Akan tetapi, usaha tersebut tidak berhasil dengan baik sehingga tidak satu pun organisasi gabungan (fusi) yang dihasilkan.
Pada tanggal 17-18 Desember 1927 diadakan sidang di Bandung yang dihadiri oleh wakil-wakil dari PNI, Algemeene Studieclub, PSI (Partai sarekat Islam), Boedi Oetomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Kaum Betawi, dan Indinesische studieclib. Sidang tersebut memutuskan untuk membentuk (PPPKI) dengan tujuan sebagai berikut.
Sebagai suatu alat organisasi yang tetap dari federasi itu, dibentuklah dewan pertimbangan yang terdiri atas seorang ketua, sekretaris, bendahara, dan wakil partai-partai yang bergabung. Dr. Soetomo dari Studieclub sebagai Ketua Majelis Pertimbangan dan Ir. Anwari dari PNI sebagai sekretaris.
2. Gerakan Pemuda
1. Gerakan Pemuda Kedaerahan
Trikoro Dharmo merupakan organisasi pemuda kedaerahaan pertama di Indonesia. Trikoro Dharmo didirikan di Gedung Stovia pada tanggal 7 Maret 1915 oleh pemuda-pemuda Jawa, seperti Satiman, Kadarman, Sumardi, Jaksodipuro (Wongsonegoro), Sarwono, dan Mawardi. Trikoro Dharmo berarti tiga tujuan mulia, yaitu Sakti, Budi dan Bhakti.
Kenggotaan Trikoro Dharmo pada mulanya hanya terbatas pada kalangan pemuda dari Jawa dan Madura. Akan tetapi, diperluas dengan semboyannya Jawa Raya yang meliputi Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok. Pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta berdiri organisasi Jong Sumatranen Bond. Tokoh-tokoh nasional yang pernah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond, antara lain Moh.Hatta, Moh.Yamin, M. Tasil, Bahder Djohan, dan Abu Hanifah. Jong Minahasa berdiri pada tanggal 5 Januari 1918 di Manado dengan tokohnya A.J.H.W.Kawilarang dan V.Adam. Jong Celebes dengan tokoh-tokohnya Arnold Monomutu, Waworuntu, dan Magdalena Mokoginta. Jong Ambon berdiri pula pada tanggal 1 Juni 1923 di Jakarta.
Dengan semangat kedaerahaannya itu, pada kongres Trikoro Dharmo di Solo tanggal 12 Juni 1918 nama trikoro Dharmo diubah menjadi Jong Java. Kegiatan Jong Java masih tetap bergerak dalam bidang sosial budaya. Pada kongres kelima bulan Mei 1922 di Solo dan kongres luar biasa Desember 1922 ditetapkan bahwa Jong Java tidak akan mencampuri masalah politik. Anggota Jong Java hanya diperbolehkan terjun dalam dunia politik setelah mereka tamat belajar.
2. Kongres Pemuda Indonesia
1. Kongres Pemuda I
Keinginan untuk bersatu seperti yang didengung-dengungkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) telah tertanam dalam sanubari pemuda-pemuda Indonesia. Untuk itu, pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta diadakan kongres pemuda Indonesia yang pertama.
Dalam kongres itu dilakukan beberapa kali pidato tentang pentingnya Indonesia bersatu. Disampaikan pula tentang upaya-upaya memperkuat rasa persatuan yang harus tumbuh di atas kepentingan golongan, bangsa dan agama. Selanjutnya juga dibicarakan tentang kemungkinan bahasa dan kesusastraan Indonesia kelak dikemudian hari.
Para mahasiswa Jakarta dalam kongres tersebut juga membicarakan tentang upaya mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda menjadi satu badan gabumgan (fusi). Walaupun pembicaraan mengenai fusi tidak membuahkan hasil yang memuaskan, kongres itu telah memperkuat cita-cita Indonesia bersatu.
2. Kongres Pemuda II
Kongres Pemuda II diadakan dua tahun setelah Kongres Pemuda Indonesia pertama, tepatnya pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres itu dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulan-perkumpulan pemuda ketika itu diantara lain Pemuda Sumatera, Pemuda Indonesia, Jong Bataksche Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamiten Bond, Jong Java, Jong Ambon dan Jong Celebes. PPPI yang memimpin kongres ini sengaja mengarahkan kongres pada terjadinya fusi organisasi-organisasi pemuda.
Susunan panitia Kongres Pemuda II yang sudah terbentuk sejak bulan Juni 1928 adalah sebagai berikut.
Ketua : Sugondo Joyopuspito dari PPPI
Wakil ketua : Joko Marsaid dari Jong Java
Sekretaris : Moh. Yamin dari Jong Sumatranen Bond
Bendahara : Amir Syarifuddin dari Jong Bataksche Bond
Pembantu I : Johan Moh. Cai dari Jong Islamiten Bond
Pembantu II : Koco Sungkono dari Pemuda Indonesia
Pembantu III : Senduk dari Jong Cilebes
Pembantu IV : J. Leimena dari Jong Ambon
Pembantu V : Rohyani dari Pemuda Kaum Betawi
Kongres Pemuda II dilaksanakan selama dua hari, 27-28 Oktober 1928. persidangan yang dilaksanakan sebanyak tiga kali di antaranya membahas persatuan dan kebangsaan Indonesia, pendidikan, serta pergerakan kepanduan. Kongres tersebut berhasil mengambil keputusan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda sebagai berikut.
Rumusan tersebut dibuat oleh sekretaris panitia, Moh. Yamin dan dibacakan oleh ketua kongres, Sugondo Joyopuspito, secara hikmat di depan kongres. Selanjutnya diperdengarkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan dan dibawakan oleh W.R. Supratman dengan gesekan biola. Peristiwa bersejarah itu merupakan hasil kerja keras para pemuda pelajar Indonesia. Dengan tiga butir Sumpah Pemuda itu, setiap organisasi pemuda kedaerahan secara konsekuen meleburkan diri kedalam satu wadah yang telah disepakati bersama, yaitu Indonesia Muda.
D. Berkembangnya Taktik Moderat dan Kooperatif dalam Perkembangan Nasional
Berkembangnya taktik moderat dan kooperatif dalam pergerakan nasional Indonesia disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Krisis ekonomi (malaise) yang terjadi sejak tahun 1921 dan berulang pada akhir tahun 1929. Bahkan, pada awal tahun 1930-an krisis ekonomi itu tidak kunjung reda.
2. Kebijakan keras pemerintahan Gubernur Jenderal de Jonge menyebabkan kaum pergerakan, terutama golongan nonkooperatif, sangat menderita. Setiap gerakan yang radikal atau revolusioner akan ditindas dengan alasan bahwa pemerintah kolonial bertanggung jawab atas keadaan di Hindia Belanda.
3. Pada tahun 1930-an, kaum pergerakan nasional terutama yang berada di Eropa menyaksikan bahwa perkembangan paham fasisme dan Naziisme mengancam kedudukan negara-negara demokrasi. Demikian pula Jepang sebagai negara fasis di Asia telah melakukan ekspansinya ke wilayah Pasifik sehingga ada yang mendekatkan kaum nasionalis dengan penguasa kolonial, yaitu mempertahankan demokrasi terhadap bahaya fasisme. Kesadaran itu muncul pertama kali di kalangan Perhimpunan Indoesia yang terlebih dahulu telah melakukan taktik kooperatif.
a. Partindo (1931)
Pada kongres luar biasa PNI di Batavia tanggal 25 April 1931 diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran tersebut menimbulkan pertentangan di kalangan pendukung PNI. Sartono dan pendukungnya membentuk Partai Indonesia (Partindo) pada tanggal 30 April 1931.
Asas dan tujuan serta garis-garis perjuangan PNI masih diteruskan oleh Partindo. Selanjutnya dilakukan upaya menghimpun kembali anggota-anggota PNI yang tercerai-cerai sehingga pada tahun 1931 berhasih dibentuk 12 cabang. Kemudian berkembang menjadi 24 cabang dengan anggota sebanyak 7.000 orang.
Penangkapan kembali Ir. Soekarno pada tanggal 1 Agustus 1933 melemahkan Partindo. Bung Karno diasingkan ke Ende, Flores, pada tahun 1934. karena alasan kesehatan, Bung Karno kemudihan dipindahkan ke Bengkulu pada tahun 1938 dan pada tahun 1942 dipindahkan kepadang karena adanya serbuan Jepang ke Indonesia. Tanpa Ir. Soekarno, Partindo mengalami kemunduran. Partindo keluar dari PPPKI agar PPPKI tidak terhalang geraknya karena adanya larangan untuk mengadakan rapat. Dalam menghadapi keadaan yang sulit itu, untuk kedua kalinya Sartono membubarkan Partindo juga tanpa dukungan penuh dari anggotanya.
b. PNI Baru (1931)
Pada bulan Desember 1931, membentuk Pendidikan Nasional Indonesia(PNI Baru). Mula-mula Sutan Syahir dipilih sebagai ketuanya. Moh. Hatta kemudian dipilih sebagai ketua pada tahun 1932 setelah kembali dari Belanda. Organisasi-organisasi tersebut tetap sama-sama menggunakan taktik perjuangan non-kooperatif dalam mencapai kemerdekaan politik. Adapun perbedaan antara PNI Baru dengan Partindo adalah sebagai berikut:
- PPPKI oleh PNI Baru dianggap sebagai “persatean” bukan persatuan karena anggota-anggotanya memiliki ideologi yang berbeda-beda. Sementara itu, Partindo menganggap PPPKI dapat menjadi wadah persatuan yang kuat daripada mereka berjuang sendiri-sendiri.
- Dalam upaya mencapai kemerdekaan, PNI Baru lebih mengutamakan pendidikan politik dan sosial. Partindo lebih mengandalkan organisasi masa dengan aksi-aksi masa untuk mencapai kemerdekaan.
Pada tahun 1933, PNI Baru telah memiliki 65 cabang. Untuk mempersiapkan masyarakat dalam mencapai kemerdekaan, PNI Baru melakukan kegiatan penerangan untuk rakyat dan penyuluhan koperasi. Kegiatan-kegiatan PNI Baru tersebut dan ditambah dengan sikapnya yang non-kooperatif dianggap oleh pemerintah kolonial membahayakan. Oleh karena itu, pada bulan Februari 1934 Bung Hatta, Sutan Syahir, Maskun, Burhanuddin, Murwoto, dan Bondan ditangkap pemerintah kolonial. Bung Hatta diasingkan ke hulu Sungai Digul, Papua. Kemudian dipindahkan ke Banda Neira pada tahun 1936 dan akhirnya ke Sukabumi pada tahun 1942. Dengan demikian, hanya partai-partai yang bersikap kooperatif saja yang dibiarkan hidup oleh pemerintah kolonial Belanda.
c. Parindra (1935)
Pada bulan Desember 1935 di Solo diadakan kongres yang menghasilkan penggabungan Boedi Oetomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dan melahirkan Partai Indonesia Raya (Parindra). R. Soetomo terpilih sebagai ketua Parindra dengan Surabaya sebagai pusatnya. Tujuannya adalah mencapai Indonesia raya dan mulia. Tokoh-tokoh terkemuka Parindra lainnya ialah Moh. Husni Thamrin dan Sukarjo Wiryopranoto.
Parindra berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil dengan cara mendirikan Rukun Tani, membentuk serikat-serikat pekerja, menganjurkan Swadesi, dan mendirikan Bank Nasional Indonesia. Perjuangan Parindra dalam Volksraad berlangsung hingga akhir penjajahan Belanda. Dalam hal ini terkenal kegigihan Moh. Husni Thamrin dengan membentuk Fraksi Nasional dan GAPI yang berhasil memaksa pemerintah kolonial melakukan beberapa perubahan, seperti memakai bahasa Indonesia dalam siding Volksraad dan mengganti istilah Inlander menjadi Indonesier.
d. Gerindo
Setelah Partindo dibubarkan pada tahun 1936, banyak anggotanya kehilangan wadah perjuangan. Sementara itu, Parindra yang cenderung kooperatif dianggap kurang sesuai. Oleh karena itu, pada bulan Mei 1937 di Jakarta dibentuk Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Tokoh-tokohnya yang terkenal ialah A.K.Gani, Moh. Yamin, Amir Syarifuddin, Sarino Mangunsarkoro, Nyono, Prawoto, Sartono, dan Wilopo.
Gerindo bertujuan mencapai Indonesia merdeka, tetapi dengan asas-asas yang kooperatif. Dalam bidang politik, Gerindo menuntut adanya parlemen yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam bidang ekonomi dibentuk Penuntut Ekonomi Rakyat Indonesia (Peri) yang bertujuan mengumpulkan modal dengan kekuatan kaum buruh dan tani berdasarkan asas nasional-demokrasi-koperasi. Dalam bidang sosial diperjungkan persamaan hak dan kewajiban di dalam masyarakat. Oleh karena itu, Gerindo menerima anggota dari kalangan orang Indo, peranakan Cina, dan Arab.
e. Petisi Sutardjo
Pada tanggal 15 Juli 1936, Sutardjo Kartohadikusumo selaku Persatuan Pegawai Bestuur (PPB) dalam Volkstraad mengajukan usul yang kemudian dikenal dengan petisi Sutardjo. Petisi tersebut berisi permintaan kepada pemerintah kolonial agar diselenggarakan musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan Belanda untuk merencanakan suatu perubahan dalam waktu 10 tahun mendatang, yaitu pemberian status otonom kepada rakyat Indonesia meskipun tetap dalam lingkungan kerajaan Belanda.
Sebelum Indonesia dapat berdiri sendiri, Sutardjo mengusulkan untuk mengambil langkah-langkah memperbaiki keadaan Indonesia, antara lain sebagai berikut:
a. Volksraad dijadikan parlemen yang sesungguhnya
b. Direktur departemen diberikan tanggung jawab
c. Dibentuk Dewan Kerajaan (rijksraad) sebagai badan tertinggi antara Belanda dan Indonesia yang anggota-anggotanya merupakan wakil-wakil kedua belah pihak
d. Penduduk Indonesia adalah orang-orang yang karena kelahiran, asal-usul dan cita-citanya memihak Indonesia.
Petisi itu juga ditandatangani oleh I.J. Kasimo, Sam Ratulangi, Datuk Tumenggung dan Kwo Kwat Tiong. Sebagian besar dari partai-partai dan tokoh-tokoh pergerakan juga mendukung Petisi Sutardjo. Setelah mendapatkan dukungan mayoritas anggota Volksraad, petisi itu kemudian disampaikan kepada pemerintah kerajaan dan Parlemen Belanda.
Golongan yang tidak setuju adalah golongan konservatif dan para pengusaha perkebunan, termasuk kelompok Vanderlandche Club (VC) menganggap petisi itu terlalu prematur dan menganggap bahwa secara ekonomi dan sosial Hindia Belanda (Indonesia) belum cukup untuk dapat berdiri sendiri. Selain itu dipermasalahkan pula tentang dapat dipertahankannya kesatuan wilayah Nusantara dalam lingkungan Pax Nederlandica karena pada kenyataannya kondisi politik Hindia Belanda belum mantap.
Pada tanggal 16 November 1938, pemerintah Belanda memberikan jawaban bahwa petisi itu ditolak dengan alasan-alasan sebagai berikut.
- Perkembangan politik Indonesia belum cukup matang untuk memerintah sendiri sehingga petisi itu dipandang masih terlalu prematur.
- Dipertanyakan juga tentang kependudukan golongan minoritas dalam struktur politik yang baru nanti.
- Tuntutan otonomi dipandang sebagai hal yang tidak alamiah karena pertumbuhan ekonomi, sosial dan politik belum memadai.
Meskipun petisi tersebut ditolak, pemerintah kolonial mulai melaksanakan perubahan pemerintah pada tahun 1938. Pemerintah membentuk provinsi-provinsi di luar Jawa dengan gubernur sebagai wakil pemerintahan pusat, sedangkan Dewan Provinsi bertugas mengatur rumah tangga daerah.
f. Perjuangan GAPI “Indonesia Berparlemen”
Penolakan petisi Sutardjo mendorong munculnya gerakan menuju kesatuan nasional, kesatuan aksi dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Gerakan itu kemudian menjelma menjadi Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pembentukan GAPI dipelopori oleh M.H. Thamrin dari Parindra.
Pelaksanaan program GAPI secara kongret mulai terwujud dalam rapatnya pada tanggal 4 Juli 1939. Dalam rapat itu diputuskan untuk mengadakan Kongres Rakyat Indonesia yang akan memperjuangkan penentuan nasib sendiri serta persatuan dan kesatuan Indonesia. Namun, sebelum aksi dapat dilancarkan secara besar-besaran, pada tanggal 9 Septamber 1939 terdengar kabar bahwa Perang Dunia II telah berkobar. Oleh karena itu, dalam pernyataan pada tanggal 19 September 1939, GAPI menyerukan agar dalam keadaan penuh bahaya dapat dibina hubungan kerja sama yang sebaik-baiknya antara Belanda dan Indonesia.
Aksi pertama GAPI terselenggara dengan mengadakan rapat umum di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1939. Pada pertengahan Desember 1939 diselenggarakan rapat umum di beberapa tempat. Dengan semboyan “Indonesia Berparlemen” dalam setiap aksinya GAPI mendesak pemerintah agar membentuk parlemen yang dipilih dan dari rakyat sebagai pengganti Volksraad dan dengan pemerimtahan yang bertanggung jawab kepada parlemen tersebut. Untuk itu, kepala-kepala departemen harus digantikan menteri-menteri yang bertanggung jawab kepada parlemen.
Tanggapan pemerintah kolonial Belanda baru dikeluarkan pada tanggal 10 Februari 1940 melalui menteri jajahan Welter yang menyatakan bahwa perkembangan dalam bidang jasmani dan rohani akan memerlukan tanggung jawab dalam bidang ketatanegaraan. Sudah barang tentu hak-hak ketatanegaraan memerlukan tanggung jawab dari para pemimpin. Tanggung jawab ini hanya dapat dipikul apabila rakyat telah memahami kebijaksanaan politik. Selama pemerintah Belanda bertanggung jawab atas kebijakan politik di Hindia Belanda, tidak mungkin didirikan parlemen Indonesia yang mengambil alih tanggung jawab tersebut.
Tentu saja penolakan itu menimbulkan kekecewaan, tetapi GAPI masih meneruskan perjuangannya. Dalam rapat tanggal 23 Februari 1940, GAPI menganjurkan pendirian Panitia Parlemen Indonesia sebagai tindak lanjut aksi Indonesia Berparlemen. Akan tetapi, kesempatan bergerak bagi GAPI sudah tidak ada lagi. Pada awal Mei 1940, Belanda diduduki oleh Jerman sehingga Perang Dunia II telah berkobar di Negeri Belanda. Meskipun negerinya sudah diduduki oleh Jerman, tetapi Belanda tidak mau mundur setapak pun dari bumi Indonesia.
Sikap pemerintah Belanda yang konservatif itu tidak mengurangi loyalitas rakyat Indonesia terhadap Belanda, bahkan ada keinginan umum untuk bekerja sama dalam menghadapi perang itu. Sebagai imbalan dari kesetiaan bangsa Indonesia tersebut, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menjanjikan perubahan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Akan tetapi, gagasan mengenai perubahan itu harus disimpan dahulu hingga perang selesai. Pada tanggal 10 Mei 1941 dalam pidatonya, Ratu Wilhelmina menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan suatu penyesuaian ketatanegaraan Belanda terhadap keadaan yang berubah serta menentukan kedudukan daerah seberangdalam struktur Kerajaan Belanda. Akan tetapi, masalah itu pun ditunda hingga Perang Dunia II selesai.
Usulan pembentukan milisi pribumi yang berdasarkan kewajiban warga negara untuk mempertahankan negerinya juga ditolak oleh pemerintah kolonial dengan alasan bahwa perang modern lebih memerlukan angkatan perang yang professional. Sikap menunda itu pun diperlihatkan Belanda pada saat dilontarkan Piagam Atlantik (Atlantic Charter) oleh Perdana Menteri Inggris Woodrow Wilson dan Presiden Amerika Serikat F.D. Roosevelt yang menjamin hak setiap bangsa untuk memilh bentuk pemerintahannya sendiri.
Satu-satunya hasil dari berbagai upaya kaum pergerakan melalui Dewan Rakyat adalah pembentuka Komisi Vismen (Commissie-Visman) pada bulan Maret 1941. Komisi tersebut bertugas meneliti keinginan, cita-cita, serta pendapat yang ada pada berbagai golongan masyarakat mengenai perbaikan pemerintahan. Hasilnya diumumkan pada bulan Desember 1941 yang menyatakan bahwa penduduk sangat puas dengan pemerintah Belanda.
peradaba eropa
Kebudayaan Kreta (Crete, Kritti) merupakan salah satu peradaban yang sempat berjaya, hingga pada masa Raja Minos (periode Minoan),kejayaan bangsa ini mencapai puncak-nya. Pada waktu itu Raja Minos me-nguasai Laut Aegean, hingga Swedia, sehingga mampu menyatukan segenap dataran Eropa, Asia, dan Afrika. Kerajaan Minos telah memanfaatkan letak geografisnya yang strategis, mengembangkan bidang pelayarannya dan memperkuat armada lautnya, armada ini merupakan angkatan laut yang pertama ada di dunia. Kehebatan armada maritim Minos telah berhasil membuat kerajaan ini membina hubungan dagang yang baik dengan Mesir, Syria, Babylon, Asia Kecil, dan lain – lain, bahkan menjadi negara yang menguasai lautan, berbagai kepulauan di Laut Aegean ramai – ramai membina hubungan de-ngan pertukaran duta negara, Swedia bahkan menyetor upeti pada Minos. Namun pada akhirnya bangsa ini hancur karena bencana alam.
Pada tahun 1967, arkeolog Amerika berhasil menggali sebuah kota perdagangan di bawah lapisan abu gunung berapi di pulau Santorini setebal 60 meter. Setelah diteliti, kota ini terkubur disana pada tahun 1500 SM oleh abu akibat ledakan gunung berapi. Mungkin letusan itu merupakan letusan gunung berapi paling dasyat sepanjang sejarah manusia, luas area yang ditutup oleh debu hasil letusan itu mencapai 62,5 km persegi, kota di atas pulau tersebut tertimbun hanya dalam sekejap mata oleh abu yang sedemikian tebal itu, sekaligus juga membawa pengaruh besar terhadap pesisir Laut Tengah dan kepulauan sekitarnya. Berdasarkan catatan, Mesir pada waktu itu diselimuti oleh kegelap-an sepanjang hari selama 3 hari berturut – turut. Selain itu ledakan tersebut juga mengakibatkan terjadinya gelombang Tsunami, dengan ombak yang mencapai 50 meter tingginya, gelombang maha dasyat tersebut telah menenggelamkan seluruh kota dan desa di atas Pulau Crete, termasuk juga Kerajaan Minoan pun lenyap seketika.
Apa Penyebab Sesungguhnya Yang Telah Melenyapkan Kebudayaan Kreta ?
Pada tahun 1980, arkeolog Inggris berhasil menemukan sisa reruntuhan sebuah istana di Knossos, di pulau Crete. Luas arealnya sekitar 2 hektar, dengan ratusan bangunan rumah di dalamnya, yang dihubungkan dengan banyak jalan dan lorong, strukturnya sangat rumit dan belum pernah dijumpai sebelumnya. Di tengah terdapat sebuah lambang bergambar sepasang kapak, para peneliti sependapat bahwa ini merupakan Istana Kapak Ganda milik raja Minos (dalam cerita kuno Yunani pernah disinggung adanya lambang kapak ganda sebagai simbol dari istana yang terdapat di pulau Crete). Dinding – dinding di bagian dalam istana dipenuhi dengan lukisan yang indah dengan corak yang cerah, mencerminkan kemegahan kerajaan di masa tersebut dan kemakmuran kala itu. Banyak ditemukannya peralatan dari bahan logam dan keramik menandakan seni para penduduk Crete kala itu sangat maju.
Hal yang paling menarik perhatian dari penemuan tersebut adalah lem-pengan – lempengan terbuat dari tanah liat yang berukir abjad, salah satu di antaranya bertuliskan : “Swedia telah mempersembahkan 7 orang wanita, anak lelaki dan perempuan masing – masing satu orang.” Di luar dugaan, para arkeolog pun berhasil menemukan tumpukan tulang manusia yang jumlahnya mencapai 200 potong lebih, yang merupakan tulang tengkorak anak yang berusia antara 10 – 15 tahun, yang masih meninggalkan bekas dibunuh dengan benda tajam. Setelah itu para arkeolog juga menemukan sebuah biara pemujaan. Dalam temuan itu terbukti bahwa penduduk Crete telah melakukan pemujaan dengan mengorbankan manusia hidup! Di dalam biara tersebut ditemukan berbagai jenis wadah dari bahan keramik yang digunakan untuk melakukan pemujaan, di atas meja pemujaan tergeletak seonggok tengkorak dari seorang remaja dengan tinggi badan sekitar 165 cm, di samping meja pemujaan tersebut juga ditemukan ada sebuah wadah tempat menampung darah dari sang korban, dan sebilah pisau dari tembaga yang digunakan untuk membunuh. Sementara di dekat situ terdapat seonggok tumpukan tengkorak lain dengan posisi kepala menengadah ke atas, mengenakan cincin perak di salah satu jarinya, dan seonggok lagi tengkorak yang sedang menutupi wajah sang korban, mungkin adalah tulang tengkorak sang ketua upacara beserta asistennya. Tak jauh dari tempat itu ada sekumpulan tulang tengkorak yang serampangan, yang diduga merupakan para pejabat dan pembantu, yang tidak sempat lagi melarikan diri pada saat bencana terjadi dan mati di tempat itu. Dilihat dari keadaan situs temuan tersebut, arkeolog menyimpulkan bahwa : Pada saat para penduduk Crete sedang melangsungkan upacara pengorbanan manusia hidup, yang bertujuan untuk memohon agar terhindar dari bencana, malah justru telah me-ngundang terjadinya gempa bumi dan bencana maha dasyat, yang telah merobohkan seketika atap tempat upacara berlangsung dan menimpa semua orang yang ada di dalamnya! Hal ini harunya dapat dijadikan pelajaran bagi kita.
Pada tahun 1967, arkeolog Amerika berhasil menggali sebuah kota perdagangan di bawah lapisan abu gunung berapi di pulau Santorini setebal 60 meter. Setelah diteliti, kota ini terkubur disana pada tahun 1500 SM oleh abu akibat ledakan gunung berapi. Mungkin letusan itu merupakan letusan gunung berapi paling dasyat sepanjang sejarah manusia, luas area yang ditutup oleh debu hasil letusan itu mencapai 62,5 km persegi, kota di atas pulau tersebut tertimbun hanya dalam sekejap mata oleh abu yang sedemikian tebal itu, sekaligus juga membawa pengaruh besar terhadap pesisir Laut Tengah dan kepulauan sekitarnya. Berdasarkan catatan, Mesir pada waktu itu diselimuti oleh kegelap-an sepanjang hari selama 3 hari berturut – turut. Selain itu ledakan tersebut juga mengakibatkan terjadinya gelombang Tsunami, dengan ombak yang mencapai 50 meter tingginya, gelombang maha dasyat tersebut telah menenggelamkan seluruh kota dan desa di atas Pulau Crete, termasuk juga Kerajaan Minoan pun lenyap seketika.
Apa Penyebab Sesungguhnya Yang Telah Melenyapkan Kebudayaan Kreta ?
Pada tahun 1980, arkeolog Inggris berhasil menemukan sisa reruntuhan sebuah istana di Knossos, di pulau Crete. Luas arealnya sekitar 2 hektar, dengan ratusan bangunan rumah di dalamnya, yang dihubungkan dengan banyak jalan dan lorong, strukturnya sangat rumit dan belum pernah dijumpai sebelumnya. Di tengah terdapat sebuah lambang bergambar sepasang kapak, para peneliti sependapat bahwa ini merupakan Istana Kapak Ganda milik raja Minos (dalam cerita kuno Yunani pernah disinggung adanya lambang kapak ganda sebagai simbol dari istana yang terdapat di pulau Crete). Dinding – dinding di bagian dalam istana dipenuhi dengan lukisan yang indah dengan corak yang cerah, mencerminkan kemegahan kerajaan di masa tersebut dan kemakmuran kala itu. Banyak ditemukannya peralatan dari bahan logam dan keramik menandakan seni para penduduk Crete kala itu sangat maju.
Hal yang paling menarik perhatian dari penemuan tersebut adalah lem-pengan – lempengan terbuat dari tanah liat yang berukir abjad, salah satu di antaranya bertuliskan : “Swedia telah mempersembahkan 7 orang wanita, anak lelaki dan perempuan masing – masing satu orang.” Di luar dugaan, para arkeolog pun berhasil menemukan tumpukan tulang manusia yang jumlahnya mencapai 200 potong lebih, yang merupakan tulang tengkorak anak yang berusia antara 10 – 15 tahun, yang masih meninggalkan bekas dibunuh dengan benda tajam. Setelah itu para arkeolog juga menemukan sebuah biara pemujaan. Dalam temuan itu terbukti bahwa penduduk Crete telah melakukan pemujaan dengan mengorbankan manusia hidup! Di dalam biara tersebut ditemukan berbagai jenis wadah dari bahan keramik yang digunakan untuk melakukan pemujaan, di atas meja pemujaan tergeletak seonggok tengkorak dari seorang remaja dengan tinggi badan sekitar 165 cm, di samping meja pemujaan tersebut juga ditemukan ada sebuah wadah tempat menampung darah dari sang korban, dan sebilah pisau dari tembaga yang digunakan untuk membunuh. Sementara di dekat situ terdapat seonggok tumpukan tengkorak lain dengan posisi kepala menengadah ke atas, mengenakan cincin perak di salah satu jarinya, dan seonggok lagi tengkorak yang sedang menutupi wajah sang korban, mungkin adalah tulang tengkorak sang ketua upacara beserta asistennya. Tak jauh dari tempat itu ada sekumpulan tulang tengkorak yang serampangan, yang diduga merupakan para pejabat dan pembantu, yang tidak sempat lagi melarikan diri pada saat bencana terjadi dan mati di tempat itu. Dilihat dari keadaan situs temuan tersebut, arkeolog menyimpulkan bahwa : Pada saat para penduduk Crete sedang melangsungkan upacara pengorbanan manusia hidup, yang bertujuan untuk memohon agar terhindar dari bencana, malah justru telah me-ngundang terjadinya gempa bumi dan bencana maha dasyat, yang telah merobohkan seketika atap tempat upacara berlangsung dan menimpa semua orang yang ada di dalamnya! Hal ini harunya dapat dijadikan pelajaran bagi kita.
Kamis, 16 Februari 2012
sejarah10 exstensi: Tugas makalah sejarah Aceh I ZAMAN SULTAN ISKAND...
sejarah10 exstensi: Tugas makalah sejarah Aceh I
ZAMAN SULTAN ISKAND...: Tugas makalah sejarah Aceh I ZAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) OLEH: FARAH DAYANA (1006101050010) DEVI YULIA SARI (10061010500...
ZAMAN SULTAN ISKAND...: Tugas makalah sejarah Aceh I ZAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) OLEH: FARAH DAYANA (1006101050010) DEVI YULIA SARI (10061010500...
Senin, 23 Januari 2012
Makalah
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
ROMI IRWANDA (1006101050037)
AMIRUL (1006101050039)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA (UNSYIAH)
DARUSALAM - BANDA ACEH
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada tuhan yang maha esa, karna berkat rahmat dan kunianya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “ KERAJAAAN LINGE DI TANAH GAYO” kami juga bersyukur atas rezeki dan kesehatan yang di berikan kepaada kami sehingga kami dapat mengumpulkan bahan materi makalah ini. Kami telah berusaha semampu kami dalam mengumpulkan berbagai macam bahan tentang malakah ini.
Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah kami ini, Oleh karna itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Demikian makalah ini kami buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf yang sebesar besarnya dan sebelumnya bkami mengucapkan trima kasih.
PENYUSUN
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ` :
Daftar Isi :
A. BAB I Latar Belakang :
B. BAB II Pembahasan :
C. BAB III Kesimpulan :
Daftar Pustaka :
BAB I
LATAR BELAKANG
Sebelum terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam, di daerah aceh ada beberapa kerajaan kecil yang sudah berdaulad sendiri-sendiri. Masing-masing kerajaan itu memiliki adat istiadat sendiri, yang banyak hal berbeda satu dengan yang lain. Kerajaan-kerajaan itu dapat di persatukan menjadi kerajaan yang besar bernama Aceh Darussalam. Kerajaan-kerajaan kecil itu antara lain adalah Kerajan Perlak, Kerajaan Pase, Kerajaan Pidie, Kerajaan Indra Jaya, Kerajaan Benua, dan Kerajaan Linge. Kerajaan yang disebut terakhir adalah kerajaan yang berada ditanah gayo.
Sejarah tentang Kerajaan Linge di tanah gayo ada dua versi, dimana diantara keduanya terdapat kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah pada tokoh utama dari Kerajaan Linge asyaitu raja linge I adi genali atau sering disebut Kik betul atau kawe tepat dalam bahasa aceh. Perbedaannya adalah penempatan waktu , versi pertama di aceh sedangkan versi kedua disebut bahwa adi genali adalah anak dari meurah tanjoong krueng jamboe aye, dan pada saat itu sudah masuk islam ke aceh dan kerajaan linge saudah islam.
Supaya tidak membingungkan , maka dalam kajian makalah ini kami mengambil versi yang kedua, setelah masuknya islam ke aceh. karna ceritanya lebih masuk akal, juga tahun dan tokoh tokoh bisa menguatkan kebenaran dan juga masih berhubungan langsung dengan cerita yang ada di kerajaan aceh Darussalam.
BAB II
Dalam sebuah tulisan dikatakan bahwa Kerajaan Linge telah berdiri sejak tahun 1025 M di daerah gayo yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Adi Genali. Orang gayo menyebut kik betul atau kawe teupat dalam dalam bahasa aceh. Adi genali anak dari meurah tanjoong krueng jamboe aye saudara sultan peurelak makhdum malik Mahmud syah johan yang memerintah tahun 1012-1059 M. Adi genali yang merupakan raja linge 1memiliki 4 orang anak, yang tertua seorang wanita yang Empuberu, yang tiga orang lagi lelaki yaitu sebanyk linge atau sibayak lingga yang mengembara ke daerah Aru tanah karo dan membuka negeri di lembah sebuah lemabah gunung dan kemudian gunung itu terkenal dengan nama gunung sibayak. Meurah johan, adapun informasi tentang meurah johan masih belum jelas, ada yang bilang kalau meurah johan mengembara dengan rombongan syekh Abdullah kan’an (Syah hudan) dari peurelak pergi ke ujung utara pulau sumatera (negeri indra purba) untuk membawa dakwah islam di sana. Pendapat lain mengatakan bahwa Meurah Johan mengembara ke daerah Aceh besar dan membangun negeri di sana yang dikenal sebagai lamkrak dan lamoeri. Sedangkan meurah mege tetap tinggal di linge sebagai penerus raja linge selanjutnya.
Menurut pendapat lain, bahwa ketika marcopolo singgah diperlak pada tahun 1292, didapatinya penduduk perlak telah memeluk agama islam. Penduduk perlak yang tidak mau masuk islam menyingkir kepedalaman lalu menjumpai kerajaan dan laut kecil (danau laut tawar). Rakyat asli pedalaman ini menyebutb daerahnya dengan nama “ Lainggow ”dan menyebut rajanya dengan nama “ ghayo o ghayo ” atau raja “raja gunung yang suci”. Di daerah linggow telah berdiri kerajaan kecil yaitu “kerajaan langgow”, dan sudah ada hubungan dengan kerajaan perlakdi aceh timur dengan kirim mengirim bingkisan. Besar kemungkinan yang di maksud dengan “lainggow” dalam catatan marcopolo ini adalah linge. Dari catatan marcopolo ini dapat di ketahui bahwa di daerah pedalaman sudah ada lebih dulu penduduk asli sebelum masuknya islam dan sebelum datangnya pelarian dari perlak di aceh timur.
Kerajaan linge adalah salah satu kerajaanislam di aceh. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan peninggalan atau artefak kerajaan, batu nisan, dan lain sebagainya dimana terdapat huruf arab pada benda tersebut.
Masa pemerintahan raja linge di tanah gayo akan di sebutkan dalam silsilah raja raja linge. Setelah 500 tahun pemerintahan adi genaliyakni sekitar tahun 1511, di ketahui seorang llraja keturunan raja linge yang di kenal sebagai raja linge ke XIII bergelar panglima bukit yang di angkat oleh sultan salahuddin bin ali mughayat syah sebagai panglimanya untuk mllelawan portugis di selat malaka. Karena kedudukannya sebagai raja dsi tanah gayo, juga mempunyai kedudukan penting di dalam pemerintahan aceh da si salam pemerintahan kerajaan johor di semenanjung tanah mahmkud syah dari malaka terpaksa mengundurka diri ke Kampar daerah Sumatra, sedangkan keluarganya di ungsikan ke aceh Darussalam. Dalam keaddaan yang sulit ini kerajaan aceh telah ikut membantu raja malaka tersebut. Hubungan kerja sama ini telah berkembang demikian rupa hingga terjadi perkawinan politik antara kraton aceh dengan kraton malaka. Seorang sultan malaka yang bernama sultan alaudin mansyur syah dinikahkan dengan seorang putri kerajaan aceh, sebaliknya putri kerajaan johor dinikahkan dengan seorang pembesar kerajaan aceh, yaitu raja lingeke XIII. Dan begitulah tentang hubungan diplomasi kerajaan linge dengan kerajaan aceh dan kerajaan malaka.
Silsilah raja-raja linge
1. Reje linge Ke I : Adi Genali, atau kawe twupat yang merupakan kerajaan linge,
2. Reje linge Ke II : Alisyah, putra adi genali darib sitri kedua nya yang berasal dari ujung aceh. Mininggalkan kedudukan nya karena permesuri kerajaan linge atau istri pertama dari adi genali tidak senang dengan kehadiran alisyah.
3. Reje linge Ke III : bujang lano, di angkat dari golongan bawah, karna di anggap cerdik dan pintar dalam memerintah, selama pemerintahan nya terjadi pemberontakannya yang dilakukan oleh panglima m,yunus yang tidak senang dengan pemerintahannya dan ingin merebut kekuasaan raja lige tetapi berhasil sampai wafatnya bujang lano.
4. Reja linge Ke IV : kejurung jagong, merupakan seorang alim, adil, dan bijaksana.
5. Raje linge Ke V : ayu, belum diketahui keterangan nya.
6. Raje linge Ke VI : Hud, belum diketahui keterangan nya.
7. Reje linge Ke VII : Mahmut, belum diketahui keterangan nya.
8. Reje linge Ke VIII : M.saleh, pada masa pemerintahannya, kerajaan linge kedatangan sepasukan batak yang ingin menyunting putrid dari linge. Tetapi karena pasukan batak belum masuk islam, maka reje linge tidak mengindahkannya. Maka pertempuran pun terjadi, pasukan raje linge mengindah pasukan batak kejembatan Bambu yang sengaja di buat rapuh. Setelah mengalahkan pasukan batak. Mereka yang tersisa di suruh masuk islam.
9. Raje linge Ke IX : Ahmad syarif, belum di ketahui keterangannya.
10. Raje linge Ke X : Luth, belum di ketahui keteranganya.
11. Raje linge Ke XI : belum diketahui keterangannya.
12. Raje linge Ke XII : belum di ketahui keterangannya.
13. Raje linge Ke XIII : Bukit, teguh memengang prinsip dan pemberani. Di angkat sebangai panglima perang saat membantu kerajaan johor dan menetap di pulau lingga sebagai wakil kerajaan aceh di johor.
14. Raje linge Ke XIV : Alisyah, raja yang takut kehilangan kedudukannya, sehingga tega membunuh adik tirinya beuner meurie.
15. Raje linge Ke XV : Aman nyak, belum di ketahui keterangannya
16. Raje linge Ke XVI : Cut, menurut snouck hugrronje adalah keturunan orang batak karo 27.
Letak Kerajaan linge
Daerah tanah gayo dulu di bagi beberapa daerah yaitu: gayo lut, gayo deret, gayo sebejadi, gayo kalul, dan gayo lues. Adapun letak kerajaan linge yang di ketahui saat ini berkedudukan di daerah gayo darat atau sekarang mulai dari isak kabupaten aceh tengah sampai daerah samar kilang kabupaten bener maarie mengikuti aliran sungai jamboe aye. Ada pun pusat kerajaan berada di isak kabupaten aceh tengah.
Kerajaan linge memiliki dua pemukiman yang mana di setiap pemukimannya memiliki beberapa kampung yang tidak akan di sebutkan, dua pemukiman itu antara laen,
1. Pemukiman isak
2. Pemukiman Buntul linge
Sistem pemerintahan
System pemerintahan kerajaan linge tidak jauh dari adat serakopat yang merupakan adat gayo sendiri. Di mana sang raja sebagai pemimpin, cerdik pandai, tentu sebagai penasehat adat, dan rakyat sebagai penduduk kerajaan. Jika dalam kerajaan, ada seorang atau beberapa orang melakukan kesalahan adat atau ada permasalahan dengan adat, maka sanksi akan diberikan ketua adat.
Jika raja melakukan kesalahan sangat fatal, maka ketua berhak menurunkan dan mengangkat raja yang baru. Jika ada permasalahan dalam kerajaan baik itu tentang perang maupun perebutan wilayah, maka urusannya dengan raja. Raja juga membicarakan tentang peraturan kerajaan dengan para cendikawan yang beperan sebagai perumus peraturan.
Mata Pencaharian penduduk
Pada umumnya penduduk ditanah gayo khususnya dikerajaan linge, adalah bertani, beternak, berburu, pandai besi, mengayam tikar, dan membuat periuk dari tanah liat, di samping itu sebagian kecil bergerak di bidang perdagangan, biasanya mereka membawa barang dagangannya ke bireun aceh utara berupa tembakau, kentang, kol yang di angkut dengan kuda pedati. Sedangkan membawa ternak kerbau, di lakukan dengan berjalan kaki selama 3 hari 3 malam yang penuh resiko, karna banyak nya binatang buas dan penyaman.
Peranan wanita pada saat itu lebih berat. Selain mengatur rumah tangga, juga ikut membantu suami, di samping mengerjakan sawah dan lading se[erti menabur bibit, menanah padi, memisahkan padi bernas dan padi hampa, memikul kemudian menjemur padi dan mengiling padi dengan mengunakan jingki, sebalik nya pihak pria menerlis pematang sawah sampai tanah sawah dapat di Tanami.
BAB III
KESIMPULAN
Kerajaan linge merupakan salah satu dari beberapa kerajaan kecil yang pernah ada di aceh. Berdiri sekitar tahun 1025 M di daerah aceh bagian tengah dengan raja pertama atau reje linge I yang bernama adi geneli. Pada saat pemerintahan reje ling eke XIII , seluruh kerajaan-kerajaan di aceh telah berada di bawah kekuasaan kerajaaan aceh darusalam. Panglima bukit atau reje lingke XIII merupakan sultan kepercayaan aceh sebagai wakil aceh di kerajaan johor.
System pemerintahan yang di anut oleh kerajaan linge adalah tidah jauh dari sarakopat yang di vdalam nya ada raja, peute, cerdik dan rakyat.
Letak kerajaan aceh berapa di aceh bagian tengah tepatnya di sungai jamboe aye.
Maka pencahariaan masyarakat gayo yang berada di kerajaan linge antara lain, : bertani, berternak, berburu, pandai besi, mengayam tikar, dan membuta periuk dari tanah liat dan pedagang.
DAFTAR PUSTAKA
Gayo,M.H, 1992, perang gayo alas melawan kolonialis belanda, balai pustaka.
Janus Djamil.M,2009, Gerak kebangkitan aceh : kumpulan karya sejarah M.junus Djamil. Biladi press bandung.
Latief.H.Ar,1995, pelangi kehidupan gayo dan alas. Kurnia bupa bandung.
Buku bacaan lain nya
M.Y. Meulala Towa : Kebudayaan gayo
MH. Said : Aceh sepanjang Abad.
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
ROMI IRWANDA (1006101050037)
AMIRUL (1006101050039)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA (UNSYIAH)
DARUSALAM - BANDA ACEH
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada tuhan yang maha esa, karna berkat rahmat dan kunianya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “ KERAJAAAN LINGE DI TANAH GAYO” kami juga bersyukur atas rezeki dan kesehatan yang di berikan kepaada kami sehingga kami dapat mengumpulkan bahan materi makalah ini. Kami telah berusaha semampu kami dalam mengumpulkan berbagai macam bahan tentang malakah ini.
Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah kami ini, Oleh karna itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Demikian makalah ini kami buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf yang sebesar besarnya dan sebelumnya bkami mengucapkan trima kasih.
PENYUSUN
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ` :
Daftar Isi :
A. BAB I Latar Belakang :
B. BAB II Pembahasan :
C. BAB III Kesimpulan :
Daftar Pustaka :
BAB I
LATAR BELAKANG
Sebelum terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam, di daerah aceh ada beberapa kerajaan kecil yang sudah berdaulad sendiri-sendiri. Masing-masing kerajaan itu memiliki adat istiadat sendiri, yang banyak hal berbeda satu dengan yang lain. Kerajaan-kerajaan itu dapat di persatukan menjadi kerajaan yang besar bernama Aceh Darussalam. Kerajaan-kerajaan kecil itu antara lain adalah Kerajan Perlak, Kerajaan Pase, Kerajaan Pidie, Kerajaan Indra Jaya, Kerajaan Benua, dan Kerajaan Linge. Kerajaan yang disebut terakhir adalah kerajaan yang berada ditanah gayo.
Sejarah tentang Kerajaan Linge di tanah gayo ada dua versi, dimana diantara keduanya terdapat kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah pada tokoh utama dari Kerajaan Linge asyaitu raja linge I adi genali atau sering disebut Kik betul atau kawe tepat dalam bahasa aceh. Perbedaannya adalah penempatan waktu , versi pertama di aceh sedangkan versi kedua disebut bahwa adi genali adalah anak dari meurah tanjoong krueng jamboe aye, dan pada saat itu sudah masuk islam ke aceh dan kerajaan linge saudah islam.
Supaya tidak membingungkan , maka dalam kajian makalah ini kami mengambil versi yang kedua, setelah masuknya islam ke aceh. karna ceritanya lebih masuk akal, juga tahun dan tokoh tokoh bisa menguatkan kebenaran dan juga masih berhubungan langsung dengan cerita yang ada di kerajaan aceh Darussalam.
BAB II
Dalam sebuah tulisan dikatakan bahwa Kerajaan Linge telah berdiri sejak tahun 1025 M di daerah gayo yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Adi Genali. Orang gayo menyebut kik betul atau kawe teupat dalam dalam bahasa aceh. Adi genali anak dari meurah tanjoong krueng jamboe aye saudara sultan peurelak makhdum malik Mahmud syah johan yang memerintah tahun 1012-1059 M. Adi genali yang merupakan raja linge 1memiliki 4 orang anak, yang tertua seorang wanita yang Empuberu, yang tiga orang lagi lelaki yaitu sebanyk linge atau sibayak lingga yang mengembara ke daerah Aru tanah karo dan membuka negeri di lembah sebuah lemabah gunung dan kemudian gunung itu terkenal dengan nama gunung sibayak. Meurah johan, adapun informasi tentang meurah johan masih belum jelas, ada yang bilang kalau meurah johan mengembara dengan rombongan syekh Abdullah kan’an (Syah hudan) dari peurelak pergi ke ujung utara pulau sumatera (negeri indra purba) untuk membawa dakwah islam di sana. Pendapat lain mengatakan bahwa Meurah Johan mengembara ke daerah Aceh besar dan membangun negeri di sana yang dikenal sebagai lamkrak dan lamoeri. Sedangkan meurah mege tetap tinggal di linge sebagai penerus raja linge selanjutnya.
Menurut pendapat lain, bahwa ketika marcopolo singgah diperlak pada tahun 1292, didapatinya penduduk perlak telah memeluk agama islam. Penduduk perlak yang tidak mau masuk islam menyingkir kepedalaman lalu menjumpai kerajaan dan laut kecil (danau laut tawar). Rakyat asli pedalaman ini menyebutb daerahnya dengan nama “ Lainggow ”dan menyebut rajanya dengan nama “ ghayo o ghayo ” atau raja “raja gunung yang suci”. Di daerah linggow telah berdiri kerajaan kecil yaitu “kerajaan langgow”, dan sudah ada hubungan dengan kerajaan perlakdi aceh timur dengan kirim mengirim bingkisan. Besar kemungkinan yang di maksud dengan “lainggow” dalam catatan marcopolo ini adalah linge. Dari catatan marcopolo ini dapat di ketahui bahwa di daerah pedalaman sudah ada lebih dulu penduduk asli sebelum masuknya islam dan sebelum datangnya pelarian dari perlak di aceh timur.
Kerajaan linge adalah salah satu kerajaanislam di aceh. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan peninggalan atau artefak kerajaan, batu nisan, dan lain sebagainya dimana terdapat huruf arab pada benda tersebut.
Masa pemerintahan raja linge di tanah gayo akan di sebutkan dalam silsilah raja raja linge. Setelah 500 tahun pemerintahan adi genaliyakni sekitar tahun 1511, di ketahui seorang llraja keturunan raja linge yang di kenal sebagai raja linge ke XIII bergelar panglima bukit yang di angkat oleh sultan salahuddin bin ali mughayat syah sebagai panglimanya untuk mllelawan portugis di selat malaka. Karena kedudukannya sebagai raja dsi tanah gayo, juga mempunyai kedudukan penting di dalam pemerintahan aceh da si salam pemerintahan kerajaan johor di semenanjung tanah mahmkud syah dari malaka terpaksa mengundurka diri ke Kampar daerah Sumatra, sedangkan keluarganya di ungsikan ke aceh Darussalam. Dalam keaddaan yang sulit ini kerajaan aceh telah ikut membantu raja malaka tersebut. Hubungan kerja sama ini telah berkembang demikian rupa hingga terjadi perkawinan politik antara kraton aceh dengan kraton malaka. Seorang sultan malaka yang bernama sultan alaudin mansyur syah dinikahkan dengan seorang putri kerajaan aceh, sebaliknya putri kerajaan johor dinikahkan dengan seorang pembesar kerajaan aceh, yaitu raja lingeke XIII. Dan begitulah tentang hubungan diplomasi kerajaan linge dengan kerajaan aceh dan kerajaan malaka.
Silsilah raja-raja linge
1. Reje linge Ke I : Adi Genali, atau kawe twupat yang merupakan kerajaan linge,
2. Reje linge Ke II : Alisyah, putra adi genali darib sitri kedua nya yang berasal dari ujung aceh. Mininggalkan kedudukan nya karena permesuri kerajaan linge atau istri pertama dari adi genali tidak senang dengan kehadiran alisyah.
3. Reje linge Ke III : bujang lano, di angkat dari golongan bawah, karna di anggap cerdik dan pintar dalam memerintah, selama pemerintahan nya terjadi pemberontakannya yang dilakukan oleh panglima m,yunus yang tidak senang dengan pemerintahannya dan ingin merebut kekuasaan raja lige tetapi berhasil sampai wafatnya bujang lano.
4. Reja linge Ke IV : kejurung jagong, merupakan seorang alim, adil, dan bijaksana.
5. Raje linge Ke V : ayu, belum diketahui keterangan nya.
6. Raje linge Ke VI : Hud, belum diketahui keterangan nya.
7. Reje linge Ke VII : Mahmut, belum diketahui keterangan nya.
8. Reje linge Ke VIII : M.saleh, pada masa pemerintahannya, kerajaan linge kedatangan sepasukan batak yang ingin menyunting putrid dari linge. Tetapi karena pasukan batak belum masuk islam, maka reje linge tidak mengindahkannya. Maka pertempuran pun terjadi, pasukan raje linge mengindah pasukan batak kejembatan Bambu yang sengaja di buat rapuh. Setelah mengalahkan pasukan batak. Mereka yang tersisa di suruh masuk islam.
9. Raje linge Ke IX : Ahmad syarif, belum di ketahui keterangannya.
10. Raje linge Ke X : Luth, belum di ketahui keteranganya.
11. Raje linge Ke XI : belum diketahui keterangannya.
12. Raje linge Ke XII : belum di ketahui keterangannya.
13. Raje linge Ke XIII : Bukit, teguh memengang prinsip dan pemberani. Di angkat sebangai panglima perang saat membantu kerajaan johor dan menetap di pulau lingga sebagai wakil kerajaan aceh di johor.
14. Raje linge Ke XIV : Alisyah, raja yang takut kehilangan kedudukannya, sehingga tega membunuh adik tirinya beuner meurie.
15. Raje linge Ke XV : Aman nyak, belum di ketahui keterangannya
16. Raje linge Ke XVI : Cut, menurut snouck hugrronje adalah keturunan orang batak karo 27.
Letak Kerajaan linge
Daerah tanah gayo dulu di bagi beberapa daerah yaitu: gayo lut, gayo deret, gayo sebejadi, gayo kalul, dan gayo lues. Adapun letak kerajaan linge yang di ketahui saat ini berkedudukan di daerah gayo darat atau sekarang mulai dari isak kabupaten aceh tengah sampai daerah samar kilang kabupaten bener maarie mengikuti aliran sungai jamboe aye. Ada pun pusat kerajaan berada di isak kabupaten aceh tengah.
Kerajaan linge memiliki dua pemukiman yang mana di setiap pemukimannya memiliki beberapa kampung yang tidak akan di sebutkan, dua pemukiman itu antara laen,
1. Pemukiman isak
2. Pemukiman Buntul linge
Sistem pemerintahan
System pemerintahan kerajaan linge tidak jauh dari adat serakopat yang merupakan adat gayo sendiri. Di mana sang raja sebagai pemimpin, cerdik pandai, tentu sebagai penasehat adat, dan rakyat sebagai penduduk kerajaan. Jika dalam kerajaan, ada seorang atau beberapa orang melakukan kesalahan adat atau ada permasalahan dengan adat, maka sanksi akan diberikan ketua adat.
Jika raja melakukan kesalahan sangat fatal, maka ketua berhak menurunkan dan mengangkat raja yang baru. Jika ada permasalahan dalam kerajaan baik itu tentang perang maupun perebutan wilayah, maka urusannya dengan raja. Raja juga membicarakan tentang peraturan kerajaan dengan para cendikawan yang beperan sebagai perumus peraturan.
Mata Pencaharian penduduk
Pada umumnya penduduk ditanah gayo khususnya dikerajaan linge, adalah bertani, beternak, berburu, pandai besi, mengayam tikar, dan membuat periuk dari tanah liat, di samping itu sebagian kecil bergerak di bidang perdagangan, biasanya mereka membawa barang dagangannya ke bireun aceh utara berupa tembakau, kentang, kol yang di angkut dengan kuda pedati. Sedangkan membawa ternak kerbau, di lakukan dengan berjalan kaki selama 3 hari 3 malam yang penuh resiko, karna banyak nya binatang buas dan penyaman.
Peranan wanita pada saat itu lebih berat. Selain mengatur rumah tangga, juga ikut membantu suami, di samping mengerjakan sawah dan lading se[erti menabur bibit, menanah padi, memisahkan padi bernas dan padi hampa, memikul kemudian menjemur padi dan mengiling padi dengan mengunakan jingki, sebalik nya pihak pria menerlis pematang sawah sampai tanah sawah dapat di Tanami.
BAB III
KESIMPULAN
Kerajaan linge merupakan salah satu dari beberapa kerajaan kecil yang pernah ada di aceh. Berdiri sekitar tahun 1025 M di daerah aceh bagian tengah dengan raja pertama atau reje linge I yang bernama adi geneli. Pada saat pemerintahan reje ling eke XIII , seluruh kerajaan-kerajaan di aceh telah berada di bawah kekuasaan kerajaaan aceh darusalam. Panglima bukit atau reje lingke XIII merupakan sultan kepercayaan aceh sebagai wakil aceh di kerajaan johor.
System pemerintahan yang di anut oleh kerajaan linge adalah tidah jauh dari sarakopat yang di vdalam nya ada raja, peute, cerdik dan rakyat.
Letak kerajaan aceh berapa di aceh bagian tengah tepatnya di sungai jamboe aye.
Maka pencahariaan masyarakat gayo yang berada di kerajaan linge antara lain, : bertani, berternak, berburu, pandai besi, mengayam tikar, dan membuta periuk dari tanah liat dan pedagang.
DAFTAR PUSTAKA
Gayo,M.H, 1992, perang gayo alas melawan kolonialis belanda, balai pustaka.
Janus Djamil.M,2009, Gerak kebangkitan aceh : kumpulan karya sejarah M.junus Djamil. Biladi press bandung.
Latief.H.Ar,1995, pelangi kehidupan gayo dan alas. Kurnia bupa bandung.
Buku bacaan lain nya
M.Y. Meulala Towa : Kebudayaan gayo
MH. Said : Aceh sepanjang Abad.
Kamis, 29 Desember 2011
ACEH PORTUGIS DI SELAT MALAKA PADA SULTAN ISKANDAR MUDA ABAD KE-17
ACEH PORTUGIS DI SELAT MALAKA PADA SULTAN ISKANDAR MUDA ABAD KE-17
Di
S
U
S
U
N
Oleh:
Nama : Nim
Armizani 1006101050006
Erni Gustina 1006101050004
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSIITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2011
Kata Pengantar
Puji syukur panjatkan ke hadirat Allah swt, karna berkat rahmadnya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul konflik aceh portogis di selat malaka pada masa sultan iskandar muda abad ke-17. makaalah ini di ajukan guna memenuhi tugas mata kuliah sejarah aceh, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehinga makalah ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya, makalah ini maasih jauh dari sempurna, oleh kaarena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersipat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermartabat untuk pengebangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua
Daftar isi
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
A. LATAR BELAKANG GAMBAR
1. Perlawanan rakyat malaka terhadap portugis
2. Perlawanan Rakyat Aceh terhadap portugis
a. Perlawanan Aceh dengan portugis
b. Akhir dari perang Aceh dengan portugis
B. RUMUSAN MASALAH
1. Latar belakang yang menyebabkan portugis mundur
2. Apakah setelah Aceh berhasil menyerang Portugis Aceh juga menyerang Johor
C. RINGKASAN
KONFLIK ACEH PORTUGIS DI SELAT MALAKA PADA MASA SULTAN ISKANDAR MUDA ABAD KE 17
A. LATAR BELAKANG
Masa setahun sejak Sultan Ali Wayat Syah naik tahta terhadap suasana yang tenteram dalam kerajaan Aceh. Saudaranya, sultan Husin yang memerintah dipedir, upanya telah tidak dapat merendam kan keresahan yang timbbul di kalangan penduduk, perkembangan buruk telah di baca oleh Husin. Dan timbulah cek-cok antara ke dua saudara tersebut
Rasa tidak puas pada sultan muda ( atau sultan Ali R ayat Syah) tersebut di perlihat kan juga oleh Iskandar Muda yang waktu itu masih kenal bernama Perkasa Alam
Sikap Perkasa Muda yang masih remaja di pandang mengangu ketertiban oleh Sultan Ali Ri ayat Syah, yang sudah siap untuk menangkapnya, karna tau lebih dahulu renjana tersebut perkasa alam menyingkir ke pidir, minta perlindungan pada pamannya,, Sultan Husin,, lalu terbit amarah Sultan Ali dikirimnya ekspendesi menyerang pedir, hasilnya Perkasa Alam dapat di tangkap dan di penjarakan karna memang Sultan Ali tidak becus memerintah, tidak sangup mengamankan keadaan, perampokan dan pemerasan menjadi jadi masa itu gahath ( bahaya kelaparan ) dan banyak manusia mati pada saat itu,, suasana labil ini terdengar oleh portugis, bangsa portugis menyatakan bahwa adanya kesempatan baik untuk memukul aceh,, bukankah kerajaan yang letaknya di ujung Sumatra itu serupa duri di matanya ? setelah setahun kemudian, dalam Bulan Juni 1606 , Armada portugis di bawah pimpinan Martin Affonso de castro, melancarkan serangan gencar terhadap Aceh,, Aceh menghadapi perlawanan itu tapi tidak berhasil bahkan benteng Aceh berhasil di rebut portugis
Dari penjara, Perkasa Alam melihat bahaya-bahaya itu dia mengirimkan pesan( Surat) ke pada Sultan bahwa kiranya jika ia di lepaskan dari penjara dan di beri senjata,, dia berjanji akan mengusir portugis, permintaan Perkasa Alam di penuhi oleh pamannya Sultan Husin, dan Perkasa Alam memang melawan portugis dengan mati-matian, sekitar tiga ratus serdadu portugis mati konyol akibat serangan dahsyat Perkasa Alam,, Benteng yang sudah diduduki olehh portuugis di rebut kembali oleh Perkasa Alam setelah di serbu dengan suatu serangan tentara gajah yang dahsyat di bawah komando Perkasa Alam sendiri melihat malapetaka sudah datang, maka portugis yang masih tinggal di kapalnya lalu lari menuju malaka, di tengah jalan mereka terpergok oleh armada Belanda,m lalu mereka di pukul dan hanjur.
Mengenai benteng yang di serang oleh Perkasa Alam dapat di jelaskan bahwa benteng yang di maksud adalah benteng kuta Lubok, letaknya di Krung Lam Reh dekat Krueng Raja.
Bekas-bekasnya masih masih bisa di jumpai, Ferendrick de houtman (Belanda yang pernah terkuruung 2 tahun di Aceh ) memberitakan portugis ketika ia datang dari portugis 15 November 1600 dan meminta kesempatan memamfaatkan benteng “ Kuta Lubok “ yang ada di Krueng Lam Reh, di kuala Aceh dengan imbalan Sultan di Bantu merebut Johor.
Dalam penyerangan Decastro penaklukan seluruh Aceh akan di lakukan dari benteng yang baru di dudukinya itu, tapi ternyata terjadi sebaliknya dengan serbuan hebat dari tentara gajah yang di pimpin oleh Perkasa Alam sendiri dan berhasilah benteng itu di rebut oleh Aceh kembali bukan sekedar perebutan benteng saja tapi juga seluruh sisa-sisa portugis terhapus dari Aceh. Dengan sukses ini segera menonjol keperkasaanya yang mengemparkan itu.
Suasana Abad ke 17 telah mendarang orang untuk berpilsapat “ murah “ siapa kuat mengambang siapa tengelam. Masa itu sudah tiga bangsa ogreser yang munjul di perairan Indonesia yakni Portugis, belanda ingris dan beberapa tahun kemudian muncul pula ke empat yakni Prancis, apabila semuanya itu tidak di hadapi dengan kesunguhan, keberanian bahkan juga kekuatan, maka tidak mungkinkan bisa hidup bakal di tekan oleh suatu bangsa Eropah.
Karena itu dan cara-cara Sultan Iskandar Muda berjuang, dapatlah di lihat mengandung program pengluasan wilayahnya itu lebih kurang seperti berikut
A. menguasai seluruh negri dan pelabuhan di sebelah selat Malaka dan menetapkan terjaminnya kemasukan “Denche et Impara “ oleh penjajah Barat, usaha ini di jaalan kan dengan cara mufakat dan kalau tidak tercapai dengan jalan drastis
B. Memukul Johor, supaya tidak lagi dapat di tunggangi oleh portugis dan Belanda
C. Memukul negri-negeri di sebelah timur Malaya, sejaarah yang merugikaan pedagang Aceh dan usahanya untuk mencaapai kemenangan dari musuh, seperti Pahang, Patani dan lain-lain
D. Memukul portugis dan merampas malaka
E. Menaikan haarga pasaran hasil bumi untuk ekspor dengan jalan memusatkan pelabuhan sammudra kesatu pelabuhan di Aceh, sedikit dikitnya mengadakan pengawasan yang sempurna sehinga kepentingan kerajaan tidak di inginkan
(1) Perlawanan rakyat Malaka terhadap portugispada tahun 1511, armada portugis yang di pimpin oleh Albuquerque menyerang kerajaan Malaka untuk menyerang Colonial Portugis di Malaaka yang terjadi pada tahun 1513 mengalami kegagalan karena kekuatan dan persenjataan portugis lebih kuat, pada tahun 1527, armada demak di bawaah pimpinan pelatihan dapat mengusai Banten, Suda kelapa, dan Cirebon kemudian menganti nama sunda kelapa menjadi jokyakarta ( Jakarta ).
(2) Perlawanan rakyat Aceh terhadap portugis
Mulai tahun 1554 hingga tahun 1555, upaya portugis tersebut gagal karena portugis mendapan perlawanan keras dari Aceh pada saat Sultan Is Muda berkuasa,Kerajaan Aceh pernah menyerang potugis di malaka pada tahun 1615 dan 1624.
(A) Perlawnan Aceh dengan portugis
Keberhasilan dalam mempertahankan diri menjadikan Aceh menyusun rencana untuk mengusir portugis dari malaka, begitu juga dengan portugis yang mulai tergangngu dengankebesarn kerajaan Aceh, akhirnya meletuskan kerjaan Aceh dengan Portugis. Pertempuran pertama yaitu Aceh menyerang portugis di malaka pada tahun 1547 Aceh berhasil memporak porandakan portugia di malaka tetapi tidak berhasil menguasai malaka karena benteng portugis yang begitu kokoh dan susah dihanjurkan yang bernama benteng Simao de melio.
(B) Akhir dari perang Aceh dan Portugis
Setelah Aceh mengalami kekelahan perang yang betkali-kali membuat Aceh tidak mempunyai pengaruh lagi di perdagan dan pengaruh di kerjaan di tanah melayu dan membuat portugis semakin besar, walaupun Aceh kalah perang dengan portugis tapi Aceh tidak bisa di kuasai oleh portugis.
B. RUMUSAN MASALAH
a. latar belakang apakah yang menyebabkan portugis mundur ke perlhaak
jawab:
Yang menyebabkan portugis mundur adalah usaha yang menghayat Syah untuk menghancurkan kerajaan kerajaan kecil yang berada di tangan portugis, dan portugis yang kualahan menghadapii seraangan Aceh dan aakhirnya Portugis mundur ke Perlhak
b. Apakaah setelah Aceh berhasil menyingkirkan Portugis, Aceh juga menaklukan Johor
Jawab:
Ia Aceh menaklukan Johor Pahang dan Pattani, dengan keberhasilan serangan ini wilayah kerajaan Aceh hampir mencakup Aceh Darussalam.
C. RINGKASAN
Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda ( 1607-1636 ). Pada masa kepemimpinan,Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan portugis dari selat malaka.
Keberhasilan dalam mempertahankan diri menjadikan Aceh menyusun rencana untuk mengusir portugis dari malaka, begitu juga dengan portugis yang mulai tergangngu dengan kebesaran kerajaan Aceh,akhirnya meletuslah perang Aceh dengan portugis.
Sejarah mencatat bahwa,usaha Mughayat Syah untuk mengusir portugis dari
Seluruh bumi Aceh dengan menakluka kerejaan kerajaan kecil yang sudah berada di tangan portugis berjalan lancar. Secara berurutan ,portugis yang berada di daerah Daya ia gembur dan berhasil ia kalahkan. Kemenangan yang berturur turut ini membawa ke untungan yang luar biasa teurtama dalam aspek persenjataan. Portugis yang kewalahan menghadapi serangan Aceh banyak meninggalkan persenjatan, karena memang tidak sempat mereka bawa dalam gerakan mundur pasukan. Senjata senjata inilah yang di gunakan kembali oleh pasukan Mughayat Syah untuk menggupur portugis.
Ketika benteng di pasai telah di kuasai Aceh,portugis mundur ke peurlhak. Namun Mughayat Syah tidak memberikan kesempatan sama sekali pada portugis. Peurlhak juga di serang, sehingga portugis mundur ke Aru. Tak berapa lama, Aru juga berhasil di rebut oleh Aceh hingga akhirnya portugis mundur ke malaka.
DAFTAR PUSTAKA
Melayu Online
Masa Iskandar Muda, Aceh Sepanjang Abad
Di
S
U
S
U
N
Oleh:
Nama : Nim
Armizani 1006101050006
Erni Gustina 1006101050004
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSIITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2011
Kata Pengantar
Puji syukur panjatkan ke hadirat Allah swt, karna berkat rahmadnya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul konflik aceh portogis di selat malaka pada masa sultan iskandar muda abad ke-17. makaalah ini di ajukan guna memenuhi tugas mata kuliah sejarah aceh, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehinga makalah ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya, makalah ini maasih jauh dari sempurna, oleh kaarena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersipat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermartabat untuk pengebangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua
Daftar isi
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
A. LATAR BELAKANG GAMBAR
1. Perlawanan rakyat malaka terhadap portugis
2. Perlawanan Rakyat Aceh terhadap portugis
a. Perlawanan Aceh dengan portugis
b. Akhir dari perang Aceh dengan portugis
B. RUMUSAN MASALAH
1. Latar belakang yang menyebabkan portugis mundur
2. Apakah setelah Aceh berhasil menyerang Portugis Aceh juga menyerang Johor
C. RINGKASAN
KONFLIK ACEH PORTUGIS DI SELAT MALAKA PADA MASA SULTAN ISKANDAR MUDA ABAD KE 17
A. LATAR BELAKANG
Masa setahun sejak Sultan Ali Wayat Syah naik tahta terhadap suasana yang tenteram dalam kerajaan Aceh. Saudaranya, sultan Husin yang memerintah dipedir, upanya telah tidak dapat merendam kan keresahan yang timbbul di kalangan penduduk, perkembangan buruk telah di baca oleh Husin. Dan timbulah cek-cok antara ke dua saudara tersebut
Rasa tidak puas pada sultan muda ( atau sultan Ali R ayat Syah) tersebut di perlihat kan juga oleh Iskandar Muda yang waktu itu masih kenal bernama Perkasa Alam
Sikap Perkasa Muda yang masih remaja di pandang mengangu ketertiban oleh Sultan Ali Ri ayat Syah, yang sudah siap untuk menangkapnya, karna tau lebih dahulu renjana tersebut perkasa alam menyingkir ke pidir, minta perlindungan pada pamannya,, Sultan Husin,, lalu terbit amarah Sultan Ali dikirimnya ekspendesi menyerang pedir, hasilnya Perkasa Alam dapat di tangkap dan di penjarakan karna memang Sultan Ali tidak becus memerintah, tidak sangup mengamankan keadaan, perampokan dan pemerasan menjadi jadi masa itu gahath ( bahaya kelaparan ) dan banyak manusia mati pada saat itu,, suasana labil ini terdengar oleh portugis, bangsa portugis menyatakan bahwa adanya kesempatan baik untuk memukul aceh,, bukankah kerajaan yang letaknya di ujung Sumatra itu serupa duri di matanya ? setelah setahun kemudian, dalam Bulan Juni 1606 , Armada portugis di bawah pimpinan Martin Affonso de castro, melancarkan serangan gencar terhadap Aceh,, Aceh menghadapi perlawanan itu tapi tidak berhasil bahkan benteng Aceh berhasil di rebut portugis
Dari penjara, Perkasa Alam melihat bahaya-bahaya itu dia mengirimkan pesan( Surat) ke pada Sultan bahwa kiranya jika ia di lepaskan dari penjara dan di beri senjata,, dia berjanji akan mengusir portugis, permintaan Perkasa Alam di penuhi oleh pamannya Sultan Husin, dan Perkasa Alam memang melawan portugis dengan mati-matian, sekitar tiga ratus serdadu portugis mati konyol akibat serangan dahsyat Perkasa Alam,, Benteng yang sudah diduduki olehh portuugis di rebut kembali oleh Perkasa Alam setelah di serbu dengan suatu serangan tentara gajah yang dahsyat di bawah komando Perkasa Alam sendiri melihat malapetaka sudah datang, maka portugis yang masih tinggal di kapalnya lalu lari menuju malaka, di tengah jalan mereka terpergok oleh armada Belanda,m lalu mereka di pukul dan hanjur.
Mengenai benteng yang di serang oleh Perkasa Alam dapat di jelaskan bahwa benteng yang di maksud adalah benteng kuta Lubok, letaknya di Krung Lam Reh dekat Krueng Raja.
Bekas-bekasnya masih masih bisa di jumpai, Ferendrick de houtman (Belanda yang pernah terkuruung 2 tahun di Aceh ) memberitakan portugis ketika ia datang dari portugis 15 November 1600 dan meminta kesempatan memamfaatkan benteng “ Kuta Lubok “ yang ada di Krueng Lam Reh, di kuala Aceh dengan imbalan Sultan di Bantu merebut Johor.
Dalam penyerangan Decastro penaklukan seluruh Aceh akan di lakukan dari benteng yang baru di dudukinya itu, tapi ternyata terjadi sebaliknya dengan serbuan hebat dari tentara gajah yang di pimpin oleh Perkasa Alam sendiri dan berhasilah benteng itu di rebut oleh Aceh kembali bukan sekedar perebutan benteng saja tapi juga seluruh sisa-sisa portugis terhapus dari Aceh. Dengan sukses ini segera menonjol keperkasaanya yang mengemparkan itu.
Suasana Abad ke 17 telah mendarang orang untuk berpilsapat “ murah “ siapa kuat mengambang siapa tengelam. Masa itu sudah tiga bangsa ogreser yang munjul di perairan Indonesia yakni Portugis, belanda ingris dan beberapa tahun kemudian muncul pula ke empat yakni Prancis, apabila semuanya itu tidak di hadapi dengan kesunguhan, keberanian bahkan juga kekuatan, maka tidak mungkinkan bisa hidup bakal di tekan oleh suatu bangsa Eropah.
Karena itu dan cara-cara Sultan Iskandar Muda berjuang, dapatlah di lihat mengandung program pengluasan wilayahnya itu lebih kurang seperti berikut
A. menguasai seluruh negri dan pelabuhan di sebelah selat Malaka dan menetapkan terjaminnya kemasukan “Denche et Impara “ oleh penjajah Barat, usaha ini di jaalan kan dengan cara mufakat dan kalau tidak tercapai dengan jalan drastis
B. Memukul Johor, supaya tidak lagi dapat di tunggangi oleh portugis dan Belanda
C. Memukul negri-negeri di sebelah timur Malaya, sejaarah yang merugikaan pedagang Aceh dan usahanya untuk mencaapai kemenangan dari musuh, seperti Pahang, Patani dan lain-lain
D. Memukul portugis dan merampas malaka
E. Menaikan haarga pasaran hasil bumi untuk ekspor dengan jalan memusatkan pelabuhan sammudra kesatu pelabuhan di Aceh, sedikit dikitnya mengadakan pengawasan yang sempurna sehinga kepentingan kerajaan tidak di inginkan
(1) Perlawanan rakyat Malaka terhadap portugispada tahun 1511, armada portugis yang di pimpin oleh Albuquerque menyerang kerajaan Malaka untuk menyerang Colonial Portugis di Malaaka yang terjadi pada tahun 1513 mengalami kegagalan karena kekuatan dan persenjataan portugis lebih kuat, pada tahun 1527, armada demak di bawaah pimpinan pelatihan dapat mengusai Banten, Suda kelapa, dan Cirebon kemudian menganti nama sunda kelapa menjadi jokyakarta ( Jakarta ).
(2) Perlawanan rakyat Aceh terhadap portugis
Mulai tahun 1554 hingga tahun 1555, upaya portugis tersebut gagal karena portugis mendapan perlawanan keras dari Aceh pada saat Sultan Is Muda berkuasa,Kerajaan Aceh pernah menyerang potugis di malaka pada tahun 1615 dan 1624.
(A) Perlawnan Aceh dengan portugis
Keberhasilan dalam mempertahankan diri menjadikan Aceh menyusun rencana untuk mengusir portugis dari malaka, begitu juga dengan portugis yang mulai tergangngu dengankebesarn kerajaan Aceh, akhirnya meletuskan kerjaan Aceh dengan Portugis. Pertempuran pertama yaitu Aceh menyerang portugis di malaka pada tahun 1547 Aceh berhasil memporak porandakan portugia di malaka tetapi tidak berhasil menguasai malaka karena benteng portugis yang begitu kokoh dan susah dihanjurkan yang bernama benteng Simao de melio.
(B) Akhir dari perang Aceh dan Portugis
Setelah Aceh mengalami kekelahan perang yang betkali-kali membuat Aceh tidak mempunyai pengaruh lagi di perdagan dan pengaruh di kerjaan di tanah melayu dan membuat portugis semakin besar, walaupun Aceh kalah perang dengan portugis tapi Aceh tidak bisa di kuasai oleh portugis.
B. RUMUSAN MASALAH
a. latar belakang apakah yang menyebabkan portugis mundur ke perlhaak
jawab:
Yang menyebabkan portugis mundur adalah usaha yang menghayat Syah untuk menghancurkan kerajaan kerajaan kecil yang berada di tangan portugis, dan portugis yang kualahan menghadapii seraangan Aceh dan aakhirnya Portugis mundur ke Perlhak
b. Apakaah setelah Aceh berhasil menyingkirkan Portugis, Aceh juga menaklukan Johor
Jawab:
Ia Aceh menaklukan Johor Pahang dan Pattani, dengan keberhasilan serangan ini wilayah kerajaan Aceh hampir mencakup Aceh Darussalam.
C. RINGKASAN
Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda ( 1607-1636 ). Pada masa kepemimpinan,Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan portugis dari selat malaka.
Keberhasilan dalam mempertahankan diri menjadikan Aceh menyusun rencana untuk mengusir portugis dari malaka, begitu juga dengan portugis yang mulai tergangngu dengan kebesaran kerajaan Aceh,akhirnya meletuslah perang Aceh dengan portugis.
Sejarah mencatat bahwa,usaha Mughayat Syah untuk mengusir portugis dari
Seluruh bumi Aceh dengan menakluka kerejaan kerajaan kecil yang sudah berada di tangan portugis berjalan lancar. Secara berurutan ,portugis yang berada di daerah Daya ia gembur dan berhasil ia kalahkan. Kemenangan yang berturur turut ini membawa ke untungan yang luar biasa teurtama dalam aspek persenjataan. Portugis yang kewalahan menghadapi serangan Aceh banyak meninggalkan persenjatan, karena memang tidak sempat mereka bawa dalam gerakan mundur pasukan. Senjata senjata inilah yang di gunakan kembali oleh pasukan Mughayat Syah untuk menggupur portugis.
Ketika benteng di pasai telah di kuasai Aceh,portugis mundur ke peurlhak. Namun Mughayat Syah tidak memberikan kesempatan sama sekali pada portugis. Peurlhak juga di serang, sehingga portugis mundur ke Aru. Tak berapa lama, Aru juga berhasil di rebut oleh Aceh hingga akhirnya portugis mundur ke malaka.
DAFTAR PUSTAKA
Melayu Online
Masa Iskandar Muda, Aceh Sepanjang Abad
MAKALAH SEJARAH ACEH ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SRI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
MAKALAH SEJARAH ACEH
ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SRI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098 H (1678-1688 M)
DI
S
U
S
U
N
OLEH:
ERNAWATI (1006101050016)
AMI RATU DIANA (1006101050014)
DOSEN PEMBIMBING
Drs.T.Abdullah,SH
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAh SWT. Karena berkat karunia dan hidayah-Nyalah sehingga makalah yang berjudul “ ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDI INAYAT SYAH ” dapat di selesaikan tepat pada waktunya.
Dalam makalah ini kami mengalami berbagai kesulitan dan hambatan, tetapi dengan niat yang ikhlas serta tujuan untuk yang membangun diri, maka makalah ini dapat kami selesaikan.
Kami menyadari bahwa dalam penyusuanan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran-saran dan kritik yang sifatnya membangundemi kesempurnaan makalah ini.
Ucapan terima kasih Kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu Kami dalam penyusan makalah ini, khususnnya dosen Pembimbing Mata Kuliah.
Harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Robbal alamin ……………..
Banda Aceh, 14 Maret 2011
Penulis
Kelompok 12
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang……..............................................................................1
B. Rumusan Masalah …………………..........................................................3
C. Tujuan………………………………………………………………………………………………3
BAB II PEMBAHASAN
A. PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098H (1678-1688M)…………………………………………………….4
1. TEGAS MENGHADAPI VOC...........................................4
2. .KEDATANGAN UTUSAN INGGRIS.............................5
3. KEDATANGAN UTUSAN SYARIF MEKKAH............7
4. ZAKIATUDDIN WAFAT.................................................10
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………....11
A. Kesimpulan ...............................................................................11
B. Saran…………………………………………………………...11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Aceh sebelum di pimpin oleh para Ratu, terlebih dahulu telah ada Undang-Undang Dasar Kerajaan, sebagai penyempurna terhadp peraturan-peratuan yang telah di buat sebelumnya, yang dinamakan Kanun Meukuta Alam , atau disebut juga Adat Mukuta Alam, atau disebut juga Adat Aceh.
Dalam Kanun Meukuta Alam ini, diatur segala hal ihwal yang berhubungan denngan Negara secara dasarnya saja, baik yang mengenai dengan dasar negara, sistem pemerintahan, pembagian kekuasaan dalam negara, lembaga-lembaga dan lain-lainnya.
Pada saat Aceh di pimpin oleh beberapa Ratu selama 59 tahun Aceh sangat maju, dan aceh masih menjadi Kerajan yang terkenal, bhkan Aceh menjalin hubungan dagang yang baik dengan kerajaan-kerjaan yangg lain.
Berdasarkan ketenuan-ketentuan yang telah ada, maka organisasi Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemrintahan para Ratu, adalah sebagai berikut:
a. Betuk dan Dasar Negara
Dalam Kanun Meukuta Alam ditetapkan, bahwa bentuk negara yaitu kerajaan dan dasar negara yaitu islam, yang dapat di jelaskan sebagai berikut:
• Negara berbentuk kerajaan, dimana kepala negara bergelar sultan dan diangkat turun-temurun.
• Kerajaan bernama Kerjaan Aceh darussalam, dengan Ibu Kota Banda Aceh Darussalam.
• Kepala Negara Bergelar sulthan Imam Adil, yang dibantu oleh Sekretaris negara.
• Orang kedua dalam Kerajaan, yaitu KadliMalikul Adil, dengan empat orang. pembantunya yang bergelar Mufti Empat.
b.Negara Hukum
Dalam Kanun Meukuta Alam, bahwa kerajaamn Aceh Darussalam adalah negara hukum yang mutlak sah, dan rakyat bukan patung yang terdiri di tengah padang, akan tetapi rakyat seperti pedang sembilan mata yang amat tajam, laggi besar matanya dan lagi panjang sampai ketimur dan kebarat.
c.Sumber Hukum
Kanun menetapkan bahwa sumber hukum bagi Kerjaan Aceh.
• Al Quran
• As Sunnah
• Ijmak Ulama
• Qias
d.Cap Sikureng
Dalam Kanun ditetapkan, bahwa cap (stempel) Negara yang tertinggi, yaitu Cap Sikureng (stempel sembilan), berbentuk bundar bertunjung keliling ditangah-tengah nama Sulthana yang sedang memerintah, dan kelilingnya nama delapan orang Sultan yang memerintah sebelumnya. Menurut Kanun, bahwa delapan orang sultan dikelilingnya melambangkan empat dasar hukum (qur’an, sunnah, ijmak, ulama dan kias) dan empat jenis hukum (hukum, adat, kanun, dan reusam), yang berarti bahwa sultan Sulthan dikeliling oleh hukum.
e.Lembaga-lembaga Negara
Kanun menetapkan lembaga-lembaga Negara dan pejabat-pejabat tinggi yang memimpinnya, yang ikhtisarnya sabagai berikut:
1. Balai Rong Sari: Lemaga yang dipimpin oleh sulthananya sendiri, yang anggotanya rterdiri dari Hulubalang Empat dan Ulama Tujuh.
2. Balai Majelis Mahkamah Rakyat: Lembaga yang dipimpin oleh Kadlil Malikul Adil, yang anggotanya tujuh ouluh tiga orang
3. Balai Gading: Lembaga yang dipimpin wazir Mu’adhdham Orang Kaya laksamana Sari Perdana Mentri.
4. Balai Furdhah: Lembaga yang mangurus ihwal ekonomi, yang dipimpin oleh Wazir yang bergelar Mentri Seri Paduka.
5. Balai Laksmana: lembaga yang mengurus hal ihwal angkatan perang, yang dipimpin oleh seorang Wazir Laksmana Amirul Harb.
6. Balai Majelis Mahkamah: Lemaga yang mengurus hal ihwal kehakiman/pengadilan, dipimpin olh seorang Wazir yang bergelar Seri Raja Panglima Wazir Mizan.
7. Balai Baitul Ml: Lembaga yang mengurus hal ihwal keuangan dan perendaharan negara, dipimpin oleh serang wazir yang ergelar orang kaya Seri Maharaja Bendahara Raja Wazir Dirham.
B. RUMUSAN MASALAH
• Bagaimana masa Pemerintahan SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH dalam memerintah kerajaan Aceh .
C. TUJUAN
• Untuk mengetahui sejarah perkembangan pemerintahaan pada masa Aceh dipimpin oleh seorang wanita yaitu, Seri Ratu Safiatuddin Inayat Syah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098H (1678-1688M)
Sebelum pemakaman Seri Ratu Nurul Alam Nakiatuddin dilaksanakan,terlebih dahulu pada hari Ahad taggal 1 zulka’idah 1088 H. (23 Yanuari 1678 M) dinobatkan penggantinya,yaitu Sulthanah Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah.
Sebagaimana halnya Ratu Safiatuddin telah mempersiapkan Nakiatuddin untuk penggantinya, maka demikian pula sejak semula Ratu Nakiatuddin telah mempersiapkan Puteri Raja Setia untuk penggantinya,yang kemudian setelah dinobatkan bergelar Sulthanah Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah.
Menurut catatan sejarah, bahwa pada hakikatnya Seri Ratu Tujuh Alam Safiatuddin telah mempersiapkan tiga orang Pangeran Puteri untuk menjadi ratu dalam Kerajaan Aceh Darussalam setelah baginda, yaitu Ratu Nakiatuddin, Zakiatuddin dan Kamalat.
Ketiga puteri bangsawan ini telah di didik dalam keraton darut dunia dengan berbagai ilmu pengetahuan : hukum, termasuk hukum tatanegara, sejarah, filsafat, kesusastraan, pengetahuan agama islam, bahasa arab, bahasa persia, bahasa spanyol dan bahasa inggris. Yang mengajar bahasa Spanyol dan Inggris yaitu seorang wanita Belanda yang menjadi sekretariat Baginda.
1. Tegas Menghadapi V.O.C.
Kebijaksanaan politik yang telah dijalankan Ratu Tajul Alam Safiatuddin dan Ratu Nurul Alam Nakiatuddin, terus dijalankan oleh Ratu Zakiatuddin Inayat Syah. Tindakan keras dan tegas terhadap kaum wujudiyah dan dalam politik yang berdiri dibelakang, semakin diperhebat, sehingga tidak diberi kesempatan bernafas kepada mereka. Kepada kongsi perdagangan Belanda (V.O.C.) yang semenjak pemerintahan Ratu Tajul Alam Safiatuddin terus menerus merong-rong kedaulatan Aceh, Ratu Zakiatuddin sama sekali tidak memberi hati, bahkan memperlihatkan giginya.
Di Sumatra Barat dengan segera ratu menunjukkan kekuatannya kembali kpada V.O.C., antara lain dengan menarik kembali daerah Bayang kedalam wilayah Kerajaan Aceh Darussalam. Sikap tegas yang demikian mendapat sambutan hangat dan baik dari rakyat Minangkabau, sehingga menimbulkan kesulitan yang bukan sedikit bagi Melchiol Hurdt sebagai wakil persatuan dagang Belanda (V.O.C) yang berkedudukan di Padang. Dua tahun V.O.C. harus melakukan peperangan yang dahsyat.
Pada saat itu, Ratu Zakiatuddin Inayat Syah tidak mengabaikan segala usaha untuk mematahkan kekuatan persatuan dagang Belanda itu untuk kepentingan dan keselamatan rakyatnya. Dengan semua negara tetangga diikatnya perjanjian persahabatan dan perjanjian saling membantu untuk melumpuhkan kekuasaan Belanda. Hanya Kerajaan Siam yang tidak dapat ditariknya kedalam lingkungan persahabatan.
Di samping menghadapi segala tantangan dengan tegas Ratu Zakiatuddin bertindak cepat memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dayah-dayah yang telah ada dipelihara terus , disamping mendirikan dayah-dayah yang baru, sementara Pusat Pendidikan Tinggi Baiturrahman dikembangan terus dibawah pimpinan Syekh Abdurrauf Syiahkuala dan ulama-ulama lainnya. Menasah dan mesjid dibina dan ditingkatkan fungsinya, sehingga ajaran-ajaran agama islam merata kedalam jiwa rakyat.
2. Kedatangan Utusan Inggris
Kedatangan dari luar negeri bebrapa kali yaitu : dua kali utusan inggris dan sekali utusan Syarif Mekkah. Utusan Inggris datang dari india ditahun 1684. Utusan itu bercerita sampai di India bahwa Sulthanah ini suaranya keras dan badannya tegap.
Utusan Inggris itu yang terdiri dari tuan-tuan ord dan cawley, dari Madras, membawa mandat dari pemerintahan jajahan inggris disana, untuk meminta supaya inggris diberi izin mendirikan kantor dagang yang diperteguh dengan benteng. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Sulthanah. Diceritakan, bahwa pada utusan dinyatakan,
bahwa ratu sendiri pun tidak akan diizinkan mendirikan benteng di Aceh jika membahayakan kepentingan negara. Utusan diterima oleh orang-orang besar bukan oleh ratu sendiri.
Salah seorang Inggris lain melawat ke Aceh disekitar masa Sulthanah ini memerintah, ialah Wiliam Dampier. Antara lain didalam bukunya banyak dibaca didapati kesan-kesannya sepintas lalu Aceh katanya : ”This country is governed by a Queen, under whom there are 12 Orang Kayas or Geat Lords. They act in the several precints with gret power and authority”. (Negeri ini diperintah oleh seorang ratu, dibawahnya 12 orang kaya atau pangeran agung. Mereka menjalankan kekuasaannya dalam bidangnya masing-masing dengan hak dan kekuasaan besar.)
Singkatnya dapat dijelaskan susunan pemerintahan di Aceh seagai berikut: Sulthana memerintahdengan di bantu oleh 12 orang Mentri (dengan berbagai titel: Kadil Malikul Adil, Laksamana, Perdana Mentri, Syahandar dan sebagainya). Masing-masing mentri berkuasa dan bertanggung jawab dilapangannya. Khusus mengenai pemerintahan Aceh Besar, disusun menurut sistem Tiga Sagi. Tiap sagi dikepalai oleh seorang panglima. Tiap Sagi merupakan bagian dari tungku tiga sejerangan, kekuasaannya yang utama adalah untuk menetapkan ahlli waris kerajaan.
Tentang kedatangan utusan inggris itu, Ilyas Sutan Pamenan melukiskan, bahwa mereka meminta izin agar bole mendirikan sebuah kantor dagang dan sebuah Benteng di Banda Aceh. Mereka mengharapkan dengan demikian mendapat imbangan dari kerugian yang tlah mereka derita karena harus meninggalkan Bantam dan Pulau Silebar untuk kepentingan V.O.C. Dengan jalan demikian mereka mengharapkan juga akan mendapat bahagian dalam perdagangan lada di Aceh.
Inayat yang mengtahui benar apa artinya sebuah benteng bagi bangsa asing didalam daerah kerajaannya dengan sangat bijaksana menolak permintaan itu, sambil menyatakan, bahwa biarlah baginda melindungi perdagangan bangsa Inggris di Aceh dengan persenjataan lengkap dan cukuplah bagi mereka mendirikan sebuah kantor dagang saja diplabuhan Aceh.
Orang Inggris tidak jadi tinggal di Aceh, mereka menyingkir pergi ke Bengkulu, hubungan dagang Aceh dengan Batam masih terus berjalan dengan sangat lancar, malah brtambah pesat sejak kapal-kapal Aceh mendapat gangguan dari V.O.C. di perairan sebelah timur Pulau Sumatra. Mereka sejak itu mengambil jalan barat dan tindakan itu bagi V.O.C. menimbulkan soal yang harus dipecahkan pula dan menjadi buah pikiran yang sangat memusingkan.
3. Kedatangan Utusan Syarif Mekkah
Dalam tahun 1683 Ratu Zakiatuddin Inayat Syah menerima utusan Mekkah yang dikirim oleh Syarif Barakat sebagai penguasa Hijaz (Mekkah dan Madinah). perutusan Syarif Mekkah itu berada di bawah pimpinan Yusuf Al Qudsi yang berada di india sampai empat tahun lamanya. Sulthana (India) tidak mau menerimanya, tidak pula tertarik untuk mengetahui bingkisan yang dibawanya, karena itu, siutusan memtuskan sendiri untuk berangkat saja ke Banda Aceh. Setiba di sana dipersembahkan bingkisan tersebut sambil menjelaskan bahwa bingkisan itu adalah kiriman Syarif Barakat, Raja Mekkah, binkisan itu di terima oleh Ratu dengan gembira. Ratu menitahkan supaya utusan tinggal dulu di Aceh, sebab Ratu ingin mengirim bingkisan balasan, dan untuk menyiapkan perlu waktu.
Utusan itu di terima Baginda dengan segala upacara kebesaran, sehinnga menimbulkan perasan puas pada mereka. Sekembalinya utusan dari Mekkah, di sampaikanlah oleh merekakepada Syarif betapa baik dan sempurnanya pemerintahan Raja puteri di Aceh dan betapa patuh dan taatnnya rakyat di situ memeluk agama islam. Rakyat hidup rukun damai., kemakmuran terlihat dimana-mana.
Pada masa pemerintahan Ratu Zakituddin Inayat Syah, tibalah di Banda Aceh perutusan Syarif Mekkah. Untuk menyaksikan apakah benar laporan kaum wujudyiah yang menyatakan bahwa kerajaan Aceh di bawah Pemerintahan Ratu telah jauh menyimpang dari Agama Islam.
Dalam peninjauan para utusan itu ternyata, bahwa kerajaan Acehdarussalam adalah benar-benar Kerajaan Islam yang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan bermahzab Syafi’I. Sulthanah Ratu Zakiatuddin ternyata seorang raja yang taat lagi salih, Ratu beribicara dengan para utusan Syarif Mekkah di belakang tabir dari sutra dewangga dengan bahasa Arab yang pasih. Merek sangat kagum menyaksikan Banda Aceh yang cantik dan permai, segala bangsa berdiam disana, kebanyakan mereka kaum saudagar.
Ketika mendapat kesempatan menghadap sulthanah, keheranan mereka jadi bertambah, dimana mereka dapati tentera pengawal istana terdiri dari perajurit-perajurit wanita yang semuanya mengendarai kuda. Pakaian dan hiasan kuda-kuda itu dari emas, suasa dan perak. Tingkah laku pasukan kehormatan dan pakaian mereka cukup sopan, tidak ada yang menyalahi perturan Agama Islam.
Ketika mereka menghadap sulthanah, mereka dapati Seri Ratu dengan para pembantunya yang terdiri dari kaum wanita, duduk di balik tabir kain sutra dewangga yang berwarna kuning berumbai-umbai dan berhiasan emas permata. Ratu berbicara dengan bahasa Arab yang pasih dengan mempergunakan kata-kata yang diplomatis, sehingga menimbulkan ta’jub yang amat sangat bagi para utusan. Dalam pergaulan dalam istana tidak satu pun mereaka dapati, yang di luar ketentuan ajaran Islam. Mereka masih dapat menyaksikan sisa-sisa kebesaran istan dan masjidBaiturrahim, yang dalam masa pemerintahan Ratu alam di bakar oleh kaum wujudiyah.
Ketika utusan berada disana, terjadilah suatu malapetaka, sebuah gereja terbakar, menyebabakan emas-emas yang tersimpan disana terlebur semuanya brubah bentuknya seperti tubuh manusia.
Ratu lalu memerintahkan supaya emas berbentuk maniusia itu turut di kirim bersama bingkisan untuk Syarif Mekkah. Sebagai tambahan, sulthana mengirim pula jumlah uang sedekah khusus untuk di bagi-bagikan kepada fakir miskin di mekkah.
Setahun lamanya mereka menjadi tamu Kerajaan Aceh Drussalam. Waktu mereka akan pulang, Seri Ratu Zakiatuddin menghadiahkan kepada mereka berbagai rupa benda yang bernilai, di samping menitipkan hadiah kepada Syarif Mekkah, Masjidil Haramdan kepada Masjidil Nabawi di Madinah. Hadiah-hadiah tersebut terdiri dari:
1. Tiga kinthar emas murni yang masih bergumpal-gumpal.
2. Tiga rithal kamfer (kapur barus), kayu cendana dan jeubeut musang (eivet).
3. Tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas.
4. Dua penyondong (lampukaki) dari pada emas.
5. Lima lampu gantung dari pada emas.
6. Lampu kaki dan kandil dari pada emas.
Utusan tiba di Mekkah kembali pada waktu Syarifsai’id telah menggantikan ayahnya menjadi raja. Mereka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 (14 september 1683). Dalam rombongan Syarif yang datang k Aceh itu, ada dua orang Syarif bersaudara, yaitu Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim.
Ketika itu terjadilah pertikaian antara sesama Syarif yang berhak mendapat bagian ¾ dari seluruh hasil di Mekkah pada satu pihak dengan pihak syarif Besar Sa’id. Golongan Syarif-Syarif manuntut supaya ¾ dari bingkisan dari Aceh itu di serahkan ke pada mereka, sedang Syerif sendiri tidak bersedia menyerahkannya. Untuk tidak meruwetkan, diadakan persetujuan sementara, yaitu selama Syarif El Harith, pada akhirnya tercapai persetujuan bahwa golongan pemilik ¾ diserahi ½ dari bingkisan itu, tapi dalam pengertian bahwa itu adalah pemberian dari Syarif Besar kepada mereka,
Demikianlah pembagian dilakukan dan sedekah untuk fakir miskin dibagi-bagikan. Snouck Hurgronje mencacat bahwa ketika utusan Mekkah pulang telah turut juga utusan Aceh ke Mekkah khusus, tugasnya untuk mengawasi pembagian merata dari sedekah-sedekah untu fakir misakin. Selama rombongan mereka berada di Aceh, telah menarik beberapa orang pembesar yang dalam hatinya yang memang anti kepada Raja Wanita.
Dalam menjalankan rencananya, yaitu mentiadakan Dinasti Ratu, mereka melihat dua Syarif bersaudra yang ambisus dapat diajak serta. Karena itu, mereka mengusulkan kepada ketua peutusn agar Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim bolh tinggl di Aceh untuk membantu pengembangan ajaran-ajaran Islam, dimana permintaan di kabulkan,teristimewa karena dua Syarif bersudara telah menyetujuinya karena mereka telah lebih dahulu dihubunginya dengan brmacam janji antara lain, kalau Ratu dapat di jatuh kan oleh seorang diantara mereka akan diangkat menjadi Sulthan.
Demikianlah, pada awal tahun 1094 H. ketua dan para anggota perutusan bertolak kembali ke Mekkah dengan seperangkat hadiah, kecuali yang tinggal Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim. Sekian peristiwa itu, kurang terang apa yang di maksud dengan gereja, sepertinya yang dimaksud itu adalah bukan Gereja tetapi Mesjid Baitu’l-Rahman , yang disebut-sebut pada masa Nuru’l-Alam menjadi rajalah Mesjid besar telah terakar habis, tetapi boleh jadi bukan dimasa Nuru’l-Alam, tapi dimasa Inayat Syahlah mesjid terbakar.
4. Zakiatuddin Wafat
Selama memerintah, Rtu Zakiatuddin telah brbut banyak untuk mempertahankan sisa-sisa kbesaran Aceh. Sekalipun baginda tidak sanggup mengembalikan Aceh kepada martabat sperti di zaman Iskandar Muda, namun baginda tlah dpt memprtahankan keadan Aceh seperti waktu diwarisinya, bahkan dalam beberapa hal dapat di tingkat kan kembali.
Setelah memerintah selama sepuluh tahun, pada hari Ahad tanggal 8 Zulhijjah 1098 H. (3 Oktober 1688 M.), Sulthana Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah berpulang ke Rahmatullah. Sebaik ia meninggal timbul banyak perebutan tahta, golongan pemerintah (para menteri) menginginikan supaya tidak lagi permpuan menjadi raja.
Sebalikny golongan Tiga Sagi ingin supaya perempuan tetap jadi pilihan. Akhirnya Tiga Sagi menang, karena mereka lebih kuat nampaknya, maka diangkatlah lagi seorang puteri bangsawan yang menjadi pemimpin.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Pada saat Kerajaan Aceh di pimpin oleh beberapa Ratu selama 59 tahun Kerajaan Aceh sangat maju, dan Kerajaan Aceh masih menjadi Kerajaan yang terkenal, bahkan Aceh menjalin hubungan dagang yang baik dengan kerajaan-kerjaan yang lain.
Zakiatuddin merupakan pemimpin wanita ketiga pada Kerajaan Aceh Darussalam. Ia merupakan anak dari seri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin yang menurut cacatan ayah zakiatuddin adalah Sultan Muhammad Syah.
Pada Saat Kerajaan Aceh di pimpin oleh Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah Kerajaan Aceh sangat maju, Ratu Zakiatuddin adalah pemimpin yang taatl dan salih, buktinya ia lebih mementingkan kepentingan rakyatnya, pada saat Pemerintahan jajahan inggris meminta supaya Inggris diberikan izin untuk mendirikan kantor dagang yang diperteguh dengan Benteng, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Ratu dengan alasan dapat membahayakan kepentingan Negara. Ratu Zakiatuddin sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya dan keselamatan kerajaannya. Rakyat pun sangat menghormati pemimpinnya, rayat juga hidup rukun dan damai.
B.Saran
Inilah hasil penulisan makalah kami, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, maka dari itu kami menerima saran dan kritik guna untuk membangun makalah ini, serta agar sempurnanya pembuatan makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hasjmy, A. 59 Tahun Aceh Merdeka di bawah Pemerintahan Ratu. Bulan Bintang: Jakarta.
Said mohammad, H. Aceh Sepanjang abad.
ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SRI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098 H (1678-1688 M)
DI
S
U
S
U
N
OLEH:
ERNAWATI (1006101050016)
AMI RATU DIANA (1006101050014)
DOSEN PEMBIMBING
Drs.T.Abdullah,SH
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAh SWT. Karena berkat karunia dan hidayah-Nyalah sehingga makalah yang berjudul “ ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDI INAYAT SYAH ” dapat di selesaikan tepat pada waktunya.
Dalam makalah ini kami mengalami berbagai kesulitan dan hambatan, tetapi dengan niat yang ikhlas serta tujuan untuk yang membangun diri, maka makalah ini dapat kami selesaikan.
Kami menyadari bahwa dalam penyusuanan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran-saran dan kritik yang sifatnya membangundemi kesempurnaan makalah ini.
Ucapan terima kasih Kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu Kami dalam penyusan makalah ini, khususnnya dosen Pembimbing Mata Kuliah.
Harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Robbal alamin ……………..
Banda Aceh, 14 Maret 2011
Penulis
Kelompok 12
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang……..............................................................................1
B. Rumusan Masalah …………………..........................................................3
C. Tujuan………………………………………………………………………………………………3
BAB II PEMBAHASAN
A. PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098H (1678-1688M)…………………………………………………….4
1. TEGAS MENGHADAPI VOC...........................................4
2. .KEDATANGAN UTUSAN INGGRIS.............................5
3. KEDATANGAN UTUSAN SYARIF MEKKAH............7
4. ZAKIATUDDIN WAFAT.................................................10
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………....11
A. Kesimpulan ...............................................................................11
B. Saran…………………………………………………………...11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Aceh sebelum di pimpin oleh para Ratu, terlebih dahulu telah ada Undang-Undang Dasar Kerajaan, sebagai penyempurna terhadp peraturan-peratuan yang telah di buat sebelumnya, yang dinamakan Kanun Meukuta Alam , atau disebut juga Adat Mukuta Alam, atau disebut juga Adat Aceh.
Dalam Kanun Meukuta Alam ini, diatur segala hal ihwal yang berhubungan denngan Negara secara dasarnya saja, baik yang mengenai dengan dasar negara, sistem pemerintahan, pembagian kekuasaan dalam negara, lembaga-lembaga dan lain-lainnya.
Pada saat Aceh di pimpin oleh beberapa Ratu selama 59 tahun Aceh sangat maju, dan aceh masih menjadi Kerajan yang terkenal, bhkan Aceh menjalin hubungan dagang yang baik dengan kerajaan-kerjaan yangg lain.
Berdasarkan ketenuan-ketentuan yang telah ada, maka organisasi Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemrintahan para Ratu, adalah sebagai berikut:
a. Betuk dan Dasar Negara
Dalam Kanun Meukuta Alam ditetapkan, bahwa bentuk negara yaitu kerajaan dan dasar negara yaitu islam, yang dapat di jelaskan sebagai berikut:
• Negara berbentuk kerajaan, dimana kepala negara bergelar sultan dan diangkat turun-temurun.
• Kerajaan bernama Kerjaan Aceh darussalam, dengan Ibu Kota Banda Aceh Darussalam.
• Kepala Negara Bergelar sulthan Imam Adil, yang dibantu oleh Sekretaris negara.
• Orang kedua dalam Kerajaan, yaitu KadliMalikul Adil, dengan empat orang. pembantunya yang bergelar Mufti Empat.
b.Negara Hukum
Dalam Kanun Meukuta Alam, bahwa kerajaamn Aceh Darussalam adalah negara hukum yang mutlak sah, dan rakyat bukan patung yang terdiri di tengah padang, akan tetapi rakyat seperti pedang sembilan mata yang amat tajam, laggi besar matanya dan lagi panjang sampai ketimur dan kebarat.
c.Sumber Hukum
Kanun menetapkan bahwa sumber hukum bagi Kerjaan Aceh.
• Al Quran
• As Sunnah
• Ijmak Ulama
• Qias
d.Cap Sikureng
Dalam Kanun ditetapkan, bahwa cap (stempel) Negara yang tertinggi, yaitu Cap Sikureng (stempel sembilan), berbentuk bundar bertunjung keliling ditangah-tengah nama Sulthana yang sedang memerintah, dan kelilingnya nama delapan orang Sultan yang memerintah sebelumnya. Menurut Kanun, bahwa delapan orang sultan dikelilingnya melambangkan empat dasar hukum (qur’an, sunnah, ijmak, ulama dan kias) dan empat jenis hukum (hukum, adat, kanun, dan reusam), yang berarti bahwa sultan Sulthan dikeliling oleh hukum.
e.Lembaga-lembaga Negara
Kanun menetapkan lembaga-lembaga Negara dan pejabat-pejabat tinggi yang memimpinnya, yang ikhtisarnya sabagai berikut:
1. Balai Rong Sari: Lemaga yang dipimpin oleh sulthananya sendiri, yang anggotanya rterdiri dari Hulubalang Empat dan Ulama Tujuh.
2. Balai Majelis Mahkamah Rakyat: Lembaga yang dipimpin oleh Kadlil Malikul Adil, yang anggotanya tujuh ouluh tiga orang
3. Balai Gading: Lembaga yang dipimpin wazir Mu’adhdham Orang Kaya laksamana Sari Perdana Mentri.
4. Balai Furdhah: Lembaga yang mangurus ihwal ekonomi, yang dipimpin oleh Wazir yang bergelar Mentri Seri Paduka.
5. Balai Laksmana: lembaga yang mengurus hal ihwal angkatan perang, yang dipimpin oleh seorang Wazir Laksmana Amirul Harb.
6. Balai Majelis Mahkamah: Lemaga yang mengurus hal ihwal kehakiman/pengadilan, dipimpin olh seorang Wazir yang bergelar Seri Raja Panglima Wazir Mizan.
7. Balai Baitul Ml: Lembaga yang mengurus hal ihwal keuangan dan perendaharan negara, dipimpin oleh serang wazir yang ergelar orang kaya Seri Maharaja Bendahara Raja Wazir Dirham.
B. RUMUSAN MASALAH
• Bagaimana masa Pemerintahan SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH dalam memerintah kerajaan Aceh .
C. TUJUAN
• Untuk mengetahui sejarah perkembangan pemerintahaan pada masa Aceh dipimpin oleh seorang wanita yaitu, Seri Ratu Safiatuddin Inayat Syah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098H (1678-1688M)
Sebelum pemakaman Seri Ratu Nurul Alam Nakiatuddin dilaksanakan,terlebih dahulu pada hari Ahad taggal 1 zulka’idah 1088 H. (23 Yanuari 1678 M) dinobatkan penggantinya,yaitu Sulthanah Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah.
Sebagaimana halnya Ratu Safiatuddin telah mempersiapkan Nakiatuddin untuk penggantinya, maka demikian pula sejak semula Ratu Nakiatuddin telah mempersiapkan Puteri Raja Setia untuk penggantinya,yang kemudian setelah dinobatkan bergelar Sulthanah Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah.
Menurut catatan sejarah, bahwa pada hakikatnya Seri Ratu Tujuh Alam Safiatuddin telah mempersiapkan tiga orang Pangeran Puteri untuk menjadi ratu dalam Kerajaan Aceh Darussalam setelah baginda, yaitu Ratu Nakiatuddin, Zakiatuddin dan Kamalat.
Ketiga puteri bangsawan ini telah di didik dalam keraton darut dunia dengan berbagai ilmu pengetahuan : hukum, termasuk hukum tatanegara, sejarah, filsafat, kesusastraan, pengetahuan agama islam, bahasa arab, bahasa persia, bahasa spanyol dan bahasa inggris. Yang mengajar bahasa Spanyol dan Inggris yaitu seorang wanita Belanda yang menjadi sekretariat Baginda.
1. Tegas Menghadapi V.O.C.
Kebijaksanaan politik yang telah dijalankan Ratu Tajul Alam Safiatuddin dan Ratu Nurul Alam Nakiatuddin, terus dijalankan oleh Ratu Zakiatuddin Inayat Syah. Tindakan keras dan tegas terhadap kaum wujudiyah dan dalam politik yang berdiri dibelakang, semakin diperhebat, sehingga tidak diberi kesempatan bernafas kepada mereka. Kepada kongsi perdagangan Belanda (V.O.C.) yang semenjak pemerintahan Ratu Tajul Alam Safiatuddin terus menerus merong-rong kedaulatan Aceh, Ratu Zakiatuddin sama sekali tidak memberi hati, bahkan memperlihatkan giginya.
Di Sumatra Barat dengan segera ratu menunjukkan kekuatannya kembali kpada V.O.C., antara lain dengan menarik kembali daerah Bayang kedalam wilayah Kerajaan Aceh Darussalam. Sikap tegas yang demikian mendapat sambutan hangat dan baik dari rakyat Minangkabau, sehingga menimbulkan kesulitan yang bukan sedikit bagi Melchiol Hurdt sebagai wakil persatuan dagang Belanda (V.O.C) yang berkedudukan di Padang. Dua tahun V.O.C. harus melakukan peperangan yang dahsyat.
Pada saat itu, Ratu Zakiatuddin Inayat Syah tidak mengabaikan segala usaha untuk mematahkan kekuatan persatuan dagang Belanda itu untuk kepentingan dan keselamatan rakyatnya. Dengan semua negara tetangga diikatnya perjanjian persahabatan dan perjanjian saling membantu untuk melumpuhkan kekuasaan Belanda. Hanya Kerajaan Siam yang tidak dapat ditariknya kedalam lingkungan persahabatan.
Di samping menghadapi segala tantangan dengan tegas Ratu Zakiatuddin bertindak cepat memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dayah-dayah yang telah ada dipelihara terus , disamping mendirikan dayah-dayah yang baru, sementara Pusat Pendidikan Tinggi Baiturrahman dikembangan terus dibawah pimpinan Syekh Abdurrauf Syiahkuala dan ulama-ulama lainnya. Menasah dan mesjid dibina dan ditingkatkan fungsinya, sehingga ajaran-ajaran agama islam merata kedalam jiwa rakyat.
2. Kedatangan Utusan Inggris
Kedatangan dari luar negeri bebrapa kali yaitu : dua kali utusan inggris dan sekali utusan Syarif Mekkah. Utusan Inggris datang dari india ditahun 1684. Utusan itu bercerita sampai di India bahwa Sulthanah ini suaranya keras dan badannya tegap.
Utusan Inggris itu yang terdiri dari tuan-tuan ord dan cawley, dari Madras, membawa mandat dari pemerintahan jajahan inggris disana, untuk meminta supaya inggris diberi izin mendirikan kantor dagang yang diperteguh dengan benteng. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Sulthanah. Diceritakan, bahwa pada utusan dinyatakan,
bahwa ratu sendiri pun tidak akan diizinkan mendirikan benteng di Aceh jika membahayakan kepentingan negara. Utusan diterima oleh orang-orang besar bukan oleh ratu sendiri.
Salah seorang Inggris lain melawat ke Aceh disekitar masa Sulthanah ini memerintah, ialah Wiliam Dampier. Antara lain didalam bukunya banyak dibaca didapati kesan-kesannya sepintas lalu Aceh katanya : ”This country is governed by a Queen, under whom there are 12 Orang Kayas or Geat Lords. They act in the several precints with gret power and authority”. (Negeri ini diperintah oleh seorang ratu, dibawahnya 12 orang kaya atau pangeran agung. Mereka menjalankan kekuasaannya dalam bidangnya masing-masing dengan hak dan kekuasaan besar.)
Singkatnya dapat dijelaskan susunan pemerintahan di Aceh seagai berikut: Sulthana memerintahdengan di bantu oleh 12 orang Mentri (dengan berbagai titel: Kadil Malikul Adil, Laksamana, Perdana Mentri, Syahandar dan sebagainya). Masing-masing mentri berkuasa dan bertanggung jawab dilapangannya. Khusus mengenai pemerintahan Aceh Besar, disusun menurut sistem Tiga Sagi. Tiap sagi dikepalai oleh seorang panglima. Tiap Sagi merupakan bagian dari tungku tiga sejerangan, kekuasaannya yang utama adalah untuk menetapkan ahlli waris kerajaan.
Tentang kedatangan utusan inggris itu, Ilyas Sutan Pamenan melukiskan, bahwa mereka meminta izin agar bole mendirikan sebuah kantor dagang dan sebuah Benteng di Banda Aceh. Mereka mengharapkan dengan demikian mendapat imbangan dari kerugian yang tlah mereka derita karena harus meninggalkan Bantam dan Pulau Silebar untuk kepentingan V.O.C. Dengan jalan demikian mereka mengharapkan juga akan mendapat bahagian dalam perdagangan lada di Aceh.
Inayat yang mengtahui benar apa artinya sebuah benteng bagi bangsa asing didalam daerah kerajaannya dengan sangat bijaksana menolak permintaan itu, sambil menyatakan, bahwa biarlah baginda melindungi perdagangan bangsa Inggris di Aceh dengan persenjataan lengkap dan cukuplah bagi mereka mendirikan sebuah kantor dagang saja diplabuhan Aceh.
Orang Inggris tidak jadi tinggal di Aceh, mereka menyingkir pergi ke Bengkulu, hubungan dagang Aceh dengan Batam masih terus berjalan dengan sangat lancar, malah brtambah pesat sejak kapal-kapal Aceh mendapat gangguan dari V.O.C. di perairan sebelah timur Pulau Sumatra. Mereka sejak itu mengambil jalan barat dan tindakan itu bagi V.O.C. menimbulkan soal yang harus dipecahkan pula dan menjadi buah pikiran yang sangat memusingkan.
3. Kedatangan Utusan Syarif Mekkah
Dalam tahun 1683 Ratu Zakiatuddin Inayat Syah menerima utusan Mekkah yang dikirim oleh Syarif Barakat sebagai penguasa Hijaz (Mekkah dan Madinah). perutusan Syarif Mekkah itu berada di bawah pimpinan Yusuf Al Qudsi yang berada di india sampai empat tahun lamanya. Sulthana (India) tidak mau menerimanya, tidak pula tertarik untuk mengetahui bingkisan yang dibawanya, karena itu, siutusan memtuskan sendiri untuk berangkat saja ke Banda Aceh. Setiba di sana dipersembahkan bingkisan tersebut sambil menjelaskan bahwa bingkisan itu adalah kiriman Syarif Barakat, Raja Mekkah, binkisan itu di terima oleh Ratu dengan gembira. Ratu menitahkan supaya utusan tinggal dulu di Aceh, sebab Ratu ingin mengirim bingkisan balasan, dan untuk menyiapkan perlu waktu.
Utusan itu di terima Baginda dengan segala upacara kebesaran, sehinnga menimbulkan perasan puas pada mereka. Sekembalinya utusan dari Mekkah, di sampaikanlah oleh merekakepada Syarif betapa baik dan sempurnanya pemerintahan Raja puteri di Aceh dan betapa patuh dan taatnnya rakyat di situ memeluk agama islam. Rakyat hidup rukun damai., kemakmuran terlihat dimana-mana.
Pada masa pemerintahan Ratu Zakituddin Inayat Syah, tibalah di Banda Aceh perutusan Syarif Mekkah. Untuk menyaksikan apakah benar laporan kaum wujudyiah yang menyatakan bahwa kerajaan Aceh di bawah Pemerintahan Ratu telah jauh menyimpang dari Agama Islam.
Dalam peninjauan para utusan itu ternyata, bahwa kerajaan Acehdarussalam adalah benar-benar Kerajaan Islam yang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan bermahzab Syafi’I. Sulthanah Ratu Zakiatuddin ternyata seorang raja yang taat lagi salih, Ratu beribicara dengan para utusan Syarif Mekkah di belakang tabir dari sutra dewangga dengan bahasa Arab yang pasih. Merek sangat kagum menyaksikan Banda Aceh yang cantik dan permai, segala bangsa berdiam disana, kebanyakan mereka kaum saudagar.
Ketika mendapat kesempatan menghadap sulthanah, keheranan mereka jadi bertambah, dimana mereka dapati tentera pengawal istana terdiri dari perajurit-perajurit wanita yang semuanya mengendarai kuda. Pakaian dan hiasan kuda-kuda itu dari emas, suasa dan perak. Tingkah laku pasukan kehormatan dan pakaian mereka cukup sopan, tidak ada yang menyalahi perturan Agama Islam.
Ketika mereka menghadap sulthanah, mereka dapati Seri Ratu dengan para pembantunya yang terdiri dari kaum wanita, duduk di balik tabir kain sutra dewangga yang berwarna kuning berumbai-umbai dan berhiasan emas permata. Ratu berbicara dengan bahasa Arab yang pasih dengan mempergunakan kata-kata yang diplomatis, sehingga menimbulkan ta’jub yang amat sangat bagi para utusan. Dalam pergaulan dalam istana tidak satu pun mereaka dapati, yang di luar ketentuan ajaran Islam. Mereka masih dapat menyaksikan sisa-sisa kebesaran istan dan masjidBaiturrahim, yang dalam masa pemerintahan Ratu alam di bakar oleh kaum wujudiyah.
Ketika utusan berada disana, terjadilah suatu malapetaka, sebuah gereja terbakar, menyebabakan emas-emas yang tersimpan disana terlebur semuanya brubah bentuknya seperti tubuh manusia.
Ratu lalu memerintahkan supaya emas berbentuk maniusia itu turut di kirim bersama bingkisan untuk Syarif Mekkah. Sebagai tambahan, sulthana mengirim pula jumlah uang sedekah khusus untuk di bagi-bagikan kepada fakir miskin di mekkah.
Setahun lamanya mereka menjadi tamu Kerajaan Aceh Drussalam. Waktu mereka akan pulang, Seri Ratu Zakiatuddin menghadiahkan kepada mereka berbagai rupa benda yang bernilai, di samping menitipkan hadiah kepada Syarif Mekkah, Masjidil Haramdan kepada Masjidil Nabawi di Madinah. Hadiah-hadiah tersebut terdiri dari:
1. Tiga kinthar emas murni yang masih bergumpal-gumpal.
2. Tiga rithal kamfer (kapur barus), kayu cendana dan jeubeut musang (eivet).
3. Tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas.
4. Dua penyondong (lampukaki) dari pada emas.
5. Lima lampu gantung dari pada emas.
6. Lampu kaki dan kandil dari pada emas.
Utusan tiba di Mekkah kembali pada waktu Syarifsai’id telah menggantikan ayahnya menjadi raja. Mereka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 (14 september 1683). Dalam rombongan Syarif yang datang k Aceh itu, ada dua orang Syarif bersaudara, yaitu Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim.
Ketika itu terjadilah pertikaian antara sesama Syarif yang berhak mendapat bagian ¾ dari seluruh hasil di Mekkah pada satu pihak dengan pihak syarif Besar Sa’id. Golongan Syarif-Syarif manuntut supaya ¾ dari bingkisan dari Aceh itu di serahkan ke pada mereka, sedang Syerif sendiri tidak bersedia menyerahkannya. Untuk tidak meruwetkan, diadakan persetujuan sementara, yaitu selama Syarif El Harith, pada akhirnya tercapai persetujuan bahwa golongan pemilik ¾ diserahi ½ dari bingkisan itu, tapi dalam pengertian bahwa itu adalah pemberian dari Syarif Besar kepada mereka,
Demikianlah pembagian dilakukan dan sedekah untuk fakir miskin dibagi-bagikan. Snouck Hurgronje mencacat bahwa ketika utusan Mekkah pulang telah turut juga utusan Aceh ke Mekkah khusus, tugasnya untuk mengawasi pembagian merata dari sedekah-sedekah untu fakir misakin. Selama rombongan mereka berada di Aceh, telah menarik beberapa orang pembesar yang dalam hatinya yang memang anti kepada Raja Wanita.
Dalam menjalankan rencananya, yaitu mentiadakan Dinasti Ratu, mereka melihat dua Syarif bersaudra yang ambisus dapat diajak serta. Karena itu, mereka mengusulkan kepada ketua peutusn agar Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim bolh tinggl di Aceh untuk membantu pengembangan ajaran-ajaran Islam, dimana permintaan di kabulkan,teristimewa karena dua Syarif bersudara telah menyetujuinya karena mereka telah lebih dahulu dihubunginya dengan brmacam janji antara lain, kalau Ratu dapat di jatuh kan oleh seorang diantara mereka akan diangkat menjadi Sulthan.
Demikianlah, pada awal tahun 1094 H. ketua dan para anggota perutusan bertolak kembali ke Mekkah dengan seperangkat hadiah, kecuali yang tinggal Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim. Sekian peristiwa itu, kurang terang apa yang di maksud dengan gereja, sepertinya yang dimaksud itu adalah bukan Gereja tetapi Mesjid Baitu’l-Rahman , yang disebut-sebut pada masa Nuru’l-Alam menjadi rajalah Mesjid besar telah terakar habis, tetapi boleh jadi bukan dimasa Nuru’l-Alam, tapi dimasa Inayat Syahlah mesjid terbakar.
4. Zakiatuddin Wafat
Selama memerintah, Rtu Zakiatuddin telah brbut banyak untuk mempertahankan sisa-sisa kbesaran Aceh. Sekalipun baginda tidak sanggup mengembalikan Aceh kepada martabat sperti di zaman Iskandar Muda, namun baginda tlah dpt memprtahankan keadan Aceh seperti waktu diwarisinya, bahkan dalam beberapa hal dapat di tingkat kan kembali.
Setelah memerintah selama sepuluh tahun, pada hari Ahad tanggal 8 Zulhijjah 1098 H. (3 Oktober 1688 M.), Sulthana Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah berpulang ke Rahmatullah. Sebaik ia meninggal timbul banyak perebutan tahta, golongan pemerintah (para menteri) menginginikan supaya tidak lagi permpuan menjadi raja.
Sebalikny golongan Tiga Sagi ingin supaya perempuan tetap jadi pilihan. Akhirnya Tiga Sagi menang, karena mereka lebih kuat nampaknya, maka diangkatlah lagi seorang puteri bangsawan yang menjadi pemimpin.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Pada saat Kerajaan Aceh di pimpin oleh beberapa Ratu selama 59 tahun Kerajaan Aceh sangat maju, dan Kerajaan Aceh masih menjadi Kerajaan yang terkenal, bahkan Aceh menjalin hubungan dagang yang baik dengan kerajaan-kerjaan yang lain.
Zakiatuddin merupakan pemimpin wanita ketiga pada Kerajaan Aceh Darussalam. Ia merupakan anak dari seri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin yang menurut cacatan ayah zakiatuddin adalah Sultan Muhammad Syah.
Pada Saat Kerajaan Aceh di pimpin oleh Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah Kerajaan Aceh sangat maju, Ratu Zakiatuddin adalah pemimpin yang taatl dan salih, buktinya ia lebih mementingkan kepentingan rakyatnya, pada saat Pemerintahan jajahan inggris meminta supaya Inggris diberikan izin untuk mendirikan kantor dagang yang diperteguh dengan Benteng, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Ratu dengan alasan dapat membahayakan kepentingan Negara. Ratu Zakiatuddin sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya dan keselamatan kerajaannya. Rakyat pun sangat menghormati pemimpinnya, rayat juga hidup rukun dan damai.
B.Saran
Inilah hasil penulisan makalah kami, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, maka dari itu kami menerima saran dan kritik guna untuk membangun makalah ini, serta agar sempurnanya pembuatan makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hasjmy, A. 59 Tahun Aceh Merdeka di bawah Pemerintahan Ratu. Bulan Bintang: Jakarta.
Said mohammad, H. Aceh Sepanjang abad.
Langganan:
Postingan (Atom)
