http://sejarah10-usk.blogspot.com/

Rabu, 18 April 2012

peradaba eropa

Kebudayaan Kreta (Crete, Kritti) merupakan salah satu peradaban yang sempat berjaya, hingga pada masa Raja Minos (periode Minoan),kejayaan bangsa ini mencapai puncak-nya. Pada waktu itu Raja Minos me-nguasai Laut Aegean, hingga Swedia, sehingga mampu menyatukan segenap dataran Eropa, Asia, dan Afrika. Kerajaan Minos telah memanfaatkan letak geografisnya yang strategis, mengembangkan bidang pelayarannya dan memperkuat armada lautnya, armada ini merupakan angkatan laut yang pertama ada di dunia. Kehebatan armada maritim Minos telah berhasil membuat kerajaan ini membina hubungan dagang yang baik dengan Mesir, Syria, Babylon, Asia Kecil, dan lain – lain, bahkan menjadi negara yang menguasai lautan, berbagai kepulauan di Laut Aegean ramai – ramai membina hubungan de-ngan pertukaran duta negara, Swedia bahkan menyetor upeti pada Minos. Namun pada akhirnya bangsa ini hancur karena bencana alam.
Pada tahun 1967, arkeolog Amerika berhasil menggali sebuah kota perdagangan di bawah lapisan abu gunung berapi di pulau Santorini setebal 60 meter. Setelah diteliti, kota ini terkubur disana pada tahun 1500 SM oleh abu akibat ledakan gunung berapi. Mungkin letusan itu merupakan letusan gunung berapi paling dasyat sepanjang sejarah manusia, luas area yang ditutup oleh debu hasil letusan itu mencapai 62,5 km persegi, kota di atas pulau tersebut tertimbun hanya dalam sekejap mata oleh abu yang sedemikian tebal itu, sekaligus juga membawa pengaruh besar terhadap pesisir Laut Tengah dan kepulauan sekitarnya. Berdasarkan catatan, Mesir pada waktu itu diselimuti oleh kegelap-an sepanjang hari selama 3 hari berturut – turut. Selain itu ledakan tersebut juga mengakibatkan terjadinya gelombang Tsunami, dengan ombak yang mencapai 50 meter tingginya, gelombang maha dasyat tersebut telah menenggelamkan seluruh kota dan desa di atas Pulau Crete, termasuk juga Kerajaan Minoan pun lenyap seketika.
Apa Penyebab Sesungguhnya Yang Telah Melenyapkan Kebudayaan Kreta ?

Pada tahun 1980, arkeolog Inggris berhasil menemukan sisa reruntuhan sebuah istana di Knossos, di pulau Crete. Luas arealnya sekitar 2 hektar, dengan ratusan bangunan rumah di dalamnya, yang dihubungkan dengan banyak jalan dan lorong, strukturnya sangat rumit dan belum pernah dijumpai sebelumnya. Di tengah terdapat sebuah lambang bergambar sepasang kapak, para peneliti sependapat bahwa ini merupakan Istana Kapak Ganda milik raja Minos (dalam cerita kuno Yunani pernah disinggung adanya lambang kapak ganda sebagai simbol dari istana yang terdapat di pulau Crete). Dinding – dinding di bagian dalam istana dipenuhi dengan lukisan yang indah dengan corak yang cerah, mencerminkan kemegahan kerajaan di masa tersebut dan kemakmuran kala itu. Banyak ditemukannya peralatan dari bahan logam dan keramik menandakan seni para penduduk Crete kala itu sangat maju.

Hal yang paling menarik perhatian dari penemuan tersebut adalah lem-pengan – lempengan terbuat dari tanah liat yang berukir abjad, salah satu di antaranya bertuliskan : “Swedia telah mempersembahkan 7 orang wanita, anak lelaki dan perempuan masing – masing satu orang.” Di luar dugaan, para arkeolog pun berhasil menemukan tumpukan tulang manusia yang jumlahnya mencapai 200 potong lebih, yang merupakan tulang tengkorak anak yang berusia antara 10 – 15 tahun, yang masih meninggalkan bekas dibunuh dengan benda tajam. Setelah itu para arkeolog juga menemukan sebuah biara pemujaan. Dalam temuan itu terbukti bahwa penduduk Crete telah melakukan pemujaan dengan mengorbankan manusia hidup! Di dalam biara tersebut ditemukan berbagai jenis wadah dari bahan keramik yang digunakan untuk melakukan pemujaan, di atas meja pemujaan tergeletak seonggok tengkorak dari seorang remaja dengan tinggi badan sekitar 165 cm, di samping meja pemujaan tersebut juga ditemukan ada sebuah wadah tempat menampung darah dari sang korban, dan sebilah pisau dari tembaga yang digunakan untuk membunuh. Sementara di dekat situ terdapat seonggok tumpukan tengkorak lain dengan posisi kepala menengadah ke atas, mengenakan cincin perak di salah satu jarinya, dan seonggok lagi tengkorak yang sedang menutupi wajah sang korban, mungkin adalah tulang tengkorak sang ketua upacara beserta asistennya. Tak jauh dari tempat itu ada sekumpulan tulang tengkorak yang serampangan, yang diduga merupakan para pejabat dan pembantu, yang tidak sempat lagi melarikan diri pada saat bencana terjadi dan mati di tempat itu. Dilihat dari keadaan situs temuan tersebut, arkeolog menyimpulkan bahwa : Pada saat para penduduk Crete sedang melangsungkan upacara pengorbanan manusia hidup, yang bertujuan untuk memohon agar terhindar dari bencana, malah justru telah me-ngundang terjadinya gempa bumi dan bencana maha dasyat, yang telah merobohkan seketika atap tempat upacara berlangsung dan menimpa semua orang yang ada di dalamnya! Hal ini harunya dapat dijadikan pelajaran bagi kita.

Kamis, 16 Februari 2012

Senin, 23 Januari 2012

Makalah

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
ROMI IRWANDA (1006101050037)
AMIRUL (1006101050039)




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA (UNSYIAH)
DARUSALAM - BANDA ACEH


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada tuhan yang maha esa, karna berkat rahmat dan kunianya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “ KERAJAAAN LINGE DI TANAH GAYO” kami juga bersyukur atas rezeki dan kesehatan yang di berikan kepaada kami sehingga kami dapat mengumpulkan bahan materi makalah ini. Kami telah berusaha semampu kami dalam mengumpulkan berbagai macam bahan tentang malakah ini.
Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah kami ini, Oleh karna itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Demikian makalah ini kami buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf yang sebesar besarnya dan sebelumnya bkami mengucapkan trima kasih.

PENYUSUN















DAFTAR ISI


Kata Pengantar ` :
Daftar Isi :
A. BAB I Latar Belakang :
B. BAB II Pembahasan :
C. BAB III Kesimpulan :

Daftar Pustaka :
















BAB I
LATAR BELAKANG
Sebelum terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam, di daerah aceh ada beberapa kerajaan kecil yang sudah berdaulad sendiri-sendiri. Masing-masing kerajaan itu memiliki adat istiadat sendiri, yang banyak hal berbeda satu dengan yang lain. Kerajaan-kerajaan itu dapat di persatukan menjadi kerajaan yang besar bernama Aceh Darussalam. Kerajaan-kerajaan kecil itu antara lain adalah Kerajan Perlak, Kerajaan Pase, Kerajaan Pidie, Kerajaan Indra Jaya, Kerajaan Benua, dan Kerajaan Linge. Kerajaan yang disebut terakhir adalah kerajaan yang berada ditanah gayo.
Sejarah tentang Kerajaan Linge di tanah gayo ada dua versi, dimana diantara keduanya terdapat kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah pada tokoh utama dari Kerajaan Linge asyaitu raja linge I adi genali atau sering disebut Kik betul atau kawe tepat dalam bahasa aceh. Perbedaannya adalah penempatan waktu , versi pertama di aceh sedangkan versi kedua disebut bahwa adi genali adalah anak dari meurah tanjoong krueng jamboe aye, dan pada saat itu sudah masuk islam ke aceh dan kerajaan linge saudah islam.
Supaya tidak membingungkan , maka dalam kajian makalah ini kami mengambil versi yang kedua, setelah masuknya islam ke aceh. karna ceritanya lebih masuk akal, juga tahun dan tokoh tokoh bisa menguatkan kebenaran dan juga masih berhubungan langsung dengan cerita yang ada di kerajaan aceh Darussalam.
BAB II
Dalam sebuah tulisan dikatakan bahwa Kerajaan Linge telah berdiri sejak tahun 1025 M di daerah gayo yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Adi Genali. Orang gayo menyebut kik betul atau kawe teupat dalam dalam bahasa aceh. Adi genali anak dari meurah tanjoong krueng jamboe aye saudara sultan peurelak makhdum malik Mahmud syah johan yang memerintah tahun 1012-1059 M. Adi genali yang merupakan raja linge 1memiliki 4 orang anak, yang tertua seorang wanita yang Empuberu, yang tiga orang lagi lelaki yaitu sebanyk linge atau sibayak lingga yang mengembara ke daerah Aru tanah karo dan membuka negeri di lembah sebuah lemabah gunung dan kemudian gunung itu terkenal dengan nama gunung sibayak. Meurah johan, adapun informasi tentang meurah johan masih belum jelas, ada yang bilang kalau meurah johan mengembara dengan rombongan syekh Abdullah kan’an (Syah hudan) dari peurelak pergi ke ujung utara pulau sumatera (negeri indra purba) untuk membawa dakwah islam di sana. Pendapat lain mengatakan bahwa Meurah Johan mengembara ke daerah Aceh besar dan membangun negeri di sana yang dikenal sebagai lamkrak dan lamoeri. Sedangkan meurah mege tetap tinggal di linge sebagai penerus raja linge selanjutnya.
Menurut pendapat lain, bahwa ketika marcopolo singgah diperlak pada tahun 1292, didapatinya penduduk perlak telah memeluk agama islam. Penduduk perlak yang tidak mau masuk islam menyingkir kepedalaman lalu menjumpai kerajaan dan laut kecil (danau laut tawar). Rakyat asli pedalaman ini menyebutb daerahnya dengan nama “ Lainggow ”dan menyebut rajanya dengan nama “ ghayo o ghayo ” atau raja “raja gunung yang suci”. Di daerah linggow telah berdiri kerajaan kecil yaitu “kerajaan langgow”, dan sudah ada hubungan dengan kerajaan perlakdi aceh timur dengan kirim mengirim bingkisan. Besar kemungkinan yang di maksud dengan “lainggow” dalam catatan marcopolo ini adalah linge. Dari catatan marcopolo ini dapat di ketahui bahwa di daerah pedalaman sudah ada lebih dulu penduduk asli sebelum masuknya islam dan sebelum datangnya pelarian dari perlak di aceh timur.
Kerajaan linge adalah salah satu kerajaanislam di aceh. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan peninggalan atau artefak kerajaan, batu nisan, dan lain sebagainya dimana terdapat huruf arab pada benda tersebut.
Masa pemerintahan raja linge di tanah gayo akan di sebutkan dalam silsilah raja raja linge. Setelah 500 tahun pemerintahan adi genaliyakni sekitar tahun 1511, di ketahui seorang llraja keturunan raja linge yang di kenal sebagai raja linge ke XIII bergelar panglima bukit yang di angkat oleh sultan salahuddin bin ali mughayat syah sebagai panglimanya untuk mllelawan portugis di selat malaka. Karena kedudukannya sebagai raja dsi tanah gayo, juga mempunyai kedudukan penting di dalam pemerintahan aceh da si salam pemerintahan kerajaan johor di semenanjung tanah mahmkud syah dari malaka terpaksa mengundurka diri ke Kampar daerah Sumatra, sedangkan keluarganya di ungsikan ke aceh Darussalam. Dalam keaddaan yang sulit ini kerajaan aceh telah ikut membantu raja malaka tersebut. Hubungan kerja sama ini telah berkembang demikian rupa hingga terjadi perkawinan politik antara kraton aceh dengan kraton malaka. Seorang sultan malaka yang bernama sultan alaudin mansyur syah dinikahkan dengan seorang putri kerajaan aceh, sebaliknya putri kerajaan johor dinikahkan dengan seorang pembesar kerajaan aceh, yaitu raja lingeke XIII. Dan begitulah tentang hubungan diplomasi kerajaan linge dengan kerajaan aceh dan kerajaan malaka.
Silsilah raja-raja linge
1. Reje linge Ke I : Adi Genali, atau kawe twupat yang merupakan kerajaan linge,
2. Reje linge Ke II : Alisyah, putra adi genali darib sitri kedua nya yang berasal dari ujung aceh. Mininggalkan kedudukan nya karena permesuri kerajaan linge atau istri pertama dari adi genali tidak senang dengan kehadiran alisyah.
3. Reje linge Ke III : bujang lano, di angkat dari golongan bawah, karna di anggap cerdik dan pintar dalam memerintah, selama pemerintahan nya terjadi pemberontakannya yang dilakukan oleh panglima m,yunus yang tidak senang dengan pemerintahannya dan ingin merebut kekuasaan raja lige tetapi berhasil sampai wafatnya bujang lano.
4. Reja linge Ke IV : kejurung jagong, merupakan seorang alim, adil, dan bijaksana.
5. Raje linge Ke V : ayu, belum diketahui keterangan nya.
6. Raje linge Ke VI : Hud, belum diketahui keterangan nya.
7. Reje linge Ke VII : Mahmut, belum diketahui keterangan nya.
8. Reje linge Ke VIII : M.saleh, pada masa pemerintahannya, kerajaan linge kedatangan sepasukan batak yang ingin menyunting putrid dari linge. Tetapi karena pasukan batak belum masuk islam, maka reje linge tidak mengindahkannya. Maka pertempuran pun terjadi, pasukan raje linge mengindah pasukan batak kejembatan Bambu yang sengaja di buat rapuh. Setelah mengalahkan pasukan batak. Mereka yang tersisa di suruh masuk islam.
9. Raje linge Ke IX : Ahmad syarif, belum di ketahui keterangannya.
10. Raje linge Ke X : Luth, belum di ketahui keteranganya.
11. Raje linge Ke XI : belum diketahui keterangannya.
12. Raje linge Ke XII : belum di ketahui keterangannya.
13. Raje linge Ke XIII : Bukit, teguh memengang prinsip dan pemberani. Di angkat sebangai panglima perang saat membantu kerajaan johor dan menetap di pulau lingga sebagai wakil kerajaan aceh di johor.
14. Raje linge Ke XIV : Alisyah, raja yang takut kehilangan kedudukannya, sehingga tega membunuh adik tirinya beuner meurie.
15. Raje linge Ke XV : Aman nyak, belum di ketahui keterangannya
16. Raje linge Ke XVI : Cut, menurut snouck hugrronje adalah keturunan orang batak karo 27.
Letak Kerajaan linge
Daerah tanah gayo dulu di bagi beberapa daerah yaitu: gayo lut, gayo deret, gayo sebejadi, gayo kalul, dan gayo lues. Adapun letak kerajaan linge yang di ketahui saat ini berkedudukan di daerah gayo darat atau sekarang mulai dari isak kabupaten aceh tengah sampai daerah samar kilang kabupaten bener maarie mengikuti aliran sungai jamboe aye. Ada pun pusat kerajaan berada di isak kabupaten aceh tengah.


Kerajaan linge memiliki dua pemukiman yang mana di setiap pemukimannya memiliki beberapa kampung yang tidak akan di sebutkan, dua pemukiman itu antara laen,
1. Pemukiman isak
2. Pemukiman Buntul linge
Sistem pemerintahan
System pemerintahan kerajaan linge tidak jauh dari adat serakopat yang merupakan adat gayo sendiri. Di mana sang raja sebagai pemimpin, cerdik pandai, tentu sebagai penasehat adat, dan rakyat sebagai penduduk kerajaan. Jika dalam kerajaan, ada seorang atau beberapa orang melakukan kesalahan adat atau ada permasalahan dengan adat, maka sanksi akan diberikan ketua adat.
Jika raja melakukan kesalahan sangat fatal, maka ketua berhak menurunkan dan mengangkat raja yang baru. Jika ada permasalahan dalam kerajaan baik itu tentang perang maupun perebutan wilayah, maka urusannya dengan raja. Raja juga membicarakan tentang peraturan kerajaan dengan para cendikawan yang beperan sebagai perumus peraturan.
Mata Pencaharian penduduk
Pada umumnya penduduk ditanah gayo khususnya dikerajaan linge, adalah bertani, beternak, berburu, pandai besi, mengayam tikar, dan membuat periuk dari tanah liat, di samping itu sebagian kecil bergerak di bidang perdagangan, biasanya mereka membawa barang dagangannya ke bireun aceh utara berupa tembakau, kentang, kol yang di angkut dengan kuda pedati. Sedangkan membawa ternak kerbau, di lakukan dengan berjalan kaki selama 3 hari 3 malam yang penuh resiko, karna banyak nya binatang buas dan penyaman.
Peranan wanita pada saat itu lebih berat. Selain mengatur rumah tangga, juga ikut membantu suami, di samping mengerjakan sawah dan lading se[erti menabur bibit, menanah padi, memisahkan padi bernas dan padi hampa, memikul kemudian menjemur padi dan mengiling padi dengan mengunakan jingki, sebalik nya pihak pria menerlis pematang sawah sampai tanah sawah dapat di Tanami.

BAB III
KESIMPULAN

Kerajaan linge merupakan salah satu dari beberapa kerajaan kecil yang pernah ada di aceh. Berdiri sekitar tahun 1025 M di daerah aceh bagian tengah dengan raja pertama atau reje linge I yang bernama adi geneli. Pada saat pemerintahan reje ling eke XIII , seluruh kerajaan-kerajaan di aceh telah berada di bawah kekuasaan kerajaaan aceh darusalam. Panglima bukit atau reje lingke XIII merupakan sultan kepercayaan aceh sebagai wakil aceh di kerajaan johor.
System pemerintahan yang di anut oleh kerajaan linge adalah tidah jauh dari sarakopat yang di vdalam nya ada raja, peute, cerdik dan rakyat.
Letak kerajaan aceh berapa di aceh bagian tengah tepatnya di sungai jamboe aye.
Maka pencahariaan masyarakat gayo yang berada di kerajaan linge antara lain, : bertani, berternak, berburu, pandai besi, mengayam tikar, dan membuta periuk dari tanah liat dan pedagang.

DAFTAR PUSTAKA
Gayo,M.H, 1992, perang gayo alas melawan kolonialis belanda, balai pustaka.
Janus Djamil.M,2009, Gerak kebangkitan aceh : kumpulan karya sejarah M.junus Djamil. Biladi press bandung.
Latief.H.Ar,1995, pelangi kehidupan gayo dan alas. Kurnia bupa bandung.

Buku bacaan lain nya
M.Y. Meulala Towa : Kebudayaan gayo
MH. Said : Aceh sepanjang Abad.

Kamis, 29 Desember 2011

ACEH PORTUGIS DI SELAT MALAKA PADA SULTAN ISKANDAR MUDA ABAD KE-17

ACEH PORTUGIS DI SELAT MALAKA PADA SULTAN ISKANDAR MUDA ABAD KE-17


Di

S
U
S
U
N

Oleh:




Nama : Nim
Armizani 1006101050006
Erni Gustina 1006101050004
















FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSIITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH

2011

















Kata Pengantar

Puji syukur panjatkan ke hadirat Allah swt, karna berkat rahmadnya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul konflik aceh portogis di selat malaka pada masa sultan iskandar muda abad ke-17. makaalah ini di ajukan guna memenuhi tugas mata kuliah sejarah aceh, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehinga makalah ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya, makalah ini maasih jauh dari sempurna, oleh kaarena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersipat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermartabat untuk pengebangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua













































Daftar isi




HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI


A. LATAR BELAKANG GAMBAR
1. Perlawanan rakyat malaka terhadap portugis
2. Perlawanan Rakyat Aceh terhadap portugis

a. Perlawanan Aceh dengan portugis
b. Akhir dari perang Aceh dengan portugis




B. RUMUSAN MASALAH
1. Latar belakang yang menyebabkan portugis mundur
2. Apakah setelah Aceh berhasil menyerang Portugis Aceh juga menyerang Johor



C. RINGKASAN

































KONFLIK ACEH PORTUGIS DI SELAT MALAKA PADA MASA SULTAN ISKANDAR MUDA ABAD KE 17



A. LATAR BELAKANG

Masa setahun sejak Sultan Ali Wayat Syah naik tahta terhadap suasana yang tenteram dalam kerajaan Aceh. Saudaranya, sultan Husin yang memerintah dipedir, upanya telah tidak dapat merendam kan keresahan yang timbbul di kalangan penduduk, perkembangan buruk telah di baca oleh Husin. Dan timbulah cek-cok antara ke dua saudara tersebut

Rasa tidak puas pada sultan muda ( atau sultan Ali R ayat Syah) tersebut di perlihat kan juga oleh Iskandar Muda yang waktu itu masih kenal bernama Perkasa Alam

Sikap Perkasa Muda yang masih remaja di pandang mengangu ketertiban oleh Sultan Ali Ri ayat Syah, yang sudah siap untuk menangkapnya, karna tau lebih dahulu renjana tersebut perkasa alam menyingkir ke pidir, minta perlindungan pada pamannya,, Sultan Husin,, lalu terbit amarah Sultan Ali dikirimnya ekspendesi menyerang pedir, hasilnya Perkasa Alam dapat di tangkap dan di penjarakan karna memang Sultan Ali tidak becus memerintah, tidak sangup mengamankan keadaan, perampokan dan pemerasan menjadi jadi masa itu gahath ( bahaya kelaparan ) dan banyak manusia mati pada saat itu,, suasana labil ini terdengar oleh portugis, bangsa portugis menyatakan bahwa adanya kesempatan baik untuk memukul aceh,, bukankah kerajaan yang letaknya di ujung Sumatra itu serupa duri di matanya ? setelah setahun kemudian, dalam Bulan Juni 1606 , Armada portugis di bawah pimpinan Martin Affonso de castro, melancarkan serangan gencar terhadap Aceh,, Aceh menghadapi perlawanan itu tapi tidak berhasil bahkan benteng Aceh berhasil di rebut portugis

Dari penjara, Perkasa Alam melihat bahaya-bahaya itu dia mengirimkan pesan( Surat) ke pada Sultan bahwa kiranya jika ia di lepaskan dari penjara dan di beri senjata,, dia berjanji akan mengusir portugis, permintaan Perkasa Alam di penuhi oleh pamannya Sultan Husin, dan Perkasa Alam memang melawan portugis dengan mati-matian, sekitar tiga ratus serdadu portugis mati konyol akibat serangan dahsyat Perkasa Alam,, Benteng yang sudah diduduki olehh portuugis di rebut kembali oleh Perkasa Alam setelah di serbu dengan suatu serangan tentara gajah yang dahsyat di bawah komando Perkasa Alam sendiri melihat malapetaka sudah datang, maka portugis yang masih tinggal di kapalnya lalu lari menuju malaka, di tengah jalan mereka terpergok oleh armada Belanda,m lalu mereka di pukul dan hanjur.

Mengenai benteng yang di serang oleh Perkasa Alam dapat di jelaskan bahwa benteng yang di maksud adalah benteng kuta Lubok, letaknya di Krung Lam Reh dekat Krueng Raja.

Bekas-bekasnya masih masih bisa di jumpai, Ferendrick de houtman (Belanda yang pernah terkuruung 2 tahun di Aceh ) memberitakan portugis ketika ia datang dari portugis 15 November 1600 dan meminta kesempatan memamfaatkan benteng “ Kuta Lubok “ yang ada di Krueng Lam Reh, di kuala Aceh dengan imbalan Sultan di Bantu merebut Johor.

Dalam penyerangan Decastro penaklukan seluruh Aceh akan di lakukan dari benteng yang baru di dudukinya itu, tapi ternyata terjadi sebaliknya dengan serbuan hebat dari tentara gajah yang di pimpin oleh Perkasa Alam sendiri dan berhasilah benteng itu di rebut oleh Aceh kembali bukan sekedar perebutan benteng saja tapi juga seluruh sisa-sisa portugis terhapus dari Aceh. Dengan sukses ini segera menonjol keperkasaanya yang mengemparkan itu.

Suasana Abad ke 17 telah mendarang orang untuk berpilsapat “ murah “ siapa kuat mengambang siapa tengelam. Masa itu sudah tiga bangsa ogreser yang munjul di perairan Indonesia yakni Portugis, belanda ingris dan beberapa tahun kemudian muncul pula ke empat yakni Prancis, apabila semuanya itu tidak di hadapi dengan kesunguhan, keberanian bahkan juga kekuatan, maka tidak mungkinkan bisa hidup bakal di tekan oleh suatu bangsa Eropah.

Karena itu dan cara-cara Sultan Iskandar Muda berjuang, dapatlah di lihat mengandung program pengluasan wilayahnya itu lebih kurang seperti berikut
A. menguasai seluruh negri dan pelabuhan di sebelah selat Malaka dan menetapkan terjaminnya kemasukan “Denche et Impara “ oleh penjajah Barat, usaha ini di jaalan kan dengan cara mufakat dan kalau tidak tercapai dengan jalan drastis
B. Memukul Johor, supaya tidak lagi dapat di tunggangi oleh portugis dan Belanda
C. Memukul negri-negeri di sebelah timur Malaya, sejaarah yang merugikaan pedagang Aceh dan usahanya untuk mencaapai kemenangan dari musuh, seperti Pahang, Patani dan lain-lain
D. Memukul portugis dan merampas malaka
E. Menaikan haarga pasaran hasil bumi untuk ekspor dengan jalan memusatkan pelabuhan sammudra kesatu pelabuhan di Aceh, sedikit dikitnya mengadakan pengawasan yang sempurna sehinga kepentingan kerajaan tidak di inginkan




(1) Perlawanan rakyat Malaka terhadap portugispada tahun 1511, armada portugis yang di pimpin oleh Albuquerque menyerang kerajaan Malaka untuk menyerang Colonial Portugis di Malaaka yang terjadi pada tahun 1513 mengalami kegagalan karena kekuatan dan persenjataan portugis lebih kuat, pada tahun 1527, armada demak di bawaah pimpinan pelatihan dapat mengusai Banten, Suda kelapa, dan Cirebon kemudian menganti nama sunda kelapa menjadi jokyakarta ( Jakarta ).
(2) Perlawanan rakyat Aceh terhadap portugis
Mulai tahun 1554 hingga tahun 1555, upaya portugis tersebut gagal karena portugis mendapan perlawanan keras dari Aceh pada saat Sultan Is Muda berkuasa,Kerajaan Aceh pernah menyerang potugis di malaka pada tahun 1615 dan 1624.


(A) Perlawnan Aceh dengan portugis
Keberhasilan dalam mempertahankan diri menjadikan Aceh menyusun rencana untuk mengusir portugis dari malaka, begitu juga dengan portugis yang mulai tergangngu dengankebesarn kerajaan Aceh, akhirnya meletuskan kerjaan Aceh dengan Portugis. Pertempuran pertama yaitu Aceh menyerang portugis di malaka pada tahun 1547 Aceh berhasil memporak porandakan portugia di malaka tetapi tidak berhasil menguasai malaka karena benteng portugis yang begitu kokoh dan susah dihanjurkan yang bernama benteng Simao de melio.


(B) Akhir dari perang Aceh dan Portugis
Setelah Aceh mengalami kekelahan perang yang betkali-kali membuat Aceh tidak mempunyai pengaruh lagi di perdagan dan pengaruh di kerjaan di tanah melayu dan membuat portugis semakin besar, walaupun Aceh kalah perang dengan portugis tapi Aceh tidak bisa di kuasai oleh portugis.








B. RUMUSAN MASALAH

a. latar belakang apakah yang menyebabkan portugis mundur ke perlhaak
jawab:
Yang menyebabkan portugis mundur adalah usaha yang menghayat Syah untuk menghancurkan kerajaan kerajaan kecil yang berada di tangan portugis, dan portugis yang kualahan menghadapii seraangan Aceh dan aakhirnya Portugis mundur ke Perlhak


b. Apakaah setelah Aceh berhasil menyingkirkan Portugis, Aceh juga menaklukan Johor
Jawab:
Ia Aceh menaklukan Johor Pahang dan Pattani, dengan keberhasilan serangan ini wilayah kerajaan Aceh hampir mencakup Aceh Darussalam.




C. RINGKASAN

Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda ( 1607-1636 ). Pada masa kepemimpinan,Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan portugis dari selat malaka.
Keberhasilan dalam mempertahankan diri menjadikan Aceh menyusun rencana untuk mengusir portugis dari malaka, begitu juga dengan portugis yang mulai tergangngu dengan kebesaran kerajaan Aceh,akhirnya meletuslah perang Aceh dengan portugis.
Sejarah mencatat bahwa,usaha Mughayat Syah untuk mengusir portugis dari
Seluruh bumi Aceh dengan menakluka kerejaan kerajaan kecil yang sudah berada di tangan portugis berjalan lancar. Secara berurutan ,portugis yang berada di daerah Daya ia gembur dan berhasil ia kalahkan. Kemenangan yang berturur turut ini membawa ke untungan yang luar biasa teurtama dalam aspek persenjataan. Portugis yang kewalahan menghadapi serangan Aceh banyak meninggalkan persenjatan, karena memang tidak sempat mereka bawa dalam gerakan mundur pasukan. Senjata senjata inilah yang di gunakan kembali oleh pasukan Mughayat Syah untuk menggupur portugis.
Ketika benteng di pasai telah di kuasai Aceh,portugis mundur ke peurlhak. Namun Mughayat Syah tidak memberikan kesempatan sama sekali pada portugis. Peurlhak juga di serang, sehingga portugis mundur ke Aru. Tak berapa lama, Aru juga berhasil di rebut oleh Aceh hingga akhirnya portugis mundur ke malaka.
















DAFTAR PUSTAKA


Melayu Online
Masa Iskandar Muda, Aceh Sepanjang Abad

MAKALAH SEJARAH ACEH ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SRI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH

MAKALAH SEJARAH ACEH
ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SRI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098 H (1678-1688 M)
DI
S
U
S
U
N
OLEH:
ERNAWATI (1006101050016)
AMI RATU DIANA (1006101050014)
DOSEN PEMBIMBING
Drs.T.Abdullah,SH





PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAh SWT. Karena berkat karunia dan hidayah-Nyalah sehingga makalah yang berjudul “ ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDI INAYAT SYAH ” dapat di selesaikan tepat pada waktunya.
Dalam makalah ini kami mengalami berbagai kesulitan dan hambatan, tetapi dengan niat yang ikhlas serta tujuan untuk yang membangun diri, maka makalah ini dapat kami selesaikan.
Kami menyadari bahwa dalam penyusuanan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran-saran dan kritik yang sifatnya membangundemi kesempurnaan makalah ini.
Ucapan terima kasih Kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu Kami dalam penyusan makalah ini, khususnnya dosen Pembimbing Mata Kuliah.
Harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Robbal alamin ……………..



Banda Aceh, 14 Maret 2011

Penulis
Kelompok 12







DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang……..............................................................................1
B. Rumusan Masalah …………………..........................................................3
C. Tujuan………………………………………………………………………………………………3
BAB II PEMBAHASAN
A. PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098H (1678-1688M)…………………………………………………….4
1. TEGAS MENGHADAPI VOC...........................................4
2. .KEDATANGAN UTUSAN INGGRIS.............................5
3. KEDATANGAN UTUSAN SYARIF MEKKAH............7
4. ZAKIATUDDIN WAFAT.................................................10

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………....11
A. Kesimpulan ...............................................................................11
B. Saran…………………………………………………………...11
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Aceh sebelum di pimpin oleh para Ratu, terlebih dahulu telah ada Undang-Undang Dasar Kerajaan, sebagai penyempurna terhadp peraturan-peratuan yang telah di buat sebelumnya, yang dinamakan Kanun Meukuta Alam , atau disebut juga Adat Mukuta Alam, atau disebut juga Adat Aceh.
Dalam Kanun Meukuta Alam ini, diatur segala hal ihwal yang berhubungan denngan Negara secara dasarnya saja, baik yang mengenai dengan dasar negara, sistem pemerintahan, pembagian kekuasaan dalam negara, lembaga-lembaga dan lain-lainnya.
Pada saat Aceh di pimpin oleh beberapa Ratu selama 59 tahun Aceh sangat maju, dan aceh masih menjadi Kerajan yang terkenal, bhkan Aceh menjalin hubungan dagang yang baik dengan kerajaan-kerjaan yangg lain.
Berdasarkan ketenuan-ketentuan yang telah ada, maka organisasi Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemrintahan para Ratu, adalah sebagai berikut:
a. Betuk dan Dasar Negara
Dalam Kanun Meukuta Alam ditetapkan, bahwa bentuk negara yaitu kerajaan dan dasar negara yaitu islam, yang dapat di jelaskan sebagai berikut:
• Negara berbentuk kerajaan, dimana kepala negara bergelar sultan dan diangkat turun-temurun.
• Kerajaan bernama Kerjaan Aceh darussalam, dengan Ibu Kota Banda Aceh Darussalam.
• Kepala Negara Bergelar sulthan Imam Adil, yang dibantu oleh Sekretaris negara.
• Orang kedua dalam Kerajaan, yaitu KadliMalikul Adil, dengan empat orang. pembantunya yang bergelar Mufti Empat.

b.Negara Hukum
Dalam Kanun Meukuta Alam, bahwa kerajaamn Aceh Darussalam adalah negara hukum yang mutlak sah, dan rakyat bukan patung yang terdiri di tengah padang, akan tetapi rakyat seperti pedang sembilan mata yang amat tajam, laggi besar matanya dan lagi panjang sampai ketimur dan kebarat.
c.Sumber Hukum
Kanun menetapkan bahwa sumber hukum bagi Kerjaan Aceh.
• Al Quran
• As Sunnah
• Ijmak Ulama
• Qias
d.Cap Sikureng
Dalam Kanun ditetapkan, bahwa cap (stempel) Negara yang tertinggi, yaitu Cap Sikureng (stempel sembilan), berbentuk bundar bertunjung keliling ditangah-tengah nama Sulthana yang sedang memerintah, dan kelilingnya nama delapan orang Sultan yang memerintah sebelumnya. Menurut Kanun, bahwa delapan orang sultan dikelilingnya melambangkan empat dasar hukum (qur’an, sunnah, ijmak, ulama dan kias) dan empat jenis hukum (hukum, adat, kanun, dan reusam), yang berarti bahwa sultan Sulthan dikeliling oleh hukum.
e.Lembaga-lembaga Negara
Kanun menetapkan lembaga-lembaga Negara dan pejabat-pejabat tinggi yang memimpinnya, yang ikhtisarnya sabagai berikut:
1. Balai Rong Sari: Lemaga yang dipimpin oleh sulthananya sendiri, yang anggotanya rterdiri dari Hulubalang Empat dan Ulama Tujuh.
2. Balai Majelis Mahkamah Rakyat: Lembaga yang dipimpin oleh Kadlil Malikul Adil, yang anggotanya tujuh ouluh tiga orang
3. Balai Gading: Lembaga yang dipimpin wazir Mu’adhdham Orang Kaya laksamana Sari Perdana Mentri.
4. Balai Furdhah: Lembaga yang mangurus ihwal ekonomi, yang dipimpin oleh Wazir yang bergelar Mentri Seri Paduka.
5. Balai Laksmana: lembaga yang mengurus hal ihwal angkatan perang, yang dipimpin oleh seorang Wazir Laksmana Amirul Harb.
6. Balai Majelis Mahkamah: Lemaga yang mengurus hal ihwal kehakiman/pengadilan, dipimpin olh seorang Wazir yang bergelar Seri Raja Panglima Wazir Mizan.
7. Balai Baitul Ml: Lembaga yang mengurus hal ihwal keuangan dan perendaharan negara, dipimpin oleh serang wazir yang ergelar orang kaya Seri Maharaja Bendahara Raja Wazir Dirham.


B. RUMUSAN MASALAH
• Bagaimana masa Pemerintahan SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH dalam memerintah kerajaan Aceh .


C. TUJUAN
• Untuk mengetahui sejarah perkembangan pemerintahaan pada masa Aceh dipimpin oleh seorang wanita yaitu, Seri Ratu Safiatuddin Inayat Syah.







BAB II
PEMBAHASAN
A.PEMERINTAHAN SERI RATU ZAKIATUDDIN INAYAT SYAH
1088-1098H (1678-1688M)
Sebelum pemakaman Seri Ratu Nurul Alam Nakiatuddin dilaksanakan,terlebih dahulu pada hari Ahad taggal 1 zulka’idah 1088 H. (23 Yanuari 1678 M) dinobatkan penggantinya,yaitu Sulthanah Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah.
Sebagaimana halnya Ratu Safiatuddin telah mempersiapkan Nakiatuddin untuk penggantinya, maka demikian pula sejak semula Ratu Nakiatuddin telah mempersiapkan Puteri Raja Setia untuk penggantinya,yang kemudian setelah dinobatkan bergelar Sulthanah Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah.
Menurut catatan sejarah, bahwa pada hakikatnya Seri Ratu Tujuh Alam Safiatuddin telah mempersiapkan tiga orang Pangeran Puteri untuk menjadi ratu dalam Kerajaan Aceh Darussalam setelah baginda, yaitu Ratu Nakiatuddin, Zakiatuddin dan Kamalat.
Ketiga puteri bangsawan ini telah di didik dalam keraton darut dunia dengan berbagai ilmu pengetahuan : hukum, termasuk hukum tatanegara, sejarah, filsafat, kesusastraan, pengetahuan agama islam, bahasa arab, bahasa persia, bahasa spanyol dan bahasa inggris. Yang mengajar bahasa Spanyol dan Inggris yaitu seorang wanita Belanda yang menjadi sekretariat Baginda.
1. Tegas Menghadapi V.O.C.
Kebijaksanaan politik yang telah dijalankan Ratu Tajul Alam Safiatuddin dan Ratu Nurul Alam Nakiatuddin, terus dijalankan oleh Ratu Zakiatuddin Inayat Syah. Tindakan keras dan tegas terhadap kaum wujudiyah dan dalam politik yang berdiri dibelakang, semakin diperhebat, sehingga tidak diberi kesempatan bernafas kepada mereka. Kepada kongsi perdagangan Belanda (V.O.C.) yang semenjak pemerintahan Ratu Tajul Alam Safiatuddin terus menerus merong-rong kedaulatan Aceh, Ratu Zakiatuddin sama sekali tidak memberi hati, bahkan memperlihatkan giginya.
Di Sumatra Barat dengan segera ratu menunjukkan kekuatannya kembali kpada V.O.C., antara lain dengan menarik kembali daerah Bayang kedalam wilayah Kerajaan Aceh Darussalam. Sikap tegas yang demikian mendapat sambutan hangat dan baik dari rakyat Minangkabau, sehingga menimbulkan kesulitan yang bukan sedikit bagi Melchiol Hurdt sebagai wakil persatuan dagang Belanda (V.O.C) yang berkedudukan di Padang. Dua tahun V.O.C. harus melakukan peperangan yang dahsyat.
Pada saat itu, Ratu Zakiatuddin Inayat Syah tidak mengabaikan segala usaha untuk mematahkan kekuatan persatuan dagang Belanda itu untuk kepentingan dan keselamatan rakyatnya. Dengan semua negara tetangga diikatnya perjanjian persahabatan dan perjanjian saling membantu untuk melumpuhkan kekuasaan Belanda. Hanya Kerajaan Siam yang tidak dapat ditariknya kedalam lingkungan persahabatan.
Di samping menghadapi segala tantangan dengan tegas Ratu Zakiatuddin bertindak cepat memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dayah-dayah yang telah ada dipelihara terus , disamping mendirikan dayah-dayah yang baru, sementara Pusat Pendidikan Tinggi Baiturrahman dikembangan terus dibawah pimpinan Syekh Abdurrauf Syiahkuala dan ulama-ulama lainnya. Menasah dan mesjid dibina dan ditingkatkan fungsinya, sehingga ajaran-ajaran agama islam merata kedalam jiwa rakyat.

2. Kedatangan Utusan Inggris
Kedatangan dari luar negeri bebrapa kali yaitu : dua kali utusan inggris dan sekali utusan Syarif Mekkah. Utusan Inggris datang dari india ditahun 1684. Utusan itu bercerita sampai di India bahwa Sulthanah ini suaranya keras dan badannya tegap.
Utusan Inggris itu yang terdiri dari tuan-tuan ord dan cawley, dari Madras, membawa mandat dari pemerintahan jajahan inggris disana, untuk meminta supaya inggris diberi izin mendirikan kantor dagang yang diperteguh dengan benteng. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Sulthanah. Diceritakan, bahwa pada utusan dinyatakan,
bahwa ratu sendiri pun tidak akan diizinkan mendirikan benteng di Aceh jika membahayakan kepentingan negara. Utusan diterima oleh orang-orang besar bukan oleh ratu sendiri.
Salah seorang Inggris lain melawat ke Aceh disekitar masa Sulthanah ini memerintah, ialah Wiliam Dampier. Antara lain didalam bukunya banyak dibaca didapati kesan-kesannya sepintas lalu Aceh katanya : ”This country is governed by a Queen, under whom there are 12 Orang Kayas or Geat Lords. They act in the several precints with gret power and authority”. (Negeri ini diperintah oleh seorang ratu, dibawahnya 12 orang kaya atau pangeran agung. Mereka menjalankan kekuasaannya dalam bidangnya masing-masing dengan hak dan kekuasaan besar.)
Singkatnya dapat dijelaskan susunan pemerintahan di Aceh seagai berikut: Sulthana memerintahdengan di bantu oleh 12 orang Mentri (dengan berbagai titel: Kadil Malikul Adil, Laksamana, Perdana Mentri, Syahandar dan sebagainya). Masing-masing mentri berkuasa dan bertanggung jawab dilapangannya. Khusus mengenai pemerintahan Aceh Besar, disusun menurut sistem Tiga Sagi. Tiap sagi dikepalai oleh seorang panglima. Tiap Sagi merupakan bagian dari tungku tiga sejerangan, kekuasaannya yang utama adalah untuk menetapkan ahlli waris kerajaan.
Tentang kedatangan utusan inggris itu, Ilyas Sutan Pamenan melukiskan, bahwa mereka meminta izin agar bole mendirikan sebuah kantor dagang dan sebuah Benteng di Banda Aceh. Mereka mengharapkan dengan demikian mendapat imbangan dari kerugian yang tlah mereka derita karena harus meninggalkan Bantam dan Pulau Silebar untuk kepentingan V.O.C. Dengan jalan demikian mereka mengharapkan juga akan mendapat bahagian dalam perdagangan lada di Aceh.
Inayat yang mengtahui benar apa artinya sebuah benteng bagi bangsa asing didalam daerah kerajaannya dengan sangat bijaksana menolak permintaan itu, sambil menyatakan, bahwa biarlah baginda melindungi perdagangan bangsa Inggris di Aceh dengan persenjataan lengkap dan cukuplah bagi mereka mendirikan sebuah kantor dagang saja diplabuhan Aceh.
Orang Inggris tidak jadi tinggal di Aceh, mereka menyingkir pergi ke Bengkulu, hubungan dagang Aceh dengan Batam masih terus berjalan dengan sangat lancar, malah brtambah pesat sejak kapal-kapal Aceh mendapat gangguan dari V.O.C. di perairan sebelah timur Pulau Sumatra. Mereka sejak itu mengambil jalan barat dan tindakan itu bagi V.O.C. menimbulkan soal yang harus dipecahkan pula dan menjadi buah pikiran yang sangat memusingkan.

3. Kedatangan Utusan Syarif Mekkah
Dalam tahun 1683 Ratu Zakiatuddin Inayat Syah menerima utusan Mekkah yang dikirim oleh Syarif Barakat sebagai penguasa Hijaz (Mekkah dan Madinah). perutusan Syarif Mekkah itu berada di bawah pimpinan Yusuf Al Qudsi yang berada di india sampai empat tahun lamanya. Sulthana (India) tidak mau menerimanya, tidak pula tertarik untuk mengetahui bingkisan yang dibawanya, karena itu, siutusan memtuskan sendiri untuk berangkat saja ke Banda Aceh. Setiba di sana dipersembahkan bingkisan tersebut sambil menjelaskan bahwa bingkisan itu adalah kiriman Syarif Barakat, Raja Mekkah, binkisan itu di terima oleh Ratu dengan gembira. Ratu menitahkan supaya utusan tinggal dulu di Aceh, sebab Ratu ingin mengirim bingkisan balasan, dan untuk menyiapkan perlu waktu.
Utusan itu di terima Baginda dengan segala upacara kebesaran, sehinnga menimbulkan perasan puas pada mereka. Sekembalinya utusan dari Mekkah, di sampaikanlah oleh merekakepada Syarif betapa baik dan sempurnanya pemerintahan Raja puteri di Aceh dan betapa patuh dan taatnnya rakyat di situ memeluk agama islam. Rakyat hidup rukun damai., kemakmuran terlihat dimana-mana.
Pada masa pemerintahan Ratu Zakituddin Inayat Syah, tibalah di Banda Aceh perutusan Syarif Mekkah. Untuk menyaksikan apakah benar laporan kaum wujudyiah yang menyatakan bahwa kerajaan Aceh di bawah Pemerintahan Ratu telah jauh menyimpang dari Agama Islam.
Dalam peninjauan para utusan itu ternyata, bahwa kerajaan Acehdarussalam adalah benar-benar Kerajaan Islam yang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan bermahzab Syafi’I. Sulthanah Ratu Zakiatuddin ternyata seorang raja yang taat lagi salih, Ratu beribicara dengan para utusan Syarif Mekkah di belakang tabir dari sutra dewangga dengan bahasa Arab yang pasih. Merek sangat kagum menyaksikan Banda Aceh yang cantik dan permai, segala bangsa berdiam disana, kebanyakan mereka kaum saudagar.
Ketika mendapat kesempatan menghadap sulthanah, keheranan mereka jadi bertambah, dimana mereka dapati tentera pengawal istana terdiri dari perajurit-perajurit wanita yang semuanya mengendarai kuda. Pakaian dan hiasan kuda-kuda itu dari emas, suasa dan perak. Tingkah laku pasukan kehormatan dan pakaian mereka cukup sopan, tidak ada yang menyalahi perturan Agama Islam.
Ketika mereka menghadap sulthanah, mereka dapati Seri Ratu dengan para pembantunya yang terdiri dari kaum wanita, duduk di balik tabir kain sutra dewangga yang berwarna kuning berumbai-umbai dan berhiasan emas permata. Ratu berbicara dengan bahasa Arab yang pasih dengan mempergunakan kata-kata yang diplomatis, sehingga menimbulkan ta’jub yang amat sangat bagi para utusan. Dalam pergaulan dalam istana tidak satu pun mereaka dapati, yang di luar ketentuan ajaran Islam. Mereka masih dapat menyaksikan sisa-sisa kebesaran istan dan masjidBaiturrahim, yang dalam masa pemerintahan Ratu alam di bakar oleh kaum wujudiyah.
Ketika utusan berada disana, terjadilah suatu malapetaka, sebuah gereja terbakar, menyebabakan emas-emas yang tersimpan disana terlebur semuanya brubah bentuknya seperti tubuh manusia.
Ratu lalu memerintahkan supaya emas berbentuk maniusia itu turut di kirim bersama bingkisan untuk Syarif Mekkah. Sebagai tambahan, sulthana mengirim pula jumlah uang sedekah khusus untuk di bagi-bagikan kepada fakir miskin di mekkah.
Setahun lamanya mereka menjadi tamu Kerajaan Aceh Drussalam. Waktu mereka akan pulang, Seri Ratu Zakiatuddin menghadiahkan kepada mereka berbagai rupa benda yang bernilai, di samping menitipkan hadiah kepada Syarif Mekkah, Masjidil Haramdan kepada Masjidil Nabawi di Madinah. Hadiah-hadiah tersebut terdiri dari:
1. Tiga kinthar emas murni yang masih bergumpal-gumpal.
2. Tiga rithal kamfer (kapur barus), kayu cendana dan jeubeut musang (eivet).
3. Tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas.
4. Dua penyondong (lampukaki) dari pada emas.
5. Lima lampu gantung dari pada emas.
6. Lampu kaki dan kandil dari pada emas.
Utusan tiba di Mekkah kembali pada waktu Syarifsai’id telah menggantikan ayahnya menjadi raja. Mereka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 (14 september 1683). Dalam rombongan Syarif yang datang k Aceh itu, ada dua orang Syarif bersaudara, yaitu Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim.
Ketika itu terjadilah pertikaian antara sesama Syarif yang berhak mendapat bagian ¾ dari seluruh hasil di Mekkah pada satu pihak dengan pihak syarif Besar Sa’id. Golongan Syarif-Syarif manuntut supaya ¾ dari bingkisan dari Aceh itu di serahkan ke pada mereka, sedang Syerif sendiri tidak bersedia menyerahkannya. Untuk tidak meruwetkan, diadakan persetujuan sementara, yaitu selama Syarif El Harith, pada akhirnya tercapai persetujuan bahwa golongan pemilik ¾ diserahi ½ dari bingkisan itu, tapi dalam pengertian bahwa itu adalah pemberian dari Syarif Besar kepada mereka,
Demikianlah pembagian dilakukan dan sedekah untuk fakir miskin dibagi-bagikan. Snouck Hurgronje mencacat bahwa ketika utusan Mekkah pulang telah turut juga utusan Aceh ke Mekkah khusus, tugasnya untuk mengawasi pembagian merata dari sedekah-sedekah untu fakir misakin. Selama rombongan mereka berada di Aceh, telah menarik beberapa orang pembesar yang dalam hatinya yang memang anti kepada Raja Wanita.
Dalam menjalankan rencananya, yaitu mentiadakan Dinasti Ratu, mereka melihat dua Syarif bersaudra yang ambisus dapat diajak serta. Karena itu, mereka mengusulkan kepada ketua peutusn agar Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim bolh tinggl di Aceh untuk membantu pengembangan ajaran-ajaran Islam, dimana permintaan di kabulkan,teristimewa karena dua Syarif bersudara telah menyetujuinya karena mereka telah lebih dahulu dihubunginya dengan brmacam janji antara lain, kalau Ratu dapat di jatuh kan oleh seorang diantara mereka akan diangkat menjadi Sulthan.
Demikianlah, pada awal tahun 1094 H. ketua dan para anggota perutusan bertolak kembali ke Mekkah dengan seperangkat hadiah, kecuali yang tinggal Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim. Sekian peristiwa itu, kurang terang apa yang di maksud dengan gereja, sepertinya yang dimaksud itu adalah bukan Gereja tetapi Mesjid Baitu’l-Rahman , yang disebut-sebut pada masa Nuru’l-Alam menjadi rajalah Mesjid besar telah terakar habis, tetapi boleh jadi bukan dimasa Nuru’l-Alam, tapi dimasa Inayat Syahlah mesjid terbakar.




4. Zakiatuddin Wafat
Selama memerintah, Rtu Zakiatuddin telah brbut banyak untuk mempertahankan sisa-sisa kbesaran Aceh. Sekalipun baginda tidak sanggup mengembalikan Aceh kepada martabat sperti di zaman Iskandar Muda, namun baginda tlah dpt memprtahankan keadan Aceh seperti waktu diwarisinya, bahkan dalam beberapa hal dapat di tingkat kan kembali.
Setelah memerintah selama sepuluh tahun, pada hari Ahad tanggal 8 Zulhijjah 1098 H. (3 Oktober 1688 M.), Sulthana Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah berpulang ke Rahmatullah. Sebaik ia meninggal timbul banyak perebutan tahta, golongan pemerintah (para menteri) menginginikan supaya tidak lagi permpuan menjadi raja.
Sebalikny golongan Tiga Sagi ingin supaya perempuan tetap jadi pilihan. Akhirnya Tiga Sagi menang, karena mereka lebih kuat nampaknya, maka diangkatlah lagi seorang puteri bangsawan yang menjadi pemimpin.












BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Pada saat Kerajaan Aceh di pimpin oleh beberapa Ratu selama 59 tahun Kerajaan Aceh sangat maju, dan Kerajaan Aceh masih menjadi Kerajaan yang terkenal, bahkan Aceh menjalin hubungan dagang yang baik dengan kerajaan-kerjaan yang lain.
Zakiatuddin merupakan pemimpin wanita ketiga pada Kerajaan Aceh Darussalam. Ia merupakan anak dari seri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin yang menurut cacatan ayah zakiatuddin adalah Sultan Muhammad Syah.
Pada Saat Kerajaan Aceh di pimpin oleh Seri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah Kerajaan Aceh sangat maju, Ratu Zakiatuddin adalah pemimpin yang taatl dan salih, buktinya ia lebih mementingkan kepentingan rakyatnya, pada saat Pemerintahan jajahan inggris meminta supaya Inggris diberikan izin untuk mendirikan kantor dagang yang diperteguh dengan Benteng, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Ratu dengan alasan dapat membahayakan kepentingan Negara. Ratu Zakiatuddin sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya dan keselamatan kerajaannya. Rakyat pun sangat menghormati pemimpinnya, rayat juga hidup rukun dan damai.

B.Saran
Inilah hasil penulisan makalah kami, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, maka dari itu kami menerima saran dan kritik guna untuk membangun makalah ini, serta agar sempurnanya pembuatan makalah kami selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA
Hasjmy, A. 59 Tahun Aceh Merdeka di bawah Pemerintahan Ratu. Bulan Bintang: Jakarta.
Said mohammad, H. Aceh Sepanjang abad.

ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN SERI RATU NURUL’ALAm NAKIYATUDDIN (1675-1678 M)

ACEH PADA MASA PEMERINTAHAN
SERI RATU NURUL’ALAm NAKIYATUDDIN (1675-1678 M)

TUGAS :
Sejarah Aceh

DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK 5
ANGGOTA :
Siti Nurmala
Eviana Yunita




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2011
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah, rahmat dan karunia-Nya berupa kesehatan dan keselamatan sehinggah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Salawat beriring salam tak lupa saya hanturkan keharibaan junjungan alam Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah memperjuangkan Islam dan membimbing umat manusia menuju jalan yang berilmu pengetahuan.
Ucapan terima kasih tak lupa saya sampaikan kepada Dosen pembimbing yang telah bersedia untuk mengarah kami dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Dalam menyusun makalah ini, tentu saja saya masih banyak kekurangan dan keganjilan baik dalam tulisan maupun bahasa. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan dari semua pihak agar makalah ini nantinya dapat berguna untuk semua dan menjadi titik awal data penulisan.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa yang membacanya.

Banda Aceh, 14 Maret 2011

Penulis
Kelompok 5





DAFTAR ISI

Halaman

1. KATA PENGANTAR i
2. DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 1
1.3. Tujuan Penulisan 1

BAB II PEMBAHASAN 2
2.1. Penobatan seri ratu nurul’Alam Nakiyatuddin 2
2.2. Pembentukan Tiga Sagi 2
2.3. Sabotase Kaum Wujudiyah 4
2.4. Melemahnya Perekonomian pada saat pemerintahan Nurul Alam 4
2.5. Wafatnya Seri Ratu Nurul’Alam Nakiyatuddin 4

BAB III PENUTUP 6
3.1. Kesimpulan 6
3.2. Saran 6
DAFTAR PUSTAKA 7

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sebagai sebuah pemerintahan berbentuk kerajaan, Aceh tempoe doeloe bukan hanya dipimpin seorang raja (sultan), tapi juga sultanah. Hal ini jelas membuktikan bahwa Aceh sangat menjunjung tinggi harkat dan derajat kaum perempuan. Menurut data sejarah tercatat empat perempuan yang berhasil memimpin Aceh Darussalam. Ratu Nurul’Alam dan Ratu Zakiyatuddin Inayah Syah juga Ratu Kamalat Syah, adalah putri dari Seri Ratu Tajul’Alam Shafiyatuddin anak dari suaminya adalah Malik Radiat Syah setelah Sultan Iskandar Tsany, Seri Raja Muhammad Syah Panglima Cut Ooh ada juga yang menyebut namanya Sultan Muhammad Syah.
Anak Seri Raja Muhammad Panglima Cut Ooh yang tertua dari isrinya yang lain (sebelum Seri Ratu Shafiyatuddin) adalah yang diangkat menjadi Panglima sagi XXVI mukim dalam pemerintahan Seri Ratu Nurul’Alam, yang bergelar Seri Imuem Muda Panglima Cut ooh.
Seri Ratu Nurul’alam ahli dalam berbahasa asing yaitu bahasa belanda. Karena dahulu ada seorang wanita Belanda yang menjadi sekretaris di istina bundanya Tajul Alam safiatuddin. Setahun Seri Ratu Nurul’Alam memerintah terjadilah suatu sabotase dikraton Darul-dunia. Dengan terbakar istana seluruh harta kerajaan yang berharga musnah menjadi abu sebab-sebabnya tidak diceritakan, yang jelas diketahui ialah barang-barang pusaka purbakalapun ikut musnah. Balai Peratna sembah dan mesjid Baiturrahim setelah memerintah selama 2 tahun lebih Seri Ratu Nurul’Alam Nakiyatuddin, lalu ia berpulang ke Rahmatullah pada hari Ahad sehari bulan Dzul-qa’idah 1088 H (23 Januari 1678 M).

1.2 Rumusan Masalah
• Bagaimana cara pengangkatan Nurul Alam menjadi pemimpin Aceh?
• Bagaimana terjadinya sabotase dalam pemerintahan Nurul Alam Nakiyatuddin?
• Bagaimana pembentukan Tiga sagi?
• Bagaimana perekonomian pada saat pemerintahan Nurul Alam Nakiyatuddin?
• Bagaimana terjadinya kemunduran Pemerintahan seri Ratu Nurul Alam Nakiyatuddin?

1.3 Tujuan Penulisan
• Menjelaskan cara penggangkatan Nurul Alam menjadi pemimpin Aceh.
• Menjelaskan proses terjadinya sabotase dalam pemerintahan Nurul Alam Nakiatuddin.
• Menjelaskan pembentukan Tiga sagi.
• Menjelaskan perekonomian pada saat pemerintahan Nurul Alam Nakiyatuddin.
• Menjelaskan kemunduran pemerintahan Seri Ratu Nurul Alam Nakiyatuddin.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penobatan Seri Ratu Nurul’Alam Nakiyatuddin
Ratu Tajul alam Safiatuddin wafat pada hari tanggal 1 Sya’ban 1086 H.(23 Oktober 1675 M). Sebelum upacara pemakaman Ratu Tajul Safiatuddin dilakukan terlebih dahulu dilakukan penobatan penggantinya, yaitu Seri ratu Nurul Alam Naqiatuddin, sehingga setelah beliau dilantik lantas dinyatakan bahwa kerajaan berkabung 7 hari berhubung wafatnya Ratu Safiatuddin.
Nurul Alam mendapat kesempatan naik tahta untuk mengatasi suatu perebutan kerajaan yang merasa berhak mewarisi. Selain dari rongrongan penjajah Barat Kristen ( Belanda, portugis dan Inggris), yang tambah menghebatkan lagi, Ratu Nurul’alam yang baru dilantik juga menghadapi grogotan dari tikus-tikus dalam negri yaitu kaum Wujudiyah yang diperalat oleh golongan politik tertentu yang ingin menduduki kursi kesultanan.
Untuk menghadapi rongrongan dalm negri yang semakin terasa, Ratu berusaha memperkuat kedudukannya, atau lebih umum lagikedudukan pemerintahan pusat (kesultanan) antara laindengan mengadakan perubahan-perubahan dalam beberapa pasal kanun Meukuta Alam (Undang-undang Dasar kerajaan).

2.2 Pembentukan Tiga Sagi
Pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada 3 Panglima sagi, Sagi itu berdasar mufakat rupanya seperti tampi yang bersegi 3. Selama tampi ini dalam ikatan satu ia akan dapat member manfaat kepada yang menerlukannya, masing-masing panglima sagi berkuasa penuh. Masing-masing sagi terdiri dari beberapa mukim, yang jumlahnya bergantung dengan banyak mukim yang bergabung. Sagi-sagi itu ialah, pertama bernama 22 mukim, kedua 26 mukim, dan ketiga 25 mukim.
Tentang sasal mula perciptanya system 3 sagi, demikian pula mengenai adanya fungsi irang-orang kaya yang 12, ada berbagai pendapat telah dikemukakan orang asing sebagai reaksinya. Melihat dari segi kemajuan, yang lebih dititik beratkan meninjaunya sebagai kemajuan konstitusonil, pembentukan 3 sagi di aceh Besar dengan pembagian lagi beberapa mukim untuk bawannya adalah suatu contoh dari kemajuan pemerintahannya.
Kedudukan 3 orang Panglima sagi sangat kuat antara lain yang member kata akhir dalam pengangkatan atau pemberhentian seseorang Sulthan, seperti dinyatakan dalam kanun Meeukuta Alam yang telah disempurnakan itu, yang ikhtisarnya :

• Yang berhak memilih dan memahzulkan Sultan yaitu :

a. Seri Imeum Muda Panglima Cut’oh, Panglima XXVI Mukim,

b. Seri Setia Ulama Panglima XXV mukim,

c. Seri Muda Perkasa Panglima Polem, Panglima XXI Mukim,

d. Kadli Malikul Adil, Mufti besar kerajaan.

• Seorang sultan yang akan diangkat berkewajiban membayar :

a. 32 kati mas murni sebagai jinamee,

b. 16.000, - Ringgit uang tunai sebagai dabha.

• Jinamee dan dabha tersebut dibagi kapada :

a. Panglima sagi XXVI Mukim, Panglima Saage XXV Mukim dan Panglima Sagi XXII Mukim, masing-masing 10 kati mas dan lima ribu ringgit,

b. Kadli Malikul Adil 2 kati emas dan seribu ringgit,

• Seorang sulthan baru boleh dan sah dinobatkan,setelah nyata sulthan sebelumnya wafat atau dimakzulkan.

• Daerah-daerah yang langsung dibawah perintah sulthan,yaitu:

a. Daerah keraon Darud-Dunia dan ibu kota Negara Banda Aceh Darussalam,

b. Mukim mesjid Raya,

c. Mukim pagar Aye,

d. Mukim lamsayun,

e. Kampung pandee,

f. Kampung jawa,

g. Kampung pelanggahan,

h. Mukim meraksa.

• Kepala–kepala pemerintahan (Ulebalang,Keujrun dan sebagainya) diluar Aceh Rayek,diangkat dengan sarakata sulthan menurut gelarnya masing-masing,dengan dibubuhi Cap Sikureung (Stempel halilintar).

• Kepala-kepala pemerintahan dalam Aceh Rayek,dipadakan dengan turun temurun,tanpa ada pengangkatan baru.

• Hak otonomi diberi seluas-luasnya kepada semua pemerintah Daerah,termasuk keuangan,kecuali berbagai macam sumber kekayaan yang langsung dikuasai sulthan.

• Urusan luar negri dan pertahanan,semuanya dalam urusan pemerinta pusat (Sulthan).

Pembentukan tiga sagi sudah terjadi pada masa Almarhum Tajul’Alam dengan ini ingin ditunjukkan bahwa Tajul’Alam lah yang membutuhkan sesuatu jaminan untuk mendapatkan dukungan selama memegang tampuk kerajaan. Sistem tiga sagi dibentuk oleh Sultan untuk meneguhkan pengaruhnya atas mereka(Orang-orang besar). Federasi Tiga Sagi diciptakan karena didisak oleh suasana lama sebelum Nurul’Alam, yang gunanya yakni untuk meneguhkan pengaruh Panglima-panglima sagi itu sendiri terhadap sultan dan orang0orang besar 12.
Dmana pemerintahan Nurul’Alam bertambah teguh pengaruh Panglima-panglima sagi, karena mereka berhak menentukan siapa orangnya yang menjadi raja-raja. Dibawah Pemerintahan raja-raja perempuan yang lemah yang telah diperintahkan oleh ulubalang dengan maksud tertentu, maka panglima-panglima Sagi telah juga mendorong kemauannya bahwa setiap penggantian raja haruslah turut ditentukan oleh Panglima-panglima Sagi. Sagi yang tiga ini berikut Ulubalang-ulubalang yang masuk bahwasanya sudah lama diadakan, lama sebelum sultan-sultan praktis ditempatkan dibawah pengawasan mereka.

2.3 Sabotase Kaum Wujudiyah
Usaha-usaha kaum Wujudiyah untuk menjatuhkan Ratu Nurul’Alam Nakiatuddin dengan cara hukum tidak berhasil, karena keTiga Panglima Sagi dan Kadli malikul Adil tetap mempertahankan, teristimewa karena sebagian besar para Ulama, termasuk Kadli Malikul Adil atau Mufti besar sendiri, menyatakan Sah Wanita menjadi kepala Negara.
Karena itu, Kaum Wujudiyah yang diperalat golongan politik tertentu melakukan gerakan gerakan dibawah tanah, antara lain dengan melakukan kampanye gelap bahwa menurut hukum islam wanita tidak boleh menjadi Kepala Negara, disamping mereka melakukan sabotase dan pelanggaran-pelanggaran hukum serta tata tertib.
Demikianlah, setelah setahun Ratu Nurul’Alam memerintah, maka kaum wujudiyah berhasil membekar Ibukota Negara Banda aceh, sehingga Mesjid Jami’ Baiturrahman dan Keraton Darud Dunia terbakar habis, demikian pula bahagian besar dari kota.

2.4 Melemahnya Perekonomian Pada Saat pemerintahan Nurul’Alam
Nurul’Alam sangat sulit untuk memajukan perekonomian rakyat dalam garis besarnya ia mencoba mengikuti jejak Raja Putri Tajul Alam. Tambahan lagi, bermacam-macam cobaan ditimpakan kepada seri Ratu itu. Baru saja ia duduk keatas tahta kerajaan, tiba-tiba terjadi kebakaran yang sangat besar dan maha mengejutkan.
Mesjid Baiturrahman dan Istana Seri Sultan beserta segala isinya, yang berarti tanda-tanda kebesaran Raja habis musnah dimakan api, yang bersimaharajalela dan berkuasa di Banda Aceh beberapa hari lamanya. Segala Tenaga yang dikerahkan untuk memadamkan api itu sia-sia belaka. Sungguh sial raja yang bercita-cita baik untuk rakyatnya itu.
Kebakaran di aceh yang maha dahyat itu turut juga menggemparkan Malaka, yang memuat peristiwa itu dalam tambo kerajaan pada tahun 1677.
Pemerintahan Nurul alam dalam menghadapi bermacam-macam kesulitan dalam membangun kotanya kembali setelah dimusnahkan api itu, member kesempatan yang besar kepada uleebalang-uleebalang Aceh untuk mempertinggi martabat mereka.

2.5 Wafatnya Seri Ratu Nurul’Alam Nakiyatuddin
Sabotase kaum wujudiyah yang menghanguskan istana dan mesjid Baiturrahman serta sebahagian besar kota Banda Aceh, betul-betul telah melumpuhkan pemerintahan Ratu Nurul’Alam Nakiatuddin sehingga segala rencana yang telah dibuatnya menjadi berantakan.
Setelah memerintah selama 2 tahun lebih pada hari Ahad tanggal 1 Zulka’idah 1088 H (1678 M ), Sultanah Seri Ratu Nurul Alam Nakiyatuddin Syah wafat di Banda Aceh.
























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sultanah Naqiatuddin Nurul Alam adalah putri Malik Radiat Syah, yang memerintah setelah mangkatnya Sultanah Safiatuddin. Kepemerintahan Naqiatuddin hanyadua tahun lebih (1675-1678). Namun demikian, ada hal yang sangat fundamental dilakukannya, yakni keberanian mengubah Undang-Undang Dasar Kerajaan Aceh dan Adat Meukuta Alam. Aceh akhirnya dibentuk menjadi tiga federasi yang kemudian lebih akrab dengan sapaan Aceh Lhee Sagoe. Setiap pemimpin sagi disebut Panglima Sagoe (Panglima Sagi). Maksud pemerintahan seperti agar birokrasi tersentralisasi dengan menyerahkan segala urusan kedaerahan (dalam nagari) kepada pemimpin tiga sagi tersebut. Sistem ini pula kemudian diadopsi oleh negara luar, termasuk penjajah Belanda.

3.2 Saran
Setelah adanya makalah yang mengenai pemerintahan yang dipimpin oleh wanita maka kita dapat menyadari bahwa pemerintahan bukan hanya bisa dipimpin oleh seorang sultan. Hal ini jelas membuktikan bahwa Aceh sangat menjunjung tinggi Harkat dan Martabat kaum wanita semoga dengan adanya makalah ini dapat berguna bagi pembaca dan bagi pribadi kami sendiri agar dapat kita contoh semangat perjuangan wanita pada zaman dahulu.

























DAFTAR PUSTAKA

Hasymy, A. 1977. 59 Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu.

Saed, H.M. Aceh Sepanjang Abad.

Djalil, M.J. 2005. Gerak Kebangkitan Aceh. Bandung : CV Jaya Mukti.